BIROKRASI

Belum Dibayar BPJS, Belasan RSUD DKI Pinjam Uang ke Bank

RSUD Pasar Rebo Jakarta Timur, salah satu RSUD di Jakarta yang mengalami tunggakan dari BPJS Kesehatan. (Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Guna memulihkan kondisi finansial Rumah Sakit Umum Daerah, Pemprov DKI Jakarta akhirnya memilih opsi meminjam uang ke Bank DKI. Saat ini belasan RSUD di DKI Jakarta belum mendapatkan pembayaran klaim ke BPJS Kesehatan.

Sebelumnya ada dua opsi yang ditawarkan dalam rapat Banggar beberapa hari lalu adalah, pertama RSUD bisa meminjam uang dari Bank DKI atau bank lain sebagai talangan sementara, selama BPJS belum membayarkan klaim. Kedua, dengan memberikan bantuan melalui dana APBD DKI ke rumah sakit untuk biaya operasional.

Sekretaris Daerah (Sekda) DKI, Saefullah mengatakan karena Kebijakan Umum Perubahan Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUPA-PPAS) DKI 2018 sudah disepakati Banggar dan TAPD DKI, maka opsi kedua yakni memberikan bantuan dengan dana APBD ke rumah sakit tidak bisa dilakukan.

“Ya kita sepakat, ini merupakan tanggung jawab dari BPJS Kesehatan. Kita tidak mungkin mengambil alih tanggung jawab itu. Karena itu bukan tanggung jawab kita. Pembicaraan dengan DPRD DKI sudah maksimal,” kata Saefullah kepada Beritasatu.com, Sabtu (22/9).

Namun, Pemprov DKI tidak bisa tinggal diam melihat kesulitan yang dialami belasan RSUD ini. Karena klaim yang tidak dibayarkan cukup besar, sehingga mereka tidak bisa membeli obat-obatan dan membayar remunerasi para tenaga medis, khususnya dokter.

Kalau kondisi ini dibiarkan tanpa ada jalan keluar, maka dikhawatirkan pelayanan kesehatan di DKI Jakarta akan terganggu. Akibatnya, warga Jakarta yang dirugikan.

“Kemudian saya kumpulkan RSUD yang klaimnya belum dibayarkan BPJS Kesehatan. Kita rapat bersama. Mereka akhirnya setuju untuk meminjam kepada Bank DKI,” ujarnya.

Pinjaman uang ke Bank DKI dilaksanakan dengan tata cara peminjaman uang untuk bisnis di dunia perbankan. Hanya saja, bunganya diperkecil menjadi 7,5 persen dari awalnya sekitar 10-12 persen per tahun.

“Yang bisa kita bantu adalah menekan pinjaman bunganya, jadi 7,5 persen per tahun. Dan itu boleh. Yang jelas Bank DKI tidak rugi walaupun kecil bunganya, dan RSUD tertolong. Jadi dalam pinjam meminjam ini saling menguntungkan,” terangnya.

Dengan demikian, RSUD bisa membeli perlengkapan pelayanan kesehatan, obat-obatan dan membayar remunerasi para tenaga medis. Meski harus membayar bunga pinjaman dengan uang sendiri, tetapi pihak RSUD tersebut lega dengan adanya jalan keluar tersebut.

“Jadi itu solusi yang kita berikan saat ini. Meski mereka bayar bunga pakai uang sendiri, mereka sudah happy karena ada solusi. Kita akan monitor kesulitan-kesulitan mereka. Jangan sampai layanan kesehatan di Jakarta terganggu dengan adanya permasalahan ini,” terangnya.

Sumber: BeritaSatu.com

Tags
Close