SOSOK

Menuai Citra Positif Dengan Media Sosial

Kepala Dinas Kebersihan Isnawa Adji (aline)
Kepala Dinas Kebersihan Isnawa Adji (aline)

Jakarta Review – Dinas Kebersihan DKI Jakarta makin serius menggunakan media sosial untuk mempublikasikan hasil kerjanya. Sebagai wujud transparansi kepada publik pilihan menggunakan media sosial tersebut terbukti berhasil menumbuhkan citra positif kepada dinas yang berkantor di bilangan Cililitan ini.

Sudah lebih dari setahun Isnawa Adji memimpin Dinas Kebersihan Jakarta. Hasilnya dibawah kepemimpinannya banyak perubahan yang dilakukan. Terutama menyangkut budaya kerja untuk mengoptimalkan peran IT dan media sosial untuk menunjang pekerjaan di Dinas Kebersihan.

Mantan Camat Tambora ini mengatakan pihaknya berharap pegawai di lingkungan Dinas Kebersihan DKI Jakarta akan lebih melek terhadap IT. Hal ini sesuai harapan harapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama agar menjadi mudah menilai kinerja SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).

Untuk mengoptimalkan pemahaman jajarannya terhadap IT, belum lama ini PHL dan staf seksi kebersihan di tingkat kecamatan diberikan pelatihan optimalisasi penggunaan handphone dari Dinas Komunikasi Informatika dan Kehumasan DKI Jakarta. Pelatihan sengaja diberikan agar jajarannya tersebut terampil menggunakan IT dan media sosial.

Mereka inilah yang harus bisa mengakomodir seluruh pengaduan kritik dan saran dari hal-hal yang tidak sesuai dengan di lapangan. Tentunya ini akan menjadi perhatian kita untuk perbaikan kualitas jajaran kebersihan,” ujar Kepala Dinas Kebersihan DKI Isnawa Adji kepada Jakarta Review.

Hasil dari pelatihan tersebut, jajaran PHL Dinas Kebersihan sampai dengan petugas kebersihan yang ada dikecamatan kini makin memahami manfaat IT untuk menunjang pekerjaan. Tak ayal mereka kini mahir memanfaatkan jejaring media sosial untuk mempublikasikan hasil pekerjaan mereka kepada khalayak. “Mereka wajib report harian via media sosial Twitter @kebersihandki. Ada Facebook tiap kecamatan, Path, dan Instagram. Mereka wajib tindak lanjuti pengaduan masyarakat. Alhamdulillah Dinas Kebersihan jadi SKPD paling responsif di Qlue,” terangnya sambil tertawa.

Alumni STPDN ini mengatakan, dirinya memang sengaja meminta teman-teman pekerja harian lepas (PHL) yang ada di badan air ataupun di jalan agar setiap hari mengupload hasil pekerjaan dari sudut angle yang sama before and after di jejaring media social entah itu melaui group whatsapp, facebook ataupun twiter. Laporan mereka bukan untuk saya selaku atasan mereka, tapi untuk warga Jakarta sebagai wujud transparansi bahwa kita bekerja dengan benar untuk kepentingan warga Jakarta, jelasnya.

Dengan publikasi di jejaring sosial, Ayah tiga anak ini berharap mendapat respons balik dari masyarakat. Termasuk kritik dan saran. “Dengan semakin terbukanya komunikasi informasi tentunya akan menjadi fungsi check and balances bagi pemerintah daerah untuk lebih mengoptimalkan peran-peran Pemda,” ungkap birokrat yang memang sudah lama akrab dengan media social ini.

Menurutnya kemajuan teknologi membuat masyarakat dengan mudah melihat kinerja dan mengontrol hasil kerja dinas yang dipimpinnya.

“Siapapun yang terkoneksi dengan teknologi, mereka dengan sangat mudah mengontrol dan melihat bagaimana kinerja kita. Tanpa kontrol dari media dan publik tentunya sulit bagi kita untuk mengoptimakan kinerja,” tutur lelaki kelahiran 24 Mei 1972 ini.

Kepala Kwartir Cabang Pramuka Jakarta Barat ini tak asal bicara, kini seiring dengan gencarnya penggunaan media social tersebut, warga Jakarta kini mengakui kondisi kali dan sungai di DKI sudah jauh lebih baik kondisinya. Terutama setelah ada trending topic kali dan sungai bersih yang ada di Jakarta.

Ini secara tidak langsung adalah bukti nyata bahwa kerja jajarannya telah mendapat apresiasi dari publik. Dan ini juga membuktikan bahwa kebersihan badan air, waduk, sungai, waduk dan danau sekarang sudah jauh lebih baik dan bukan klaim kita sendiri, paparnya.

Yang menggembirakan tidak hanya yang ada di Jakarta. Teman-teman alumni STPDN di seluruh Indonesia juga mengakuinya. Bahkan beberapa pihak diluar negeri juga mengemukakan komentar yang serupa soal kebersihan sungai dan kali di Jakarta. Ada yang menarik yaitu status facebook orang luar negeri. Selama ini dengan kamera mahal kami di Jakarta acapkali memotret sisi humanity dari perkampungan kumuh dan jorok, rel kereta yang penuh sampah dan kali serta sungai yang jorok dan kotor. Artinya hanya sisi masyarakat yang terpinggirkan. Namun sekarang kondisinya jauh berbeda. Kini dengan berbangga hati dirinya mengabarkan bisa memotret sungai dan danau di Jakarta yang cantik dan bersih bahkan tidak kalah dengan sungai yang ada di Italia.

Lagi-lagi ini adalah peran sosial media yang sangat dahsyat, tandasnya.

Kini Giliran Saluran Penghubung

Selama ini lanjut Adjie untuk Dinas Kebersihan memang memiliki PHL khusus yang menangani kebersihan badan air. PHL badan air inilah yang rutin menangani 13 sungai yang mengaliri Jakarta, dan lebih dari 52 waduk dan situ serta 1118 saluran penghubung yang ada di Jakarta.

Namun dirinya mengakui dari 1118 tersebut belum semuanya tertangani. Nanti seiring dengan pelimpahan kewenangan pengerukan lumpur dari dinas tata air ke dinas kebersihan di tahun 2017. Kita akan fokus juga menangani saluran penghubung. Selama ini memang banyak ditangani oleh Dinas Tata Air. Tapi kita juga sebenarnya mulai ikut menangani. Mungkin PHL Tata Air lebih kepada pengerukan lumpurnya, sementara kita dinas kebersihan lebih kepada kebersihan sampahnya.

Yang masih perlu dioptimalkan oleh PHL badan air kami adalah penanganan saluran penghubung kali kali kecil dan got kecil yang ada di pemukiman warga. Selama ini kita fokus di sungai yang besar. Tahun depan kita akan masuk ke PHB yang lebih kecil lagi, cetusnya.

Untuk kali atau sungainya kini sudah jauh berbeda. Kalau dulu mencari sungai dan kali bersih susah. Tapi kini sejak dirinya menjadi kadis, saya tantang warga Jakarta kasih tahu saya untuk menemukan sungai atau kali yang kotor. Pengertian kotor disini adalah yang sudah berminggu-minggu tak tertangani. Kalau hanya hitungan jam, itu saya akui pasti masih ada yang kotor karena mungkin malamnya hujan lalu paginya banyak sampah. Nah itu agak biasa. Tapi kalau ada kali sungai tersumbat sampahnya banyak karena tidak tertangani dengan baik, tolong laporkan ke saya. Saya jamin PHL nya hilang semua. Kalau kalinya nggak bersih, PHL nya saya akan bersihkan semua, ungkapnya seraya menuturkan sejak menjadi kadis dirinya sudah mencopot 171 PHL Badan Air yang bermasalah.

Khusus untuk penanganan sungai dan waduk, saat ini Dinas Kebersihan DKI telah menampatkan 52 alat berat dari berbagai jenis. Kami punya mulai dari mini eskavator dan spider. Spider dibutuhkan untuk pembersihan kali dan sungai untuk akses yang sulit. Kita tempatkan di pintu air, waduk, atau saringan hek di Jagorawi dan lain-lain. Mereka harus bekerja 24 jam khususnya kalau musim penghujan. Nggak boleh ada cerita sampah nyangkut di saringan pintu air.

Untuk mengoperasikan alat berat itu kini kita punya 3046 khusus PHL Badan air di badan sungai, kali, waduk dan pesisir pantai. Namun untuk totalnya Dinas Kebersihan memiliki 13.000 an PHL. Ini termasuk yang sudah dilimpahkan ke tiap kelurahan.

Ada 3000 an PHL penyapu jalan yang kita limpahkan dikeluruhan. Namun penggajiannya masih ada sama kita, terangnya.

Selain di air, ada juga PHL Dinas Kebersihan yang membersihkan jalanan.

Perlu diketahui pada saat kita mungkin sudah tertidur nyeyak. Ada petugas kita yang mengoperasikan 30 road swepper kendaraan penyapu otomatis yang membersihkan jalan protokol, underpass, fly over, jalur trans Jakarta. Mereka bekerja mulai dari jam 00.00 sd 05.00 WIB.

Jangan heran pagi hari, saat kita melalui jalan di Ibukota kondisinya sudah bersih semua,tuturnya.

Dalam penanganan saluran PHB, refungsi saluran menjadi penting. Karena seringkali di pemukiman warga ditemukan saluran PHB yang kondisinya tertutup bangunan. Akibatnya terjadi pendangkalan atau sedimentasi sehingga airnya tidak bisa mengalir dan menjadi genangan dan pada akhirnya menyebabkan banjir.

Nah untuk mengatasi ini, saya menghimbau kita semua bahu membahu ikut bertanggung jawab membereskan masalah ini. Jangan warga hanya teriak, ternyata penyakitnya ada pada mereka sendiri,pungkasnya. (win)

 

 

 

 

 

 

Tags

Artikel Terkait

Close