INTERVIEW

M Nur Havidz, Kepala Satuan Pengawas Internal PD Pasar Jaya: Penerapan GCG Perlu Konsistensi dan Komitmen Semua Unsur di dalam Perusahaan

Ketua SPI Perumda Pasar Jaya M Nur Havidz tampak sedang memberikan pemaparan dalam sebuah acara konferensi pers di Kantor Pusat Perumda Pasar Jaya. (Sigit Artpro/jakrev)

Sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Perumda Pasar Jaya dituntut memiliki tata kelola yang baik dan kalau perlu bisa menjadi contoh bagi badan usaha lainnya di DKI Jakarta.

Dengan kata lain tata kelola yang baik tersebut harus mampu diwujudkan dalam setiap aktifitas perusahaan. Misalnya dalam hal penyediaan lahan untuk berusaha ataupun dalam rangka ikut serta menjaga stabilisasi harga di DKI Jakarta.

“Jangan lupa pasar seringkali menjadi pusat ekonomi dan indikator pertumbuhan sebuah daerah. Artinya kalau pasar nggak tumbuh di sebuah daerah, artinya ada masalah dengan daerah tersebut, karena itu pasar harus dikelola dengan prinsip-prinsip usaha yang baik” ujar Muhamad Nur Havidz Kepala Satuan Pengawas Internal (SPI) Pasar Jaya kepada Jakarta Review.

Menyadari pentingnya penerapan prinsip tata kelola yang baik tersebut, tak jarang Manajemen Pasar Jaya mengundang pihak-pihak terkait untuk melakukan pendampingan. Misalnya beberapa waktu yang lalu, Pasar Jaya menggelar acara Diagnostic Assestment Program Good Corporate Governance (GCG) dilingkungan PD. Pasar Jaya. Dalam acara yang diikuti oleh semua assiten manajer dan manajer di lingkungan Pasar Jaya tersebut, Pasar Jaya melibatkan BPKP dan KPK sebagai pemateri.

“Kami sering melibatkan aparat penegak hukum seperti Kepolisian, Kejaksaan, dan BPKP untuk terlibat dalam proses pendampingan. Tujuannya untuk memastikan Pasar Jaya bisa menerapkan prinsip Transparasi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independent dan Fairness saat menjalankan tugas dan fungsinya  dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tutur Havidz.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai pentingnya penerapan prinsip-prinsip GCG bagi Pasar Jaya sebagai BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, beberapa waktu yang lalu, Kepala Satuan Pengawas Internal (SPI) Pasar Jaya Muhamad Nur Havidz berkenan memberikan penjelasan kepada Buletin Pasar.

Petikannya :

Seberapa besar pentingnya penerapan GCG bagi perusahaan seperti Pasar Jaya ?

Untuk menjaga agar manajemen perusahaan berjalan sesuai dengan harapan. Tapi ini bukan berarti GCG sebagai rem, karena kalau diandaikan sebagai rem nanti  jadi takut semua. Justru sebaliknya GCG itu bisa menjadikan kita semua unsur yang ada di dalam perusahaan menjadi confident untuk berani mengambil keputusan menuju arah yang sama. Karena itu menjadi sangat penting bagi kami semua pemangku kepentingan yang ada di Pasar Jaya untuk terlebih dulu merumuskan tujuan bersama.

Tujuan bersama seperti apa ?

Tentunya tujuan mau dibawa kemana perusahaan ini dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan. Biasanya arah kebijakan perusahaan kedepan tersebut dituangkan dalam Rencana Jangka Panjang (RJP). Ini seperti blueprint atau GBHN bagi negara.

Jadi Fungsi RJP ini sangat penting ?

Sangat penting sekali, karena melalui RJP semua pihak yang ada di perusahaan menjadi paham mau dibawa kemana arah perusahaan dalam beberapa tahun kedepan. RJP adalah mimpi kedepan bagi sebuah perusahaan. Karena itu tidak boleh dibuat dadakan secepat kilat, tapi harus dibuat dengan analisa dan kajian yang komprehensif. Singkatnya RJP adalah acuan kedepan perusahaan, sehingga kita harus menyiapkan berbagai skenario perubahan tersebut dari sekarang. Jadi bisa meminimalisir resiko.

Lantas apa yang harus dilakukan setelah RJP ditetapkan ?

Setelah itu kita harus mengkaji bagaimana caranya untuk mencapai target-target perusahaan yang sudah dituangkan dalam RJP.

Caranya bagaimana ?

Menurut saya dengan membangun GCG. Kemudian bisnis baru yang sudah ditetapkan dalam RJP harus dikunci dengan kerangka konsisetensi dan komitmen antara Board of Director (BOD), Board of Commisioner (BOC), pemegang saham dalam hal ini Gubernur dan dibuat kerangka acuannya.

Jadi komitmen bersama menjadi penting ?

Kalau sudah ditetapkan, maka RJP itu harus dipatuhi oleh semua unsur yang ada di dalam perusahaan. Jadi butuh komitmen bersama untuk mengawal RJP. Dari 10 indikator GCG, komitmen menjadi indikator yang paling penting. Mengapa, karena kalau nggak komitmen tujuan perusahaan akan melenceng. Jadi, kalaupun ada penugasan-penugasan baru, Pasar Jaya harus bisa menyesuaikan diri dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Jangan malah kaget dan akhirnya tujuan nggak tercapai karena melenceng dari tujuan yang ada di dalam RJP.

RJP Pasar Jaya yang terakhir seperti apa gambarannya ?

RJP terakhir adalah RJP tahun 2013. Saat ini sudah ada draft RJP yang baru yang sudah dibahas ditingkatan internal perusahaan. Kini posisinya sudah diajukan kepada gubernur. Tapi perkembangannya seperti apa, saya belum tahu updatenya. Prinsipnya saya ingin RJP tersebut segera ditetapkan.

Hal apa yang direvisi dalam RJP 2013 ?

Di dalam RJP 2013 sudah ada pandangan bahwa jasa property (penyewaan unit usaha) akan menurun secara perlahan, oleh karena itu diperlukan diversifikasi usaha. Merujuk pada fase disruption yang memiliki 6 fase dari mulai digitalisasi sampai demokratisasi, Pasar Jaya menurut saya sudah masuk pada fase 3. Harap diingat, masing-masing perusahaan punya fase yang berbeda. Nah Pasar Jaya sedang berada dalam fase pancaroba. Karena itu kita harus bersiap. Jangan kita gagal move on. Kalau tidak, kita akan ditinggal oleh pesaing, keadaan dan zaman. Zaman milenial akan menilai Pasar Jaya masih dibutuhkan atau tidak. Tentu saja cara menyikapinya kita harus merubah diri sesuai dengan keadaan yang berkembang.

Apakah ada review juga mengenai program KJP di dalam RJP ?

Tentu saja. Soal program distribusi KJP ini adaah salah satu yang pernah kita evaluasi bersama dengan jajaran direksi. Kami melihat tingkat kemiskinan di Jakarta cenderung menurun dan itu artinya distribusi KJP pada akhirnya juga menurun dan mencapai titik jenuh. Karena itu perlu dibuat berbagai langkah antisipasinya, misalnya salah satu yang harus dijajaki adalah pengembangan bisnis ke wilayah Jabodetabek. Kita ekspansi keluar mencari market baru. Nggak ada yang salah dengan program distribusi KJP adalah Program penugasan dari Pemprov DKI Jakarta. Apalagi program tersebut saat ini menguntungkan buat Pasar Jaya dan kita mengambil peluang itu.

Jadi nggak perlu ragu dengan pengembangan bisnis baru ?

Banyak peluang bisnis baru yang bisa dikembangkan, tetapi perlu dipejelas konsepnya. Jangan ragu-ragu dan jangan berhenti sebatas ide yang nggak bisa direalisasikan. Lalu dikaji dengan baik dan jangan khawatir untuk maju kedepan dengan sangat confident. Lagi-lagi bicara GCG adalah mengawal seluruh bisnis perusahaan. Disitu ada komitmen bagaimana untuk mendokumentasikan seluruh kebijakan. Ada kebijakan yang bersifat tetap dan nggak boleh bergeser hanya karena ada penugasan-penugasan baru. Atau kebijakan tersebut nggak konsisten untuk masa depan perusahaan seperti yang tertuang dalam RJP. Hanya dengan  kebijakan yang konsistenlah bisnis yang sudah direncanakan kedepan bisa berjalan dengan baik.

Konkritnya seperti apa ?

Fungsi utama pasar adalah sebagai penggerak perekonomian rakyat. Kalau kita bisa menghadirkan itu, maka kita telah menjadi bagian yang memberikan kontribusi kepada negeri ini. Ingat pasar seringkali menjadi indikator pertumbuhan sebuah daerah. Nah Jakarta adalah megapolitan tentu kebutuhannya sudah sangat kompleks. Tentu kita harus jeli melihat apa yang dibutuhkan. Pasar kedepan mungkin lebih banyak pasar tematik, namun pasar basah juga masih dibutuhkan. Nggak usah khawatir dengan keberadaan pasar modern, karena segmennya berbeda. Intinya pasar kedepan harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (orientasi kepada pelanggan). Kalau kita nggak melakukan perubahan itu, kita akan mati pelan-pelan.

Peran SPI dalam konteks penerapan GCG seperti apa ?

Tugas Satuan Pengawas Internal (SPI) yang terpenting adalah mengawal agar realisasi dari RJP yang sudah menjadi komitmen bersama tersebut berjalan dengan sebagaimana mestinya. Ini bukan berarti GCG sebagai rem, karena itu kemudian kita jadi takut semua dalam bertindak. Justru sebaliknya GCG menjadikan kita semua confident untuk berani mengambil keputusan menuju arah yang sama. Sistem pengendalian internal sebuah perusahaan sejatinya bukan hanya tugas dari Satuan Pengawas Internal (SPI) saja, tetapi juga tugas semua unit yang ada di perusahaan tersebut. SPI hanya melakukan supervisi saja. Karena itu perlu dibuat mitigasi resikonya. Dan Pasar Jaya telah melakukannya walaupun belum sempurna.

Lalu bagaimana raport Pasar Jaya dalam penerapan GCG ?

Ada 10 indikator yang pernah dinilai oleh BPKP mengenai penerapan GCG. Untuk mengukurnya masing-masing ada indikatornya ada persentasenya. Dan sejauh ini Pasar Jaya masih perlu banyak pembenahan (area improvementnya masih cukup banyak). Namun ini bukan berarti kita salah, tapi memang masih perlu banyak perubahan untuk menyesuaikan pada kaidah-kaidah tata kelola perusahaan yang baik. Saya yakinkan Pasar Jaya kedepan bisa lebih maju lagi. Kuncinya salah satunya dengan membangun GCG ini dengan baik dan konsisten.

Apa yang sudah dilakukan Pasar Jaya untuk menumbuhkan confident tersebut ?

Kami sudah membuat berbagai terobosan-terobosan misalnya meminta bantuan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kejaksaan dan sejumlah pihak yang penting dalam penerapan GCG. Termasuk mengirim sejumlah pegawai untuk mengikuti beberapa kegiatan workshop dan seminar dan seterusnya. Selain itu beberapa waktu yang lalu kami juga sudah menggelar acara Diagnostic Assesment GCG dilingkungan PD. Pasar Jaya. Di acara ini kami melibatkan aparat penegak hukum untuk memberikan materi kepada jajaran asisten manajer dan manajer di lingkungan Pasar Jaya.

Bagaimana perkembangan saber pungli di Pasar Jaya ?

Tahun lalu kami sudah menuntaskan sosialisasi Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) kepada semua pengelola pasar yang ada di Jakarta. Kami serius menyatakan perang terhadap pungli untuk mendukung upaya pemerintah dalam rangka pemberantasan pungli sebagaimana tertuang dalam Perpres No.87 tahun 2016 dan SK Gubernur No 2786 tahun 2016 tentang unit pemberatasan pungutan liar. Jangan lupa sebagai salah satu sarana kegiatan yang setiap hari banyak dikunjungi oleh masyarakat pasar rentan terhadap aktifitas pungli. Apalagi banyak fungsi pelayanan terjadi di lingkungan pasar seperti perzinan, parkir, keamanan dan penempatan kios. Nah melalui acara sosialisasi ini kami ingin melakukan pencegahan agar praktek pungli bisa dicegah di lingkungan pasar. Ini agar teman-teman di pasar paham kegiatan-kegiatan seperti apa yang masuk kategori pungli.

Seberapa penting menggelar sosialisasi saber pungli di pasar ?

Di lingkungan pasar, masih banyak orang yang nggak paham bahwa memungut uang diluar ketentuan aturan adalah pungli. Dan itu bahaya bagi orang yang nggak tahu. Kecuali bagi orang yang tahu berarti mereka nakal. Jangan sampai mereka belum paham tapi kami sudah melakukan penindakan. Untuk itu kami juga memohon dukungan dari masyarakat agar segera melaporkan bila terjadi tindakan pungli yang ada di lingkungan Pasar Jaya. Caranya dengan menghubungi nomor 081280080063. Dipastikan, setiap pengaduan yang masuk akan ditindaklanjuti.

Lalu apalagi yang anda nilai penting untuk peningkatan penerapan GCG di Pasar Jaya ?

Yang juga tak kalah penting adalah pentingnya segera melangkapi komposisi di Dewan Pengawas Perumda Pasar Jaya yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Anggota. Saat ini baru Sekretaris Badan/Dewan Pengawas saja yang terisi, sementara dua posisi lainnya di Dewan Pengawas masih kosong. Sudah 6 bulan posisi Ketua Dewan Pengawas kosong, sementara anggota Dewan Pengawas sudah 10 bulan kosong.

Tags
Close