BUMDKORPORAT

Juni, Jakgrosir Kramat Jati Operasional

Ketua Badan Pengawas PD Pasar Jaya Handaka Santosa berfoto bersama Direktur Keuangan Ramses Butar Butar, Direktur Teknik Adi Wijaya dan perwakilan pedagang usai ground breaking Pusat Perkulakan ‘Jakgrosir di Pasar Induk Kramat Jati (18/4/2017). Sigit Artpro

Jakarta Review – Setelah tertunda beberapa kali PD Pasar Jaya akhirnya memulai pembangunan pusat perkulakan “Jakgrosir” di Pasar Induk, Kramat Jati, Jakarta Timur. Pembangunan ditargetkan selesai dalam kurun waktu sebulan kedepan dan setelah itu Pusat perkulakan pertama di Jakarta tersebut akan operasional 8 Juni 2017 mendatang.

Direktur Teknik PD Pasar Jaya, Adi Wijaya mengatakan, Jakgrosir akan berdiri di lahan seluas 3800 meter persegi. Material bangunan akan menggunakan konstruksi baja ringan.

“Kita akan bangun 1,5 lantai. Bagian bawahnya full untuk grosir dan lantai mezanin untuk pedagang kuliner,” ujarnya saat acara peletakan batu pertama dimulainya pembangunan pusat perkulakan di Pasar Induk Kramat Jati, Selasa (18/4).

Adi menambahkan bagian mezanin rencananya dapat menampung sekitar 20 pedagang kuliner. Nantinya, pedagang kuliner akan dipilih dari pedagang di area Pasar Jaya dengan tentunya dilakukan seleksi untuk menjamin kualitas makanan. Sedangkan grosir di lantai dasar akan menyediakan sembilan bahan pokok, dengan varian produk berkisar antara 2.000-5.000 produk.

Selain itu, untuk mendukung kegiatan grosir, nantinya Jakgrosir akan dilengkapi loader dan area parkir. Sedangkan untuk cold storage akan ditempatkan di area agro store.

“Mesin CAS (controlled atmosphere storage -red) saat ini masih dalam proses pengadaan. Target kita 8 Juni grosir sudah beroperasi,” tuturnya.

Konsep Terobosan

Adi menambahkan konsep yang ditawarkan pada Jakgrosir sejatinya adalah sebuah terobosan baru dalam upaya menciptakan kestabilan harga dan jaminan pasokan ketersediaan barang.

“Dengan perkulakan akan tercipta ketersediaan jaminan pasokan dengan kualitas yang baik dan kestabilan harga,” jelasnya.

Selama ini, sejumlah harga kebutuhan dijual mahal akibat telah mengalami perpindahan tangan beberapa kali. Mulai dari petani, tengkulak kecil, tengkulak besar. Para tengkulak itu membeli komoditi dari petani dengan harga murah kemudian dijual ke pasaran dengan harga tinggi. Hal ini, tentu saja merugikan baik bagi petani maupun masyarakat sebagai konsumen.

“Sesuai tujuan dari Jakgrosir, kami ingin memangkas rantai perdagangan dari produsen ke pedagang eceran dan masyarakat. Selama ini, harga komoditi masih dikendalikan para tengkulak sehingga harga jual menjadi mahal,” pungkasnya. (win)

 

Tags

Artikel Terkait

Close