INTERVIEW

Frans M Tambunan, Direktur Operasional PT Food Station Tjipinang Jaya: “Tren Penjualan Beras Kemasan Kami Sangat Menggembirakan” 

Direktur Operasional PT Food Station Tjipinang Jaya, Frans M Tambunan bersebelahan dengan Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya sedang memaparkan sesuatu dalam sebuah rapat di Kantor Kementerian Perdagangan. (Dok FS)

Keputusan manajemen PT Food Station Tjipinang Jaya mengembangkan bisnis beras kemasan berbuah manis. Belum genap tiga tahun memasuki bisnis beras kemasan, BUMD Pangan DKI Jakarta tersebut kini sudah mampu bersaing dengan produsen beras kemasan nasional.

Mengusung brand FS, kini beras milik Food Station bisa dijumpai di berbagai retail modern seperti Alfamart, Alfamidi, Indomaret, Lotte Mart, Ramayana, Lion Superindo, Farmers Market, Tiptop, Indogrosir, Save Max, Ranch Market, Lulu Departement Store, Naga Pasar Swalayan, Aeon Supermarket, Transmart Carefour, dan sejumlah pasar ritel lainnya.

Selain menjual di pasar modern, Food Station juga menjual produknya di jalur e commerce seperti di Bukalapak.com, Alfacart, tokopedia, Lazada, Elevania dan Blibli.com.

“Bisa dikatakan hampir semua retail modern dan penjualan online terkenal sudah dirambah oleh Food Station,” ujar Direktur Operasional PT Food Station Tjipinang Jaya kepada Buletin FS.

Frans menambahkan, hasil penjualan beras kemasan di sejumlah retail modern dan lini pemasaran online pun sangat mengembirakan. Hingga 31 Mei 2018 penjualannya mencapai Rp300 miliar dengan jumlah tonase 265.560 ton. Tak tanggung-tanggung, pencapaian tersebut meningkat 262 persen dibandingkan dengan perolehan yang sama pada periode tahun lalu yang mencapai Rp 82 miliar.

Nah untuk mengetahui lebih jauh mengenai sejumlah aksi korporasi yang disiapkan Food Station untuk pengembangan bisnis perusahaan ke depan. Senin, 4 Juni 2018, Ayah tiga anak kelahiran Pematang Siantar 5 Februari 1978 berkenan memberikan penjelasan kepada Jakarta Review.

Berikut petikannya :

Bisa dijelaskan perkembangan penjualan beras kemasan yang dikembangkan Food Station ?

Kami sudah hampir 3 tahun ini mengembangkan penjualan beras kemasan dengan mengusung brand FS. Hasilnya sejauh ini sangat menggembirakan. Paling tidak ini bisa dilihat dari hasil penjualan hingga periode 31 Mei 2018.

Berapa hasil penjualan beras kemasan hingga 31 Mei 2018 ?

Penjualan beras kemasan hingga 31 Mei 2018 mencapai Rp 300 miliar dengan jumlah tonase 265.560 ton. Dibandingkan dengan perolehan yang sama pada periode tahun lalu yang mencapai Rp 82 miliar, perolehan tahun ini meningkat 262 persen. Itu makanya saya sebut hasilnya sangat menggembirakan.

Sebuah pencapaian yang fantastis. Bisa dijelaskan apa yang menjadi pemicunya ?

Saya kira ada banyak hal. Beberapa diantaranya pertama, kualitas beras kemasan yang kami jual tampaknya sudah diakui oleh pasar. Kedua dari sisi harga beras kemasan FS juga sangat kompetitif dibandingkan dengan kompetitor yang sudah lebih dulu masuk di pasar. Ketiga, varian beras yang kami kembangkan juga cukup banyak. Sekedar informasi beras FS sudah mendapatkan sertifikasi halal dan sertifikat Produk Segar Asal Tumbuhan (PSAT) dari Kementerian Pertanian.

Beras kemasan seperti apa saja yang selama ini dijual ?

Beras kemasan dengan brand FS ini memiliki beragam variasi. Terdapat beras kemasan jenis Long Grain, Mentik Wangi, Muncul, Beras Merah, Beras Hitam, Ketan Putih, Japonika, dan berbagai jenis beras kemasan lainnya. Beras kemasan yang dijual mulai dari kemasan 1 kg hingga 50 kg.

Penjualannya kemana saja ?

Saat ini berbagai produk kami bisa dijumpai di jalur penjualan tradisional di 153 pasar yang dikelola oleh PD Pasar Jaya, dan operasi pasar di berbagai kelurahan dan berbagai retail modern seperti Alfamart, Alfamidi, Indomaret, Lotte Mart, Ramayana, Lion Superindo, Farmers Market, Tiptop, Indogrosir, Save Max, Ranch Market, Lulu Departement Store, Naga Pasar Swalayan, Aeon Supermarket, Transmart Carefour dan sejumlah pasar ritel lainnya.

Selain menjual di pasar modern, Food Station juga menjual produknya di jalur e commerce seperti di Bukalapak.com, Alfacart, tokopedia, Lazada, Elevania dan Blibli.com.

Bagaimana dengan jangkauan wilayah sebarannya ?

Saya bisa katakan produk dengan brand FS kini sudah berhasil menjangkau wilayah di Jabodetabek. Bahkan kini sudah menjangkau Bandung melalui berbagai jaringan pasar modern yang sudah bekerjasama dengan kami.

Berapa margin yang ditergetkan dalam penjualan beras kemasan ?

Margin profit yang ditetapkan pun disesuaikan dengan kemampuan pasar yang mereka tuju. Kombinasi margin profit tersebut bermacam-macam. Mulai dari 5%-7%. Misalnya bila beras kemasan tersebut ditujukan kepada pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP), maka margin pun harus lebih kecil. Ini berbeda dengan margin yang kita tuju untuk penjualan beras kemasan premium yang hanya dijual di pasar modern yang menyasar konsumen menengah ke atas.

Market Share nya seperti apa ?

Untuk market share sejauh ini saya nggak punya angka pastinya. Tapi yang bisa saya katakan, saat ini tingkat pengenalan brand FS sudah sangat baik di pasar. Sekedar informasi pada periode Januari-Febuari saat beras mahal, salah satu brand yang mengisi jaringan retail modern adalah FS. Bisa dikatakan di retail modern di Jabodetabek, brand FS sudah masuk 5 besar beras kemasan.

Dalam sebulan berapa volume penjualannya ?

Dalam sebulan, volume beras yang dijual untuk pasar modern sekitar 3000 ton hingga 4000 ton. Selebihnya dijual ke pasar tradisional. Tak hanya itu, Food Station juga dijual lewat e-commerce seperti blibli, tokopedia, lazada, alfacart, bukalapak, serta indoklik. Rata-rata untuk modern market itu sekitar 3000 ton – 4000 ton sebulan.

Aksi korporasi apa saja yang sudah disiapkan dalam waktu dekat ?

Semester kedua tahun ini, kami akan meluncurkan tepung terigu dan susu dengan brand FS. Jadi kedepan untuk kedua produk tersebut, kami tidak lagi menggunakan merek lain, tapi merek FS. Dengan demikian untuk setiap produk tersebut kami  punya brand sendiri sehingga spefikasinya bisa lebih mudah dikontrol.

Selain itu, beberapa peretail modern juga sudah mempercayakan private labelnya kepada FS. Misalnya Hypermart, Lotte dan Ramayana. Kemudian dalam waktu dekat segera menyusul Indomaret dan Alfamart.

Bisa dijelaskan pendapatan perusahaan hingga Mei 2018 ?

Hingga 31 Mei 2018, pendapatan perusahaan sudah mencapai Rp 860 miliar. Pencapaian ini inline dengan target pendapatan Rp 1 triliun di tahun 2018 yang tetapkan beberapa waktu yang lalu.

Darimana saja perolehan pendapatan tersebut ?

Pendapatan tersebut berasal dari hasil perdagangan komoditas pangan dan usaha Food Station lainnya seperti penyewaan properti dan lainnya. Peningkatan pendapatan tersebut dapat terjadi karena saat ini FS tengah berupaya mereformasi diri.

Dari total pendapatan tersebut, kontribusi dari penjualan Food Station sebesar Rp 692 miliar. Sekedar informasi saat ini, Food Station menjual berbagai komoditas pangan mulai dari beras, minyak goreng, gula, telur, ikan hingga susu. Meski begitu, beras masih menyumbang penjualan yang paling besar.

Ini baru Mei 2018. Masih ada 7 bulan lagi sampai dengan akhir tahun. Anda yakin target pendapatan Rp 1 triliun dapat tercapai ?

Tahun ini kami memang berharap bisa mencapai pendapatan Rp 1 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan pendapatan sebelumnya yang diperkirakan lebih dari Rp 746 miliar. Nah kalau melihat posisi pendapatan perusahaan hingga Mei yang sudah mencapai Rp 860 miliar, saya sih yakin pendapatan Rp 1 triliun akan mampu dicapai pada akhir tahun nanti. Bahkan saya meyakini target pendapatan Rp 1 triliun tersebut akan terlampaui.

Kalau benar terlampaui, berapa kira-kira nilainya ?

Melihat tren pendapatan hingga Mei 2018, saya meyakini pendapatan perusahaan  diperkirakan akan menembus angka di kisaran Rp 1,2 hingga Rp.1,3 triliun.

Kelihatannya FS tidak lagi terlalu mengandalkan penyewaan properti dan pergudangan sebagai sumber pendapatan ?

Dulu kami memang sangat mengandalkan properti sewa properti seperti outlet dan gudang. Sekarang kami telah mereformasi diri dengan mengembangkan perdagangan. Core bisnis tetap beras namun FS mulai mengembangkan produk lain yang kontribusinya terhadap inflasi cukup besar. Misalnya Minyak goreng, bawang putih dan telur.

Beberapa waktu lalu, Wagub Sandiaga Uno meminta FS mengembangkan contract farming untuk produk bawang merah. Bisa dijelaskan perkembangannya ?

Sekedar informasi, kami sudah menjalankan contract farming untuk komoditi beras dengan bekerjasama dengan petani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat untuk menanam varietas padi yang sesuai dengan kebutuahan FS. Dengan kerjasama tersebut, saat panen FS jadi offtaker dari padi yang ditanam tersebut. Singkatnya kami menjamin padi yang ditanam oleh petani akan diserap semua. Sementara kita dapat jaminan pasokan.

Kerjasama contract farming tersebut di jalankan di Indramayu bekerjasama dengan koperasi Malaypadi. Kemudian di Lebak Banten di lahan seluas 900 hektar. 2 tahun kedepan kami ingin luas lahan contract farming bisa mencapai 2000 hektar.

Prinsipnya kami siap saja kalau contract farming ini juga akan dikembangkan untuk komoditi bawang merah. Ngggak ada masalah. Tinggal dicari saja mitra yang tepat didaerah.

Boks

Hilangkan Penat dengan Berkebun dan Memelihara Ikan

Direktur Operasional PT Food Station Tjipinang Jaya sedang bersalaman dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito. (Dok FS)

Sejak beberapa tahun menjadi direksi PT Food Station Tjipinang Jaya, waktu Frans M Tambunan banyak tersita untuk pekerjaan. Tak jarang saat libur di Hari Sabtu-Minggu masih ada tugas pekerjaan yang harus diselesaikan, misalnya kunjungan kerja kebeberapa daerah sentra produksi beras di luar kota dan beberapa acara lainnya.

Karena itu, saat memiliki waktu luang, alumnus Intitut Pertanian Bogor ini langsung menggeluti hobi yang sudah lama digelutinya, yakni berkebun dan memelihara ikan koi di rumahnya yang terletak di Kota Wisata Bekasi.

“Saya memiliki beberapa tanaman hias dan tanaman buah dalam sejumlah pot di halaman rumah,” ujar Frans.

Untuk melengkapi tanaman tersebut, Frans juga memiliki kolam ikan yang ia gunakan untuk memelihara ikan koi. Selain itu Frans juga masih memiliki hobi lain yakni mengoleksi mobil mini (diecast).

“Kalau sudah dirumah dan waktu luang, saya bisa seharian berkebun dan menikmati koleksi peliharaan ikan di kolam. Rasanya hilang semua kepenatan yang biasa mendera saat menjalani rutinitas pekerjaan,” terang Frans.

Selain berkebun dan menikmati peliharaan ikan koi tersebut, Frans juga selalu menyempatkan diri mengajak isteri dan ketiga anak-anaknya untuk sekedar makan di luar rumah.

“Bermain dan bercanda dengan anak-anak selalu memberikan energi positif buat saya,” tutur Frans. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close