LIFESTYLE

Jakarta Potensial Jadi Barometer Tren Mode Global

Konferensi pers Jakarta Fashion Trend 2019, Kamis (8/11/2018). (Dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Jakarta potensial menjadi menjadi acuan inspirasi dari tren mode di tingkat nasional, bahkan global. Untuk itu Indonesia Fashion Chamber (IFC) Jakarta Chapter menyelenggarakan Jakarta Fashion Trend 2019 di 8 November 2018 di Gran Melia Hotel Jakarta. Acara tersebut mempresentasikan koleksi tren 2019 karya desainer anggota IFC mengacu pada Indonesia Trend Forecasting 2019/2020 dengan tema Singularity.

Ketua Indonesia Fashion Chamber Jakarta Chapter Hannie Hananto mengatakan Jakarta diharapkan menjadi pusat fashion di Indonesia.

“Untuk menjadi yang terdepan, kita harus menciptakan dan mensosialisasikan tren, sehingga perlu event agar publik dapat melihat koleksi tersebut,” kata Hanni di Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Meski berbasis di Jakarta, namum pihaknya juga membuka kerja sama dengan daerah lain untuk penggunaan kain-kain tradisional yang diolah oleh desainer Jakarta.

Jakarta Fashion Trend 2019 menghadirkan rangkaian acara berupa fashion show, fashion exhibition, trend presentation, dan fashion illustration competition.

Fashion show yang diselenggarakan menampilkan lebih dari 21 desainer anggota IFC Jakarta Chapter seperti Lisa Fitria, 2Pose by Monika Jufry, Anmone by Hanie Hananto, Najua Yanti, Markamarie, Lia Mustafa, Fitri Aulia, Khanaan, Eugeneeffectes, Raegita Zoro, Priscilla, Novita Yunus, Kultura by Barlan & Gita, JSL LeViCo by Justina Josepha, Ichwan Thoha, dan Lenny Agustin, menghadirkan desainer tamu Ali Charisma dan Itang Yunasz.

Jakarta Fashion Trend 2019 juga berkolaborasi dengan berbagai pihak antara lain Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Barat yang menampilkan Chaera Lee dan Wignyo, Dekranasda Sulawesi Barat yang mempersembahkan karya Neera Alatas, Dekranasda Kutai Barat mempersembahkan Billy Tjong, kemudian Maluku Tenggara Barat, Galeri Batik Destiani.

Koordinator Tim Penyusun ITF Dina Midiani mengatakan Trend Forecast 2019/2020 bertajuk Singularity. Sama seperti tahun sebelumnya, Trend Forecasting 2019/2020 diharapkan bisa menjadi referensi tren dalam negeri, berisi panduan dan inspirasi bentuk, warna, sketsa, hingga selera pasar terkini. Ada empat subtema yakni.

  1. Exuberant

Exuberant di sini adalah karakter kemanusiaan yang dinamis dan cerdas. Karakter dasar dari tema ini adalah santai, ramah, sedikit nerdy, namun tetap stylish, dan lucu.

  1. Neo Medieval

Neo medieval adalah pola pikir yang menjadikan kemajuan teknologi sebagai sebuah paradoks. Globalisasi membuat sebuah tren yang menyerupai abad pertengahan.

Tema-tema di abad pertengahan tetap mempesona dunia modern dan teknologi tinggi karena narasi romantis sejarah untuk menjelaskan pandangan yang membingungkan. Walau bernapas abad pertengahan, namun tema ini juga sangat futuristis.

  1. Svarga

Tema tren ini mewakili poetnsi kemanusiaan yang inklusif dan berempati. Svarga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti surga, menggambarkan pendekatan antar manusia secara spiritual.

Desain dari tema ini memperlihatkan berbagai produk berbasis kriya bernilai tinggi, menggarisbawahi warisan tradisi yang tak ternilai harganya dan kearifan lokal pelaku kriya tradisional.

  1. Cortex

Tema ini mewakili sistem dasar yang mendistrupsi kehidupan dalam singularity. Dalam proses pengembangan desain, tema ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pembantu desainer, namun juga bisa menjadi desainer itu sendiri.

Dia menambahkan hasil riset tersebut juga hadir dalam format konten Impulse sebagai tema besar, dan Decoding sebagai acuan penerapan.

“Penting sekali menerapkan trend forecastyang dikawinkan dengan kekayaan unsur lokal yang dimiliki. Tidak menutup kemungkinan desainer menggabungkan tema tersebut dalam setiap koleksinya,” tambah Dina.

Sumber: Bisnis.com

Tags
Close