DIDAKTIKA

Posisi Indonesia sangat Vital dalam Konektivitas Maritim dan ASEAN

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan, Prof Sjarief Widjaja menerima plakat dari Head of CAPRS, Yuliana R. Prasetyawati saat memberikan kuliah umum yang bertajuk Konektivitas Maritim dan ASEAN kepada ratusan mahasiswa, manajemen dan dosen di Prof. Djajusman Auditorium & Performance Hall – LSPR Campus B, Jl. K.H.Mas Mansyur Kav 35, Jakarta. (Dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan, Prof Sjarief Widjaja hadir di London School of Public Relations – Jakarta (LSPR) pada tanggal 12 November 2018. Pejabat teras Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut hadir untuk memberikan kuliah umum yang bertajuk Konektivitas Maritim dan ASEAN kepada ratusan mahasiswa, manajemen dan dosen di Prof. Djajusman Auditorium & Performance Hall – LSPR Campus B, Jl. K.H.Mas Mansyur Kav 35, Jakarta.

Selain itu Prof Sjarief Widjaja juga hadir untuk memberikan kuliah umum dalam acara ASEAN Talk, sebuah forum diskusi rutin yang diadakan oleh Pusat Kajian ASEAN Public Relations (Center for ASEAN Public Relations Studies) atau biasa disebut CAPRS. Center for ASEAN Public Relations Studies (CAPRS) didirikan sejak 13 Oktober 2014.

Dalam pemaparannya Syarief mengatakan mengenai potensi sumber daya kelautan Indonesia bahwa 80% industri dan 75% kota besar di Indonesia berada di wilayah pesisir serta cadangan minyak bumi 9,1 miliar Barel di laut. Ia juga menjelaskan bahwa Indonesia dikenal sebagai Marine Mega Biodiversity terbesar di dunia karena 5.500 spesies ikan (37% dari spesies ikan dunia), 555 spesies rumput laut dan 950 spesies biota terumbu karang.

Yang patut dicatat lanjut Syarief, potensi perikanan Indonesia meningkat seiring dengan kegiatan pemberantasan kapal asing pencuri ikan yang terus dilakukan. Pada tahun 2013 potensi sumberdaya perikanan tangkap laut sekitar 6,5 juta ton dan pada tahun 2017 naik menjadi 12,54 juta ton.

“Ini merupakan salah satu dampak positif dari perginya kapal-kapal asing itu dan  memberikan kesempatan bagi  ikan untuk kembali regenerasi,” ujarnya.

Syarief menegaskan bahwa dari 47 pelabuhan yang akan dikembangkan untuk konektivitas ASEAN di Asia Tenggara, sebanyak 14 pelabuhan terletak di Indonesia.

“Ini berarti  sebanyak 29,7% dari berbagai pelabuhan yang tergabung dalam skema pelabuhan konektivitas untuk kawasan ASEAN terdapat di Indonesia sehingga harus ditingkatkan kesiapan dan daya saing dari berbagai pelabuhan tersebut. Empat belas pelabuhan itu anatara lain Belawan, Dumai, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak dll,” paparnya.

Syarief menambahkan Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong kearifan lokal dalam mengelola potensi perikanan di Indonesia, sebagai contoh Pemerintah Daerah di Bali membuat Peraturan Pemerintah (Perda)  mengenai ikan-ikan yang dilindungi, sedangkan  Pemerintah Daerah di Jawa Tengah dan Lampung Timur membuat Perda mengenai Rajungan.  Selain itu KKP juga mendorong mahasiswa LSPR yang hadir untuk mau menjadi wirausaha-wirausaha dibidang perikanan guna mendorong pemanfaatan potensi perikanan Indonesia

Head of CAPRS, Yuliana R. Prasetyawati mengatakan tujuan CAPRS menggelar ASEAN Talks dengan topik konektivitas maritim dan ASEAN ini adalah sebagai wujud dukungan kepada visi pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim.

“Sebagai Perguruan Tinggi yang memiliki kompentesi dalam bidang komunikasi maka LSPR melalui CAPRS tertantang untuk berkontribusi mengedukasi masyarakat agar lebih memahami mengenai potensi maritim Indonesia dan menjadikan budaya Maritim sebagai budaya bangsa Indonesia,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, konektivitas adalah faktor kunci penting untuk mempercepat integrasi ekonomi antara negara-negara anggota ASEAN. Salah satu capaian kerjasama ASEAN dalam bidang maritim adalah telah dibuatnya Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) pada tahun 2010 dan diaplikasikan pada tahun 2016 sampai 2025 berupa pembangunan infrastruktur dan fasilitas maritim. Oleh karena itu, perlu mensinergikan infrastruktur regional dengan membuat perencanaan antara negara-negara anggota ASEAN. (win)

Tags
Close