BIROKRASIMEGAPOLITAN

November 2016, Inflasi DKI Jakarta Tetap Stabil

Kepala Kantor Perwakilan BI Jakarta Doni P Joewono. (Alif)
Kepala Kantor Perwakilan BI Jakarta Doni P Joewono. (Alif)

Jakarta Review – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta melaporkan, inflasi DKI Jakarta masih bergerak stabil. Inflasi DKI Jakarta pada November 2016 tercatat 0,24 persen secara bulanan (mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,47 persen (mtm).

“Perkembangan tersebut relatif stabil, baik dibandingkan bulan sebelumnya maupun rata-rata inflasi bulan November dalam lima tahun terakhir,” kata Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta Doni P Joewono dalam keterangan resmi seperti dikutip Kompas.com, Kamis (1/12/2016).

Laju inflasi DKI Jakarta mencapai 2,09 persen (ytd), lebih rendah dari nasional yang sebesar 2,59 persen (ytd).

Relatif stabilnya inflasi Jakarta pada bulan November 2016 didukung oleh inflasi kelompok inti yang bergerak stabil sejak awal tahun 2016.

Kelompok administered prices (komoditas yang harganya dikendalikan oleh pemerintah) pada bulan November 2016 juga bergerak relatif stabil, setelah sebelumnya mengalami kenaikan cukup tinggi.

Kenaikan harga pada BBM nonsubsidi (pertamax dan pertamax plus) per 16 November 2016 telah menyebabkan inflasi komoditas bensin sebesar 0,41 persen (mtm).

Selain itu, kenaikan cukai rokok secara berkala yang dilakukan semenjak awal tahun 2016, juga turut menyebabkan inflasi pada rokok kretek sebesar 0,98 persen (mtm).

Sementara, deflasi terjadi pada subkelompok transportasi, yaitu deflasi angkutan udara sebesar 1,76 persen (mtm) dan deflasi tarif kereta api sebesar 0,75 persen (mtm).

“Tidak adanya faktor musiman sepanjang November 2016 ikut mendukung pencapaian inflasi administered price yang stabil,” jelas Doni.

Inflasi kelompok volatile food tercatat cukup tinggi. Inflasi terutama disebabkan kenaikan harga komoditas hortikultura (sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan), yaitu cabai merah, bawang merah dan tomat sayur.

Ketiga komoditas tersebut masing-masing tercatat mengalami inflasi sebesar 22,06 persen (mtm), 16 persen (mtm) dan 17,51 persen (mtm).

Anomali cuaca La-Nina yang menyebabkan hujan berkepanjangan, telah mengganggu produktivitas komoditas hortikultura di berbagai sentra di Indonesia.

Doni menyatakan, inflasi pada periode Desember 2016 mendatang diperkirakan meningkat sesuai dengan polanya.

Masuknya Hari Natal serta tahun baru 2017 menjadi pendorong permintaan pada Desember 2016 terutama untuk komoditas yang tergabung pada kelompok inflasi inti, antara lain makanan jadi dan sandang, serta kelompok administered prices terutama transportasi. (kompas.com)

Tags

Artikel Terkait

Close