HUKUMKRIMINAL

Polisi Ungkap Penjualan Satwa Liar di Jakarta Barat

Penangkaran hewan ditangani BKSDA

Jakarta Review – Jajaran Polres Metro Jakarta Barat berhasil membekuk kelompok penjualan satwa liar secara ilegal dengan menggunakan media sosial.  Komplotan ini diduga merupakan pemain lama dan dalam tahap pengembangan.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Edy Suranta Sitepu dalam keterangan pers di halaman kantornya mengungkapkan,  ada 5 orang yang dijadikan, yakni AS (15), CM (18), ES (20), SR (18), SS (25). Kelimanya dibekuk dari tiga lokasi di Jakarta Barat: Jalan Raya Tomang,  Jalan Kapuk Raya,  dan Jalan S Parman, Slipi, Palmerah.

“Transaksi penjualan menggunakan ojek online.  Pengirimannya itu menggunakan ojek online dengan membungkus satwa dengan kemasan yang tidak mencurigakan seperti dilapisi kain atau dimasukan ke dalam kardus,” sebut Edy, Selasa (31/7/2018) di halaman Polres Metro Jakarta Barat dengan didampingi oleh tim dari jajaran Balai Konservasi Sumber Daya Alam  (BKSDA) DKI Jakarta.

Dirinya menambahkan,  dari komplotan ini diamankan sejumlah satwa liar berupa 2 ekor burung elang brontok fase terang, 4 ekor burung alap-apal kawah, 1 ekor burung elang laut, dan 1 ekor buaya muara.  Serta,  menyita uang tunai Rp 2,1 juta hasil penjualan hewan tersebut.

“Ini merupakan komplotan dan rekomendasi dari member lama.  Ada rekening penampung dengan tujuan pembeli dan penjual tidak saling mengenal.  Satwa yang dijual dengan harga Rp400 ribu-Rp 20 juta,” ujarnya.

“Diduga komplotan ini sudah lama beroperasi dan membeli dari pengepul dan daerah-daerah yang ada hutannya.  Sedangkan pembelinya juga diduga dari seluruh Indonesia. Kita sedang dalami, ” tambah Edy.

Para pelaku kini ditahan dan akan menjalani proses tuntutan hukum lantaran dianggap melanggar pasal 40 ayat (2) jo 21 ayat (2) huruf (a) Jo pasal 33 ayat (3) UU Nomor 5  Tahun 1999 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Sementara Kepala BKSDA DKI Jakarta,  Ahmad Munawir menduga, masih terdapat transaksi jual-beli satwa di sejumlah daerah. Terutama warga yang berdomisili di sekitar hutan belantara, sesuai habitat satwa.

“Kebanyakan pembeli adalah kolektor hewan langka dan liar,” tunjuknya.

Kepala BKSDA DKI Jakarta Ahmad Munawir saat memberikan keterangan/ foto: jakrev.com

Ahmad menambahkan, satwa liar yang ditahan tersebut akan dikirim ke tempat-tempat penangkaran milik BKSDA DKI Jakarta.  Sebagian dititipkan ke Pusat Penyelematan Satwa Tegal Alur, Kalideres,  Jakarta Barat.

Dirinya menambahkan,  bila mau merawat dan memelihara satwa liar, masyarakat bisa melakukan pemeliharaan sendiri,  bila memenuhi kriteria dan aturan.

“Asalkan punya kemampuan, sarana dan prasarana memadai. Serta mengantongi izin BKSDA. Jika tidak punya keahlian tapi memelihara, maka terjerat hukum,” tutup Ahmad. (Nap)

Tags

Artikel Terkait

Close