SOSOK

DR, dr Ria Maria Theresa, SpKJ : “ Saya Ingin Manfaat Senam Poco-Poco untuk Kesehatan Otak diketahui Publik Secara Meluas”

DR,dr.Ria Maria Theresa, SpKJ (kanan) pengajar dari Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta berfoto bersama rekan panitia di Tim Kesehatan Acara Pemecahan rekor dunia senam Poco-poco beberapa waktu yang lalu. (Sigit Artpro)

Jakarta Review, Jakarta – Acara Pemecahan rekor dunia senam Poco-poco pada acara hari bebas kendaraan awal Agustus lalu sangat membanggakan buat Bangsa Indonesia. Hal tersebut juga dirasakan oleh dr Ria Maria Theresa, SpKJ pengajar dari Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta. Pasalnya ia juga menjadi bagian dari kepanitian di acara tersebut.

“Saya menjadi bagian dari Tim Kesehatan di Acara Pemecahan rekor dunia senam Poco-Poco tersebut,” ujarnya kepada Jakarta Review di sela-sela Acara Pemecahan Rekor Senam Poco-Poco beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya, acara pemecahan rekor dunia senam poco-poco tersebut sangat positif sebagai ajang untuk membuktikan bahwa senam poco-poco adalah asli produk budaya Indonesia dan bukan berasal dari negara lain. Selain itu acara tersebut juga sangat tepat untuk sosialisasi manfaat senam poco-poco untuk kesehatan.

Selain sebagai panitia, Dosen Fakultas Kedokteran UPN Vetaran ini punya alasan lain untuk bangga terhadap perhelatan acara tersebut. Pasalnya dr Ria pernah melakukan penelitian mengenai manfaat senam poco-poco untuk mencegah demensia atau penyakit pikun yang menyerang otak manusia. Penelitian tersebut dilakukan berupa disertasi sebagai syarat untuk meraih gelar Doktor. Bisa dikatakan, dr Ria adalah satu-satunya dokter yang pernah melakukan penelitian mengenai manfaat senam poco-poco untuk kesehatan.

Sekedar informasi penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung dapat meningkatkan risiko terserang demensia. Dengan terganggunya metabolisme tubuh atau perjalanan darah ke otak, kemampuan otak juga dipastikan akan menurun. Untuk itu, dr Ria melakukan penelitian terhadap manfaat menari poco-poco untuk kesehatan otak bagi pasien diabetes melitus. Hasilnya, menari poco-poco dapat meningkatkan fungsi eksekutif otak sebesar 37,5 persen.

“Jadi semakin banyak orang yang tahu tentang manfaat dari senam poco-poco tersebut, tentu semakin baik. Apalagi Indonesia termasuk negara yang memiliki penderita diabetes yang cukup tinggi di dunia,” jelasnya.

Penelitian dilakukan kepada 40 orang pasien diabetes melitus berusia 49 – 55 tahun. Seluruh partisipan diketahui memiliki mild cognitive impairment atau biasa dikenal sebagai gangguan fungsi kognitif ringan.

Partisipan diminta untuk berpartisipasi dalam menari poco-poco sebanyak 2 kali dalam seminggu. Masing-masing sesi berlangsung sekitar 30 menit. Penelitian ini sendiri dilakukan selama 12 minggu atau 3 bulan.

Agar tidak bosan, gerakan poco-poco diselang-seling dengan gerakan senam lain. Senam dilakukan secara bertahap, dimulai dari gerakan paling mudah.

Hasil penelitian malah lebih bagus ketimbang tujuannya, yang “sekadar” mempertahankan fungsi kognitif agar gangguan tidak bertambah berat.

“Hasilnya, gangguan kognitif malah hilang,” ungkapnya.

Melalui pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging), neuron (sel-sel saraf)  otak yang aktif di kelompok poco-poco meningkat, sedangkan di kelompok kontrol turun. Gerakan menyerong, berputar dan menyilang dalam poco-poco, merangsang neuron otak, serta merangsang motorik, sensorik dan emosi.

“Rangsangan ini membuat neuron bertambah banyak. Penelitian ini juga membuktikan, dengan poco-poco bagian otak yang tidak aktif dan jarang digunakan, menjadi aktif. Itu mutiara penelitian ini,” paparnya.

Namun demikian Ia mengingatkan agar tujuannya tercapai, senam Poco-Poco Nusantara perlu dilakukan secara teratur, 2 x 30 menit seminggu, selama 12 minggu. Setelah itu harus dipertahankan dengan tetap berlatih secara teratur. Kalau tidak, neuron yang sudah terbentuk akan habis lagi. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close