INTERVIEW

Dirut PTPN VI, M Abdul Ghani : Kami akan Kembangkan Pemasaran Teh Kayu Aro Secara Meluas ke Pulau Jawa

Direktur Utama PTPN VI, Mohammad Abdul Ghani. (Sigit Artpro/jakrev)

Lima bulan sejak dipercaya sebagai Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara VI, Mohammad Abdul Ghani sudah menyiapkan berbagai rencana pengembangan perusahaan yang dinamakan profitisasi perusahaan.

Melalui program yang dinamakan profitisasi perusahaan tersebut, mantan Direktur Utama PTPN XIII ini mulai merencanakan pengembangan pemasaran teh dan pengembangan produk kopi serta merevitalisasi usaha penggemukan sapi.

“Saya akan mempertahankan portofolio produk yang sangat menguntungkan seperti sawit dan akan mengembangkan produk yang masih bisa ditingkatan seperti teh, kopi dan usaha penggemukan sapi. Itu semua berdasarkan hasil mapping yang sudah dilakukan sejak dipercaya sebagai dirut PTPN VI,” ujar Ghani.

Tak hanya itu, kerjasama dengan pihak lain seperti kerjasama dengan PT Food Station Tjipinang Jaya pun dilakukan untuk pemasaran produk teh dan penanaman bawang putih dan rencana kerjasama dengan investor yang tertarik menangani limbah kelapa sawit yang diproduksi oleh PTPN VI.

“Semua rencana pengembangan tersebut akan saya lakukan agar PTPN VI bisa menggapai kinerja yang lebih baik lagi dan bisa melantai di bursa (IPO) pada tahun 2022,” tandasnya.

Nah untuk mengetahui lebih jauh mengenai berbagai rencana pengembangan PTPN VI kedepan termasuk proyeksi dari kerjasama yang dibangun dengan PT Food Station Tjipinang Jaya. Akhir Oktober lalu, di Kantor PTPN VI di bilangan Tebet Jakarta Selatan, Mohammad Abdul Ghani berkenan memberi penjelasan kepada Jakarta Review.

Berikut petikannya :

Bisa diceritakan bagaimana awalnya PTPN 6 bisa bekerjasama dengan PT Food Station Tjipinang Jaya ?

Inisiatif atau penggagas kerjasama sesungguhnya datang dari Pak Syarkawi Rauf (Komut PTPN VI) yang kebetulan kawan lama Pak Arief. Selanjutnya kami  tindaklanjuti dengan kunjungan ke PT Food Station di kawasan Pasar Induk Cipinang. Dalam perbincangan berkembang diskusi untuk menjajaki kemungkinan membangun kerjasama bisnis pemasaran industri hilir teh PTPN VI pada jaringan distribusi PT FS  dan mitranya. Lebih lanjut dari perbincangan diinisiasi kemungkinan melakukan kerjasama penanaman bawang putih di Kebun Kayu Aro, Kerinci-Jambi. Untuk menindaklanjuti ide tersebut disepakati untuk melakukan penandatanganan Nota kesepahaman (MoU) sekaligus kunjungan ke Kebun Teh Kayu Aro di Kerinci, Jambi pada tanggal 22 September 2018.

Penjajakannya berlangsung cepat sekali ?

Kalau dilihat dari kunjungan awal kami ke Cipinang hingga mereka melakukan kunjungan balasan ke tempat kami sepertinya demikian. Mungkin bisa dikatakan kami dan Food Station ingin cepat jalannnya karena sudah menemukan frekuensi yang sama.

Apa harapannya yang ingin dicapai oleh PTPN VI dengan kerjasama dengan Food Station ini ?

Sebagai sesama badan usaha milik negara (PTPN VI sebagai BUMN dan PT FS sebagai BUMD DKI) adalah membangun kemitraan sinergis diantara kedua korporasi tersebut dalam semua peluang bisnis yang mungkin bisa dikembangkan. Expertise PTPN dan PT FS berada pada satu supply chain yang bisa saling mendukung untuk sama-sama memperoleh nilai tambah. Melalui jaringan PT FS kami ingin memperluas jaringan pemasaran teh terutama di Pulau Jawa. Sementara untuk Sumatera kami gunakan jalur sendiri.

Seperti apa konkritnya bentuk kerjasama yang dibangun antara PTPN VI dengan PT Food Station ?

Sesuai sasaran strategis 5 tahun ke depan, PTPN VI menargetkan paling tidak 20 % portofolio teh dipasarakan melalui produk hilir. Untuk pasar di Sumatera kami telah mulai meluaskan ke pasar di luar Jambi dan Sumatera Barat. Pada sisi lain PT FS memiliki networking pada jaringan pemasaran retail melalui outlet sendiri ataupun kerjasama dengan modern market yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Singkatnya PTPN VI telah menyepakati untuk memanfaatkan jaringan PT FS tersebut dalam pemasaran produk retail tehnya

Mengenai jangka waktu kerjasamanya bagaimana ?

Soal waktu kerjasamanya kami serahkan kepada Food Station. Artinya mau setahun dulu karena ini masih percobaan silahkan. Tapi mau lebih lama lagi juga nggak apa-apa.

Setelah pemasaran teh, belakangan ada bentuk kerjasama lain yang dijajaki antara Food Station dengan PTPN VI yakni rencana penanaman bawang putih. Bisa dijelaskan lebih jauh arah kerjasama ini ?

Pembicaraan awal sesungguhnya hanya fokus pada kerjasama pemasaran teh PTPN VI. Dalam perkembangannya Pak Frans (Direktur Operasional PT FS) menceritakan tentang kesulitannya mencari lahan yang cukup luas untuk menanam bawang putih. Kebetulan PTPN VI sedang membuat program peremajaan tanaman teh 150 hektar/tahun sampai tahun 2023. Pucuk dicinta ulam tiba maka kerjasama penanaman bawang putih menjadi saling menguntungkan. PTPN VI bisa memperoleh nilai manfaat sebelum tanam ulang dilaksanakan sedangkan PT FS memiliki kesempatan memperoleh lahan yang cukup luas untuk penanaman bawang putih.

Perkembangan rencana penanaman bawang putihnya sudah sampai mana ?

Terus terang kami sama sekali nggak paham mengenai bawang putih. Karena itu kami minta Food Station saja yang jadi dirigen dari proses penanaman bawang putih ini. Kami tinggal mensuport apa yang diperlukan misalnya gudang, perumahan untuk pekerjanya nanti kami yang akan carikan. Kemudian untuk rencana penanaman bawang putih ini, kami sudah lapor ke Dinas Tanaman Pangan Provinsi Jambi. Ternyata mereka sangat mendukung rencana tersebut, karena sebelumnya sudah punya rencana penanaman bawang putih juga di daerah Kayu Aro. Jadi bisa dikatakan program penanaman bawang putih ini tidak hanya ditunggu oleh pemerintah pusat tapi juga pemerintah daerah. Dan ini sangat bagus kalau programnya berhasil.

Untuk tahap awal, berapa lahan yang akan digunakan ?

Sesuai kesepakatan untuk awal 50 hektar dulu. Tunggu land clearingnya. Alat berat juga sudah jalan. Bulan November ini kita sudah mulai program penanaman bawang putihnya.

Selain kedua bentuk kerjasama tersebut, kedepan apakah ada potensi kerjasama dalam bentuk lain yang akan dibangun antara PT Food Station dengan PTPN VI ?

PTPN VI pada prinsipnya siap membuka kesempatan kerjasama dengan PT FS dalam bidang apa saja yang memberi nilai tambah. Untuk itu kami akan terus menjajaki peluang kerjasama lainnya seperti pemasaran kopi kerinci dan peluang lainnya. Kebetulan kedepan kami akan mulai mengembangkan produk kopi juga yang akan kami beri nama Kopi Royal Aro. Atau kami bisa membantu kerjasama antara FS dengan holding PTPN yang banyak menghasilkan produk yang barangkali dibutuhkan oleh Food Station misalnya produk gula, minyak makan dan lain-lain.

Bisa dijelaskan kinerja PTPN VI dalam 2-3 tahun terakhir ?

Dua tahun terakhir PTPN VI sudah menunjukkan kinerja yang mengembirakan. Hal itu dapat dilihat dari kinerja operasional dan finansial. Sejak dimulai program revitalisasi tahun 2016, secara bertahap kinerja korporasi terus meningkat. Laba korporasi tahun 2018 diproyeksikan meningkat 9 kali dibandingkan 2016. Produktivitas TBS kelapa sawit juga mengalami peningkatan 20 % dari tahun 2016 menjadi 23 ton/ha prognosa 2018. Manajemen juga tengah menyusun program strategis 5 tahun ke depan dengan sasaran tahun 2022 sudah bisa melantai di bursa (IPO).

Saat ini apa saja produk yang dihasilkan oleh PTPN VI & apa produk unggulannya ?  

Produk utama PTPN VI meliputi minyak sawit (Crude Palm Oil, CPO) Inti sawit, teh (bulk dan retail), karet dan kopi. PTPN VI juga memiliki unit penggemukan sapi.

Komposisi produk yang dihasilkan PTPN VI seperti apa ?

Sementara ini masih sawit yang dominan. Hingga kini paling tidak revenue yang dihasilkan dari sawit mencapai 75%. Teh 15 persen. Sisanya produk-produk yang lain.

Bagaimana dengan rencana pengembangan produk the dan kopi ?

Untuk teh pertumbuhan penjulannya nggak begitu besar. Saat ini penjualannya sudah mencapai 7500 ton per tahun. Tapi untuk kopi hinggi kini masih booming dan harganya bagus. Karena itu kami sudah punya rencana mengembangkan perkebunan kopi di lahan seluas 500 hektar. Dan rencananya akan kita kerjasamakan juga dengan Food Station. Kopi dan teh berbanding lurus dengan ketinggian. Artinya makin tinggi lokasi tanamnya makin bagus.

Apakah rencana pengembangan kopi tersebut sudah masuk perencanaan strategis perusahaan ?

Saya baru 5 bulan ini jadi Direktur Utama di PTPN VI. Sebelumnya saya menjadi Dirut di PTPN XIII. Saat masuk kesini, saya memotret bisnis PTPN VI. Hasilnya untuk sawit udah oke. Jadi istilahnya tinggal maintanece saja. Karena itu tugas saya kedepan adalah mengembangkan produk yang portolionya belum bagus. Salah satunya teh.

Pertayaannya mengapa teh kurang bagus. Apa masalahnya ?

Ternyata masalah yang paling fundamental adalah produktifitas. Mengapa, karena perkebunan teh disini sudah dibangun sejak tahun 1920-an. Artinya sudah hampir 100 tahun. Bayangkan tanaman yang sudah ditanam hampir 100 tahun itu kan dari sisi tanamannya sudah tua renta. Belum dari sisi plasma nutfahnya (asal bijinya) yang juga menua.

Seperti apa rencana pengembangan produk teh yang sudah disiapkan ?

Program saya yang pertama adalah tamanam tuanya akan diremajakan. Kira-kira ada 750 hektar. Setelah itu akan diperbaiki pabriknya dan cara penjualannya. Melalui pasar-pasar strategis. Jadi nggak lagi jual melalui bursa komoditi Jakarta tapi langsung ke Cina dan Taiwan dan harganya jauh. Trader kita langsung ke user dan packer-nya. Lalu pemasaran ritel juga akan kita besarkan. Saat ini penjualan ritel per tahun hanya 250 ton. Per hari hanya 1 ton. Jadi masih relatif kecil. Rencananya akan kita naikkan menjadi 1500 ton dalam 5 tahun kedepan. Artinya 6 kali lipat dari posisi sekarang. Tentu ini perlu usaha yang sangat luar biasa. Karena itulah kami bekerjasama dengan Food Station.

Rencana pengembangan pemasarannya seperti apa ?

Sekarang ini kami baru memasarkan di Jambi dan Sumatera Barat. Kami akan besarkan market sharenya. Strateginya menggunakan jalur pemasaran sendiri tapi di Sumatera. Kami udah mulai mengembangkan pasar di Sumut, Riau, Jambi, Sumsel dan sebagian Lampung. Kemudian menggunakan jalur kerjasama dengan FS untu menjangkau pasar di Jawa. Ini untuk segmen menengah bawah yang volumenya besar sekitar 90 persen. Kami juga akan meluncurkan teh premium royal aro. Kemudian tahun 2019 juga akan mengembangkan kopi royal aro.

Saya dengar juga ada rencana pengembangan pengolahan limbah ?

Sekedar informasi buah kelapa sawit itu hanya sepertiganya yang bisa digunakan selebihnya menjadi limbah. Misalnya tandan kosong dan cangkang yang menjadi limbah. Nah tandang kosong dan cangkang ini akan digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik. Selain itu ada juga limbah cair dari proses pencucian buah yang jadi beban untuk ditangani juga karena mengandung gas metan sebuah kandungan zat yang bisa merusak ozon. Ini menjadi masalah. Namun kami sudah bertemu dengan pihak ketiga yang bisa mengubah kandungan zat berbahaya tersebut menjadi sumber energi untuk pembangkit listrik. Nah penjajakan tersebut yang kita lakukan.

Singkatnya saat ini, kami berpikir bagaimana merubah beban menjadi aset. Jangan lupa selama ini untuk menangani limbah cair ini juga kami mengeluarkan biaya yang nggak sedikit. Nah kalau sekarang limbah tersebut bisa menghasilkan keuntungan, kenapa itu nggak kita lakukan. Jadi kami kedepan sebagai perkebunan sawit nggak mikir core bisnis saja tapi juga bisnis sampingan. Ini peluang besar yang bisa direalisasikan. Jadi selain memberikan keuntungan juga membuktikan kita peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close