BUMDKORPORAT

Poin Utama Keterlibatan PD Pasar Jaya dalam FJGS adalah Upaya Stabilisasi Harga

Masyarakat sedang antri membeli berbagai paket sembako yang dijual digerai FJGS yang ada di Pasar Jatinegara. (Dok PD Pasar Jaya)

Jakarta Review – Target nilai transaksi senilai Rp 28 miliar dari keikutsertaan 40 pasar tradisional dalam Festival Jakarta Greate Sales (FJGS) tampaknya sulit tercapai. Pasalnya sampai dengan 22/6/2017 atau sehari jelang libur lebaran, nilai transaksi yang diraih baru mencapai Rp.2 miliar dan pelaksanaan FJGS akan berakhir pada 12/7/2017.

“Ya target transaksi untuk tahun ini tampaknya sulit tercapai, pasalnya pertanggal 23/6/2017 lalu nilai transaksi baru mencapai Rp.5,58 miliar,” ujar Direktur Usaha dan Pengembangan PD Pasar Jaya Anugrah Esa kepada Jakarta Review (27/6/2017)

Menurutnya penurunan nilai transaksi tersebut lanjutnya disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, lahirnya Peraturan Menteri Perdagangan mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beberapa sembako seperti minyak dalam kemasan, gula pasir dan daging beku di semua retail modern. Kebijakan ini telah menyebabkan masyarakat memiliki pilihan lain untuk memperoleh sembako tersebut selain di pasar tradisional.

Kedua, penyerapan program pangan murah yang sangat masif melalui KJP oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Melalui program ini masyarakat pemegang KJP, anggota PPSU dan penghuni rusun bisa membeli beberapa sembako seperti daging, telur ayam dan beras dengan harga murah.

“Jadi dua kebijakan itulah yang mempengaruhi penurunan nilai transaksi kami di FJGS. Jadi bukan karena libur lebaran. Pasalnya dua kebijakan tersebut tahun lalu belum ada,” tutur Esa menambahkan.

Namun demikian lanjut Esa inti dari keterlibatan PD Pasar Jaya dalam FJGS adalah upaya untuk mendorong terciptanya stabilisasi harga. Ini sesuai dengan tupoksi PD Pasar Jaya yang ketiga yaitu mendorong terciptanya stabilisasi harga.

“Alhamdulillah tahun ini harga sembako cenderung lebih stabil dibandingkan dengan tahun lalu dan untuk itulah kami hadir, karena itu kami tak terlalu risau jika target transaksi tidak tercapai,” cetusnya.

Sinergi positif Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

Tak hanya dua kebijakan tersebut, tahun ini pemerintah pusat juga sangat aktif dalam mendorong terciptanya stabilisasi harga bahan pokok di tengah masyarakat. Ini misalnya dapat dilihat dari adanya satgas pangan yang turun aktif ke pasar-pasar tradisional.

Ini masih ditambah dengan sinergi semua pihak yang berkepentingan dalam upaya menghadirkan stabilisasi harga di tengah masyarakat.

“Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Bulog, Polri, Bank Indonesia hingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui BUMD Pangannya (PD Pasar Jaya, PT Food Station, dan PD Dharma Jaya) bahu-membahu mendorong stabilisasi harga,” tandasnya. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close