NASIONAL

Menperin: Indonesia Tinggalkan Ekspor Bahan Mentah Sebagai Sumber Pertumbuhan

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (Dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Indonesia akan kembali menjadikan industri manufaktur sebagai sumber terbesar pertumbuhan ekonomi, ketimbang terus bergantung pada ekspor bahan mentah yakni sumber daya alam, namun perlu penyempurnaan kebijakan pengembangan teknologi dan kualitas sumber daya manusia untuk reindustrialisasi.

“Kami dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sekarang ini semua sedang membuat manufaktur menjadi mainstream kembali. Salah satu dari tujuan industri 4.0 adalah mengembalikan manufaktur menjadi arus utama,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam sebuah diskusi terkait penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 di Jakarta, Rabu.

Menjadikan manufaktur sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi, kata Airlangga, akan termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. RPJMN tersebut kini sedang disusun oleh Bappenas dan instansi pemerintah terkait lainnya.

Saat ini, menurut data Bappenas, kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) baru 20 persen. Angka itu dinilai belum ideal. Berkaca pada beberapa dekade silam, kontribusi industri manufaktur terus mengalami penurunan hingga kini. Pada awal 1990-an, kontribusi manufaktur terhadap PDB mencapai 27 persen.

Menurunnnya kontribusi manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi karena Indonesia sudah terlalu lama mengandalkan ekspor bahan mentah seperti kelapa sawit dan batu bara sebagai mesin pertumbuhan. Padahal ekspor komoditas mentah sangat rentan terhadap pergerakan harga di pasar global, dan tidak berkelanjutan karena kurang memiliki nilai tambah.

Menurut Airlangga, sebagai negara kaya sumber daya alam, industri manufaktur memiliki potensi yang besar untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terlebih, saat ini pemerintah sedang mendorong industri 4.0 yang akan menciptakan efesiensi dan digitalisasi industri.

Berdasarkan RPJMN 2020-2024 yang sedang disusun pemerintah, pertumbuhan industri manufaktur perlu mencapai 5,4-7,05 persen. Bappenas juga ingin mempertahankan kontribusi manufaktur terhadap PDB stabil di kisaran 20 persen, untuk mencapai 27 persen pada 2030.

Dengan asumsi itu, pertumbuhan ekonomi pada 2020-2024 dapat mencapai rentang 5,4-6 persen.

Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro optimistis pertumbuhan manufaktur pada tahun 2024 tumbuh signifikan. Kata Bambang, hal ini salah satunya dengan memprioritaskan industri manufaktur menjadi laju utama ekonomi Indonesia.

“Di 2024, kita ingin membalikkan, karena sekarang ini kan trennya menurun secara kontribusi. Nah kita mau mengembalikan lagi. Mengembalikan kan tidak mudah dan tidak bisa hanya dengan program rutin makanya kita angkat masalah reindustrialisasi supaya kontribusinya kembali,” kata Bambang.

Sumber: Antara

Tags
Close