BIROKRASIMEGAPOLITAN

Dukung Commuter Line, DKI Rencanakan Beli KRL TransJakarta

Suasana commuter line pada jam padat. (youtube)

Jakarta Review – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mewacanakan untuk melakukan pengadaan kereta Transjakarta. Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah mengatakan kereta ini akan dioperasikan PT KAI seperti commuter line.

Saefullah mengatakan program ini karena PT KAI masih kekurangan kereta.

“Jadi ini yang commuter juga. Realitanya saat ini transportasi KRL setiap pagi yang mau ke Jakarta dari Bogor, Depok, itu luar biasa padatnya,” ujar Saefullah di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (10/4/2017).

Saefullah menggambarkan kondisi kereta yang berdesakan pada jam sibuk. Pemprov DKI merasa memiliki tanggung jawab atas hal ini. Sebab, kata Saefullah, kebanyakan penumpang KRL adalah para pekerja di Jakarta. Pajak yang dibayar oleh mereka digunakan untuk membangun Jakarta.

“Pajak-pajak itu yang diambil oleh Pemprov DKI menjadi APBD. Jadi mereka itu punya kontribusi,” ujar Saefullah.

Jika program ini jadi direalisasikan, Saefullah mengatakan anggaran yang dibutuhkan kemungkinan mencapai Rp 360 miliar untuk pengadaan 6 kereta. Namun, anggaran ini belum dianggarkan pada APBD DKI 2017.

Saefullah mengatakan Badan Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa (BPPBJ) harus melakukan lelang terlebih dahulu.

“Ini bisa kita alokasikan di APBD perubahan atau nanti di penetapan APBD 2018. Jadi ini tidak dapat serta merta, karena uang banyak jadi harus betul-betul perencanaannya teralokasi dari awal,” ujar Saefullah.

Dukung Kereta Bandara

Direktur Utama PT Transjakarta, Budi Kaliwono, mengatakan kereta Transjakarta rencananya akan beroperasi pada rute menuju bandara. Budi mengatakan, rencana itu berawal dari komunikasi Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono dengan pihak PT KAI.

“Dibuka wacana untuk DKI berinvestasi di kereta api dalam rangka mendukung kereta bandara,” kata Budi di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Selasa (11/4/2017).

Budi mengatakan rencana awalnya ada lima set kereta yang akan dibeli. Satu set kereta membutuhkan anggaran sekitar Rp 75 miliar. Itu berarti butuh anggaran Rp 375 miliar untuk membeli 5 set kereta tersebut. Budi mengatakan spesifikasinya akan mengikuti ketentuan dari PT KAI.

“Pemprov kan mau beli baru biasanya. Lebar relnya sama cuma kami ikut aturan aja,” ujar Budi.

Budi mengatakan pihaknya akan segera menjajaki kerjasama dengan PT KAI itu. Sebagai BUMD, PT Transjakarta akan memberikan masukan dari Pemprov DKI sebagai pemegang saham. Namun, konsep kerjasama antara PT Transjakarta dan PT KAI belum bisa ditentukan. Hal itu akan ditentukan lebih lanjut.

“Apakah kami sebagai operator atau investasi itu yang kami akan jajaki karena sebagai PT kan harus hitung-hitungan,” kata Budi.

Sumber: Kompas.com

 

Tags

Artikel Terkait

Close