BIROKRASI

Pedagang Buah Pasar Induk Kramatjati Minta Pemerintah Segera Klarifikasi Isu Rockmelon

Ilustrasi pedagang buah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Pedagang buah di Pasar Induk yang dimiliki oleh PD Pasar Jaya ini mengeluh terkena imbas pemberitaan masuknya buah Rockmelon dari Australia. Pasalnya pembeli tidak memperdulikan jenis melon apapun. (Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Awal bulan Maret 2018, Badan Karantina Pertanian mengeluarkan surat edaran mengenai kewaspadaan dan pengawasan terhadap masuknya buah Rockmelon dari Australia.

Seorang pemasok melon lokal, Suwaji (60) mengeluhkan imbas dari pemberitaan tersebut yang sangat besar bagi para penjual melon di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Akibat berita itu, imbasnya kesemua melon yang ada di pasar. Pembeli tidak perduli melon jenis apa, pokoknya semua melon mereka hindari,” ungkap Suwaji di lokasi, Senin (12/3/2018).

Ia merasa sedih karena penjualannya sangat turun drastis hingga 80 persen.

Sebelum berita Rockmelon muncul, Suwaji bisa menjual satu ton dalam sehari, namun saat ini untuk menjual dua kuintal saja sangat sulit.

“Itu kan kasusnya di Australia, korbannya juga disana, melonnya juga bukan melon oren tapi melon Cantaloupe. Memang warnanya oren, tapi beebeda, ini melon lokal, enggak bahaya,” papar Suwaji.

Ia menekankan bahwa melon lokal yang dijual Indonesia sangat aman dan meminta pemerintah untuk segera bertindak tegas terhadap isu ini.

“Saya berharap pemerintah secepatnya bisa mengklarifikasi dan meredam isu ini, supaya masyarakat bisa tenang dan mau mengkonsumsi buah melon lagi,” ujarnya.

Selain itu, harga melon pun turun menjadi Rp 10.000 perkilo gram yang sebelumnya dibandrol Rp 14.000.

Walaupun harga sudah diturunkan, tetap saja pembeli masih enggan untuk membeli dan mengkonsumsinya.

“Segala cara sudah kita coba, meyakinkan pembeli, menurunkan harga, tetap saja enggak ada efeknya sebelum pemerintah yang angkat bicara,” ungkap Suwaji.

Sumber: Wartakota

Tags

Artikel Terkait

Close