HUKUM

BPOM Jatuhkan Sanksi Pada 2 Produsen Suplemen DNA Babi

Konferensi Pers BPOM soal Penarikan Peredaran Viostin DS dan Enzyplex di Kantor BPOM , Jakarta Pusat, Senin (5/2). (Liputan6.com)

Jakarta Review, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengklaim telah memberikan sanksi tegas kepada produsen suplemen Viostin DS dan Enzyplex yang terbukti mengandung DNA babi.

Kepala BPOM, Penny K. Lukito menyebut pihaknya juga sudah memerintahkan produsen agar menghentikan proses produksi.

“Langkah-langkah pemberian sanksi sebagai tindak lanjut dari temuan post market itu sudah kita lakukan. Ke depan tentunya akan terus kita perbaiki hal yang terkait pengelolaan hasil uji yang menunjukkan tidak memenuhi syarat akan kita perketat,” kata Penny dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPOM, Jakarta Pusat, Senin (5/2).

“BPOM bahkan telah mencabut nomor izin edar kedua produk,” imbuhnya.

Penny tidak merinci sampai kapan pencabutan izin edar terhadap Viostin DS dan Enzyplex akan dilakukan.

“Tapi kalau mengacu ke bahan pangan, masa evaluasi sampai bisa di-register kembali mencapai 3 tahun, di obat bisa juga seperti itu,” ujarnya.

Sebelumnya, gaduh soal suplemen Viostin DS dan Enzyplex tablet muncul Januari 2018 lalu. Sebuah surat dari Balai Besar POM Mataram kepada Balai POM di Palangka Raya, Selasa (30/1) yang mengungkap kandungan babi di kedua suplemen, viral. BPOM membenarkan bahwa sampel produk yang dimaksud adalah Viostin DS produksi PT. Pharos Indonesia dan Enzyplex tablet yang diproduksi PT Medifarma Laboratories.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, yang juga hadir dalam konferensi pers tersebut mengatakan, sanksi kepada produsen tidak cukup hanya pencabutan izin edar. Sesuai Undang-Undang Perlindungan Konsumen, kata Tulus, produsen harus memberikan kompensasi kepada konsumen yang sudah kadung membeli.

“Bahkan ini sudah masuk kasus pidana karena pelanggarqn UU, harus ada tindakan pro justisia dari polisi,” ujarnya.

Sumber: Beritasatu.com

Tags
Close