BUMD

Penting untuk Pencegahan Stunting, PT Food Station Usulkan Susu Masuk dalam Bantuan Pangan

Dirut PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi saat menyampaikan paparan dalam webinar mengenai susu yang digelar oleh Pusat Kajian Pertanian dan Advokasi, Senin (31/8). (dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Dalam situasi pandemi seperti yang terjadi saat ini, konsumsi susu untuk anak-anak menjadi sangat penting untuk menunjang kecukupan vitamin dan mineral untuk menambah imunitas diri sebagai pertahanan utama untuk melawan virus.

”Kecukupan vitamin D di dalam tubuh sangat krusial saat ini, karena anak-anak sekolah lebih banyak tinggal dirumah saja dan semakin jarang terkena sinar matahari. Selain itu prebiotic untuk pencernaan juga sangat penting, karena dengan dirumah saja otomatis gerak tubuh berkurang tidak seperti biasanya,” ujar Direktur PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi saat memberikan paparan dalam Webinar Pusat Kajian Pertanian dan Advokasi, Senin (31/8).

Terkait hal tersebut, Arief mengusulkan agar komoditas susu dimasukkan dalam program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang diberikan kepada keluarga penerima manfaat.

”Upaya peningkatan konsumsi susu cukup penting pada masa saat ini karena itu saya usulkan susu dimasukkan dalam BPNT karena susu mengandung zat yang memang diperlukan untuk menambah energi,” jelas Arief.

Dalam kegiatan webinar yang mengambil tema Ekonomi Susu: Gairah Peternak, Penguatan Ketahanan Pangan Protein dan Pemberantasan Stunting yang  dilaksanakan secara daring tersebut, sejumlah narasumber tampil sebagai pembicara. Beberapa narasumber tersebut antara lain Direktur PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi, Akademisi IPB Epi Taufiq dan Ketua KPSBU Lembang Dedi Setiadi.

Arief mengatakan, PT Food Station sebelumnya telah memasukkan komoditas susu dalam program Kartu Jakarta Pintar Plus yang diberikan kepada 1 juta penerima manfaat setiap bulannya. Susu tersebut merupakan susu lokal yang diproduksi dari Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KSPBU) sehingga dipastikan bukan susu impor.

Hanya saja, lantaran adanya pandemi Covid-19, program-program bantuan sosial diutamakan untuk komoditas pangan pokok. Sementara, sumber protein susu seperti protein tidak diberikan rutin. Adapun pasokan susu yang telah disiapkan, alhasil dijual secara komersial.

Pemerintah pun diketahui telah memperpanjang program bantuan sosial berupa BPNT senilai Rp 200 ribu per bulan hingga akhir Desember 2020 dari biasanya Rp 150 ribu per bulan.

Menurut Arief, susu perlu dimasukkan dalam program tersebut seiring adanya penambahan alokasi sekaligus momentum meningkatkan konsumsi susu dalam negeri.

“Diperlukan komitmen politik pemerintah karena dengan meningkatkan konsumsi susu sekaligus dapat mencegah stunting,” cetusnya.

Dikatakan Arief, biasanya dalam situasi normal sebelum pandemi, anak-anak bangun pagi, berangkat ke sekolah, bermain di lapangan dan berolahraga bersama teman-teman dan guru. Setelah itu setelah pulang sekolah, anak-anak ikut les tari, main sepakbola, basket atau bermain sepeda misalnya.

“Nah dengan banyaknya aktifitas tersebut susu diperlukan untuk dikonsumsi karena susu mengandung asupan tambahan vitamin D dan prebiotic sangat penting untuk menopang banyak aktifitas tersebut,” tandas Arief. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close