INTERVIEWSOSOK

Ferry Fardiansyah, Kabag Pengadaan PT Food Station Tjipinang Jaya

“Kepastian Pasokan sangat Penting untuk Pengembangan Bisnis Perusahaan”

Kepala Bagian Pengadaan PT Food Station Tjipinang Jaya, Feri Ferdiasyah berjalaket biru. (Dok: Istimewa)

Bagian pengadaan di PT Food Station Tjipinang Jaya memiliki peran penting dalam menjamin kepastian pasokan bahan baku yang akan digunakan oleh lini produksi dan pemasaran perusahaan. Jaminan kepastian pasokan bahan baku tersebut menyangkut jumlah, harga dan kualitas yang harus disesuaikan dengan perkembangan keadaan.

“Kepastian pasokan bahan baku dengan harga dan kualitas serta jumlah yang sesuai dengan keinginan perusahaan itulah yang menjadi tugas inti dari bagian pengadaan,” kata Ferry Fardiansyah, Kepala Bagian Pengadaan PT Food Station Tjipinang Jaya.

Untuk memastikan ketiga hal tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi bagian pengadaan. Apalagi kini komoditi bahan pokok yang ditangani oleh PT Food Station terus bertambah. Dan semua komoditi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

“Saat ini kami menangani 8-9 komoditi pangan antara lain beras, telur ayam, gula pasir, minyak goreng, tepung terigu, susu UHT, ikan kembung beku, bawang putih dan the. Untuk menjaga kelancaran pasokan berbagai komoditi tersebut kami harus pandai-pandai mencari mitra yang cocok,” ujar Feri.

Khusus untuk mencari pasokan beras, Food Station bahkan harus menjemput bola terjun langsung hingga ke Lampung dan Sulawesi Selatan pada saat pasokan dari Jawa minim. Di daerah tersebut kami menjajaki kerjasama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Pemerintah Daerah setempat.

“Dalam kondisi apapun, kami harus bisa menjamin kelancaran pasokan bahan pangan terutama beras untuk warga Jakarta. Dan itu adalah tugas utama kami,” tutur Feri.

Untuk mengetahui lebih jauh tantangan yang harus dihadapi oleh bagian pengadaan PT Food Station Tjipinang Jaya dalam menopang pertumbuhan bisnis perusahaan. Beberapa waktu yang lalu, Kepala Bagian Pengadaan PT Food Station Feri Fardiansyah berkenan memberikan paparan kepada Jakarta Review.

Berikut petikannya :

Saat ini ada berapa komoditi pangan yang ditangani oleh Food Station ?

Saat ini kami menangani beras, telur ayam, tepung terigu, gula pasir, minyak goreng, ikan kembung beku, susu, bawang putih dan teh.

Jadi jumlah yang ditangani ada 9 komoditi ?

Kalau dihitung dengan teh demikian. Khusus teh, kami bekerjasama dengan PTPN 6 Kayo Aro Jambi untuk memasarkan produk teh kemasan kayu aro di jaringan pemasaran yang kami miliki.

Dari 9 komoditi tersebut, kontribusi terbesar berasal darimana ?

Saat ini kontribusi terbesar masih dihasilkan dari beras. Apalagi saat ini dalam sebulan kami bisa menghasilkan beras sebanyak 10.000 – 12.000 ton.

Beras tersebut dihasilkan dari mana saja ?

10.000 – 12.000 ton beras tersebut dihasilkan dari 2 mesin RMU yang kami miliki sendiri di Gudang SRG. Kemudian 1 unit pabrik penggilingan beras kami di Pamanukan serta dari mitra maklon kami yang tersebar di sejumlah daerah seperti di Lampung dan daerah lainnya. Jumlahnya ada 7 mitra antara lain MCS, Sandi Jaya dan Mercubuana.

Bagaimana teknis kerjasama dengan maklon tersebut ?

Untuk vendor yang menjadi maklon, pabrik penggilingan padi yang mereka miliki kapasitas produksinya 90 persen didedikasikan untuk kepentingan Food Station. Kemudian untuk memastikan kualitas produksinya sesuai dengan Food Station, kami menempatkan orang di pabrik-pabrik yang menjadi maklon tersebut.

Apa tugas dari karyawan Food Station yang ditugaskan di pabrik milik maklon tersebut ?

Yang jelas supplier yang merupakan maklon dari kami, pabriknya spec-nya harus sama dengan pabrik kita yang ada di Gudang SRG. Selain itu audit halal, PSAT dan standard-standard lain yang diperlukan. Semuanya harus sama. Intinya kita kontrol terus quality controlnya. Nah mitra maklon ini termasuk dalam supplier prioritas dari Food Station. Karena itu mereka sudah kita anggap seperti tubuh kita sendiri.

Selain mitra maklon, supplier apa lagi yang ada di Food Station ?

Setelah mitra maklon yang merupakan supplier prioritas, Food Station juga memiliki supplier utama (main supplier). Yang termasuk kedalam kategori supplier utama ini misalnya Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) mulai dari yang kecil, sedang hingga besar yang berada di sentra-sentra produksi beras.

Sejauh ini Food Station sudah bermitra dengan Gapoktan dimana saja ?

Kami sudah bermitra dengan Gapoktan di sentra produksi beras di Lampung, Makasar, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sejauhmana kepentingan bermitra dengan gapoktan tersebut ?

Jangan lupa panen beras di Indonesia itu lokasinya selalu bergeser. Karena itu penting buat kami untuk bermitra dengan gapoktan yang ada di sentra produksi beras yang ada di Indonesia. Ibaratnya mereka (gapoktan) jadi prioritas kami untuk pengadaan beras di daerah-daerah tersebut.

Dari dua jenis supplier tersebut kontribusinya sudah berapa persen buat Food Station ?

Sejauh ini sudah bisa 100 persen.

Lalu buat apa ada supplier tambahan ?

Begini, dalam berbisnis terkadang ada dinamika. Ada penawaran dan kelompok tani baru. Dan untuk daerah tertentu, nggak banyak yang cari beras misalnya Lampung dan Cilacap. Itu makanya kami banyak bermitra dengan gapoktan dari kedua daerah tersebut. Sementara di Jawa Barat, mitra kami relatif sedikit karena sudah banyak orang yang masuk mencari beras kesana. Karena itu kalau ada penawaran kerjasama dari Lampung dan Cilacap biasanya kita ambil. Tapi semuanya tetap kita akan filter dulu.

Jadi mitra sewaktu-waktu juga bisa naik kelas ?

Pasti. Sewaktu-waktu mitra kami bisa naik kelas. Semuanya tergantung dari bagaimana mereka memberikan nilai positif bagi Food Station. Suplier utama pun awalnya juga hanya suplier biasa, tapi kemudian naik kelas dan mereka komitmen 100 persen dalam bererjasama dengan kita.

Saat ini berapa persen pangsa pasar beras Food Station di Jakarta ?

Dari stok yang ada kurang lebih 10 persen. Sebelumnya hanya  8 persen. Namun yang perlu jadi catatan dengan penguasaan pangsa pasar sebesar itu, kami sudah berhasil menjaga stabilitas harga beras di Jakarta.

Ada rencana untuk menaikkan pangsa pasar ?

Sejauh ini belum. Tapi tentu harus kita lihat dulu perkembangannya. Prinsipnya selain bisa menjaga stabilitas harga beras di Jakarta, peningkatan penguasaan pangsa pasar tersebut jangan sampai mematikan aktfitas perdagangan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC).

Dari 10.000 ton kapasitas produksi beras Food Station, alokasinya kemana saja ? 

Alokasinya 70 persen disalurkan ke modern market dan online, sisanya 30 persennya disalurkan ke pasar tradisional, Program Pangan Murah KJP, BPNT dan lain-lain.

Untuk Program Pangan KJP alokasinya berapa banyak ?

Alokasi beras untuk program pangan murah KJP kami targetkan 2000 ton per bulan.

Apa problem utama program pangan KJP saat ini ?

Persoalan utamanya tentu saja soal tingkat serapannya. Tahun lalu penyerapannya hanya 59 persen. Ini tentu harus segera diperbaiki agar penyerapannya terus meningkat. Kalau perlu sampai 90 persen. Apalagi penerima manfaat kartu KJP dan sejenisnya kini sudah mencapai kurang lebih 1,1 juta orang.

Apa yang  menjadi penyebab rendahnya nilai serapan tersebut ?

Tentu banyak faktor. Tapi dari pengamatan saya salah satunya mungkin karena hingga kini belum ada spesifikasi kartu pangan yang khusus. Kemudian juga dari sisi service level yang harus memuaskan. Karena itu tiap hari kami cek pengiriman distribusi bahan pokok di titik-titik lokasi distribusi program pangan murah KJP. Intinya kami bertanggung jawab atas kualitas di program distribusi pangan murah.

Untuk meningkatkan seperapan tersebut apa lagi yang akan dilakukan ?

Kami akan menambah jumlah lokasi distribusi, baik itu di pasar tradisional, RPTRA, dan sejumlah gerai lain yang akan disiapkan. Yang jelas tahun ini Perumda Pasar Jaya akan menambah Jakgrosir lagi di setiap wilayah Jakarta, kemudian Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan akhir tahun lalu juga sudah membuka Gerai Kewirausahaan terpadu di 8 lokasi yang juga bisa digunakan sebagai lokasi pengambilan program pangan murah KJP. Terakhir ada kemungkinan kami juga akan menggunakan kantor kecamatan, kelurahan hingga RW untuk lokasi pengambilan. Prinsipnya makin dekat dengan warga penerima manfaat semakin bagus.

Bagaimana dengan perkembangan penjualan teh kayu aro ?

Kami sudah memasarkan produk teh tersebut di jaringan yang ada baik itu jaringan pemasaran ritel modern sampai dengan penjualan melalui mekanisme online.  Perkembangannya memang belum terlalu cepat. Tapi tren-nya cukup meningkat, apalagi kami menjual teh tersebut secara paket dengan berbagai bahan pokok lainnya.

Perkembangan program wajib tanam bawang putih seperti apa ?

Untuk program wajib tanam bawang putih, target kami sama dengan tahun lalu yakni menanam bawang putih di lahan seluas167 hektar untuk menghasilkan 10 ribu ton basah. Adapun lokasi penanamannya tersebar mulai di Cianjur Jawa Barat, Wonosobo dan Temanggung Jawa Tengah, Blitar Jawa Timur dan terakhir di Kayu Aro, Kerinci Jambi bekerjasama dengan PTPN 6 Kayu Aro Kerinci Jambi.

Khusus penanaman dengan PTPN 6 berapa luas lahan yang digunakan ?

Hingga minggu lalu sudah 5 hektar. Kini bisa sampai 20 hektar. Setahun kita mau 100 hektar. Tapi untuk pemenuhan RIPH 2018 cukup 50 hektar dulu, tetapi kita sudah kontrak 2 periode kerjasamanya dengan PTPN 6. Khusus kerjasama dengan PTPN 6 ini, kami beruntung bisa mendapatkan lokasi tanam yang sesuai dan luas. Ini dimungkinkan, karena kami menanam bawang putih di lokasi lahan perkebunan teh milik PTPN 6 yang sedang mengalami program peremajaan selama 2 tahun.

Dari lokasi penanaman bawang putih tersebut apakah sudah ada yang menghasilkan ?

Sementara ini belom. Panen pertama minggu pertama diperkirakan akan bisa dilakukan bulan Febuari di lahan seluas 0,2 hektar di Cianjur Jawa Barat. Terakhir hasil kerjasama tanam dengan PTPN 6 Kayu Aro Kerinci Jambi kami akan melakukan penanaman bawang putih hingga Februari di minggu keempat. Jadi hasil panennya diperkirakan baru bisa dinikmati 6 bulan kemudian.

Hasil panen bawang putihnya rencananya akan digunakan untuk apa ?

Semua hasil tanam bawang putih dari program wajib tanam akan digunakan untuk bibit. Komitmen ini sudah kami sepakati dengan Kementerian Pertanian.

Untuk tahun ini apakah Food Station akan mengajukan impor bawang putih lagi?

Kita akan mengajukan impor bawang putih lagi untuk menopang kebutuhan dan stabilitas pasokan dan harga bawang putih bagi warga Jakarta.

Selain pengadaan apalagi yang dikerjakan bagian pengadaan ?

Selain pengadaan barang, kami juga mengurus proyeknya yakni on farm bawang putih dan on farm padi kemudian kita juga mengurus SRG juga. Semuanya harus diurus karena saling berhubungan. Beras berhubungan dengan on farm padi dan SRG.

Untuk contract farming padi disiapkan dimana saja ?

Tahun lalu kita sudah kerjasama dengan Gapoktan di Indramayu, Demak dan Cilacap. Tahun ini kita akan jajaki lagi dengan PT Sang Hyang Sri (SHS). Untuk kerjasama dengan PT SHS ini rencananya kalau jadi, kami juga akan masuk ke budi daya karena kebetulan PT SHS juga punya lahan. Yang jelas tahun ini ada 2 contract farming yang kami ajukan ke Komite Strategis Daerah (KSD).

Apa manfaat dari contract farming ini ?

Terutama ketersedian bahan baku untuk, stok, gudang dan produksi. Melalui contract farming, kami bisa mendapatkan kepastian barang dengan harga yang bisa diatur.

Bagaimana dengan dampak perolehan izin edar dari BPOM untuk produk gula FS ?

Harapannya seiring dengan perolehan izin edar tersebut, tentu peningkatan penjualan produk gula FS. Karena kami sekarang sudah bisa menjual gula di modern market.

Bagaimana perkembangan dengan rencana masuk ke pengadaan jagung ?

Prinsipnya dengan masuk ke pengadaan jagung, Food Station ingin membantu manajemen stok ketersediaan pasokan jagung  untuk para peternak telur yang ada di Blitar. Kebetulan kami sudah menggelar kerjasama pengadaan telur dengan mereka. Dan mereka selama ini di bulan November hingga Desember seringkali kesulitan mendapatkan jagung yang merupakan pakan ayam. Kalaupun ada harganya sudah mahal. Harapannya dengan membantu pengadaan jagung ini stabilitas harga telur bisa terjaga karena ketersediaan jagung yang kontinu.  (win)

Tags

Artikel Terkait

Close