BUMDKORPORAT

Dirut Jaktour: Untuk Bersaing Kita Memang Perlu Karakter dan Peremajaan

Direktur Utama PT Jakarta Tourisindo memegang miniatur ondel-ondel di rumah souvenir betawi yang rencananya akan segera diresmikan di Grand Cempaka Business Hotel Jakarta Pusat. (Sigit Artpro)

Jakarta Review – Industri perhotelan Indonesia terutama di Jakarta kini kian ramai disesaki oleh pemain baru. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh konsultan properti Colliers International hingga akhir tahun lalu, jumlah kamar hotel di Jakarta menunjukkan peningkatan sebanyak 2.046 unit, yang menambah jumlah kamar hotel berbintang di Jakarta menjadi 38.923 unit.

Direktur Utama PT Jakarta Tourisindo Emeraldo B Parengkuan mengatakan pertumbuhan jumlah hotel baru yang semakin pesat ini menjadikan persaingan untuk meraih pelanggan menjadi semakin ketat. Di tengah persaingan yang ketat tersebut, maka diperlukan adanya faktor yang membuat satu hotel memiliki karakter tersendiri saat disandingkan hotel-hotel lainnya.

“Akan ada 20-30 hotel baru di Jakarta pada tahun 2019, jadi untuk memenangkan persaingan diperlukan ciri khas atau karakter yang menonjol dari sebuah hotel,” kata Emeraldo dalam sebuah talk show bertema “Peluang dan Tantangan Penerapan Budaya Betawi dalam Bisnis Perhotelan di Jakarta” 19 Juni 2017 di Grand Cempaka Business Hotel Jakarta.

Menurutnya sebagai hotel milik Pemerintah Provinsi DKI, pihaknya memang harus memberikan identitas yang berbeda. Pasalnya selama ini ada stigma negatif kepada hotel yang dimiliki oleh BUMD dan BUMN.

“Sekarang pertumbuhan hotel sudah banyak. Yang ditawarkan juga sama saja yaitu kamar tidur, restaurant dan ruang meeting. Jadi kita memang perlu karakter dengan mengedepankan nuansa betawi ini sebagai pembeda, kalau tidak kita akan tergilas oleh persaingan,” tuturnya.

Ia menambahkan sering dengan mengusung karakter nuansa betawi tersebut, peremajaan fasilitas hotel yang ada di Grand Cempaka Businnes Hotel juga perlu dilanjutkan. Itu makanya selama setahun terakhir ini Grand Cempaka Business Hotel terus-menerus melakukan peremajaan antara lain pengecatan ulang gedung dan renovasi 30 unit kamar yang tersebar di 2 lantai hotel.

Kedepan lanjut Emeraldo secara bertahap, kami juga akan melakukan peremajaan 45 unit kamar lagi yang tersebar di 3 lantai. Dana yang diperlukan sekitar Rp.6 miliar dan akan kita ajukan di APBD Perubahan.

“Saya selalu bilang ke BPKAD. Kalau hotel yang dijual adalah fasiitas dan pelayanan. Ini supaya kami bisa bersaing dan tidak tertinggal dalam persaingan. Makanya saya perlu modal untuk perbaikan,” cetusnya.

Sekedar informasi pangsa pasar pemerintahan (kementerian atau lembaga negara) beberapa tahun lalu adalah pangsa pasar terbesar Grand Cempaka Business Hotel Jakarta. Sekarang kondisinya sudah jauh menurun. Nah untuk menggantikan pasar pemerintahan tersebut, harus dicari dari segmen lain seperti korporasi, individual. Persoalannya kedua segmen ini peka. Kalau nggak sesuai harapan mereka akan komentar. Sementara pemerintahan nggak begitu. Karena itu untuk menjangkaunya mau nggak mau kita harus melakukan pemermajaan hotel. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close