BUMDKORPORAT

Pusdiklat PD Pasar Jaya antara Pembinaan Internal dan Pengayoman Pedagang

Direktur SDM PD Pasar Jaya Budi Susanto. (Sigit Artpro)

Jakarta Review – Di era persaingan yang makin kompetitif seperti sekarang, keberadaan SDM yang handal adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan. Menyadari hal tersebut, baru-baru ini PD Pasar Jaya mendirikan Pusdiklat di bekas kantor pusat mereka yang berlokasi di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.

“Perkembangan terbaru memandang karyawan bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan sebagai aset bagi institusi. Karena itu upaya peningkatan SDM adalah sebuah kebutuhan,” ujar Kepala Bagian SDM PD Pasar Jaya Budi Susanto kepada Jakarta Review 26/5/2017.

Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat PD Pasar Jaya mendirikan pusdiklat. Pertama adalah perkembangan pekerjaan di PD Pasar Jaya yang makin mengarah ke otomatisasi.

“Sejak tahun 2015, seluruh pasar yang kami kelola sudah full menerapkan cash management system (CMS) dari beberapa bank. Persoalannya selama ini masih banyak SDM kami yang terbiasa memungut cukai kepada pedagang. Akibatnya mereka otomatis harus menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut,” tutur Budi.

Budi menambahkan hingga akhir tahun 2016 jumlah SDM PD Pasar Jaya jumlahnya telah mencapai 990 an orang. Dan hampir 40 persen diantaranya tingkat pendidikannya berada ditingkatakan SLTA kebawah. Sementara secara umur 35 persennya berusia diatas 50 tahun.

“Nah ini adalah problem kedua yang harus dibenahi. Karena rata-rata mereka tidak familiar dengan penggunaan komputer. Padahal perkembangan pekerjaan yang ada sudah mengarah kesana,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kapasaitas SDM tersebut, Pusdiklat menyelenggarakan beberapa program pendidikan. Misalnya bekerjasama dengan PKBM untuk menggelar program kejar Paket A, B dan C.

“Tahun lalu ada 48 karyawan ikut paket A B dan C. Kami ingin paling tidak diatas kertas pendidikan karyawan kita menjadi jauh lebih baik pada saat mereka mencapai usia pensiun,” cetusnya.

Selain itu kami juga menyediakan ruangan laboratorium komputer didalam pusdiklat. Di lab tersebut, kami bekerjasama dengan vendor yang biasa menggelar kursus komputer untuk menggelar pelatihan komputer. Agar efektif, pelatihan dilaksanakan di laboratorium komputer yang kapasitasnya kami batasi hingga 15 orang.

“Buat sebagian orang hari ini komputer itu hal yang biasa, tapi buat orang yang nggak pernah atau jarang menggunakan komputer itu jadi soal,” terangnya.

Pembinaan Pedagang

Aspek lain yang dipertimbangkan dalam pendirian pusdiklat adalah pengayoman pedagang. Selama ini kami belum memiliki sarana yang memadai untuk memberikan pembinaan kepada pedagang. Misalnya saat mereka mengikuti peyuluhan tentang keamanan pangan dari BPOM, pelatihan manajemen dari Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM serta perbankan.

“Sebelumnya kita pakai kantor cabang yang ada untuk mengumpulkan mereka saat ada penyuluhan adan pembekalan baik dari Disperindag, Perbankan dan pihak mana saja,” tuturnya

Dengan keberadaan pusdiklat ini harapannya paling tidak bisa jadi sarana pengayoman untuk pedagang dari sisi interaksi dengan mereka.

“Memang tidak semua penyuluhan untuk pedagang kita arahkan ke pusdiklat. Karena ada beberapa kantor area yang secara space memungkinkan untuk mengundang mereka ya kita arahkan kesana. Tapi kalau yang dekat sini kita arahkan kesini,” tandasnya.

Selain itu salah satu misi kita juga bisa dioptimalkan dengan BUMD lain.

“Kita sudah kordinasi dengan BP BUMD. Orientasi kita training soft skill kita bisa share ke BUMD lain. satu untuk internal karyawan, pedagang, BUMD lain, lalu keempat untuk retail bisnis (University perpasaran),” pungkasnya. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close