JAKARTA, jakrev.com – Kabar positif datang dari wilayah pesisir Jakarta. Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu melaporkan adanya penurunan signifikan pada kasus kebakaran sepanjang bulan suci Ramadan tahun ini.
Berdasarkan data terbaru, tercatat hanya terjadi 15 peristiwa kebakaran di wilayah tersebut. Angka ini menunjukkan penurunan tajam sekitar 40 persen jika dibandingkan dengan periode Ramadan tahun lalu yang mencapai 25 kejadian.
Kepala Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, Budi Haryono mengungkapkan bahwa mayoritas objek yang terbakar masih didominasi oleh bangunan tempat tinggal.
“Dari total 15 kejadian, tujuh di antaranya merupakan bangunan perumahan. Selebihnya tersebar pada instalasi listrik luar gedung, bangunan umum, pergudangan, hingga sektor industri dan kendaraan,” ujar Budi dalam keterangannya, Jumat (20/3/2026).
Pemetaan Wilayah Rawan
Secara geografis, Kecamatan Pademangan menjadi wilayah dengan intensitas kebakaran tertinggi, yakni empat kejadian. Disusul oleh Kecamatan Penjaringan dengan tiga kasus, serta Tanjung Priok dan Cilincing masing-masing dua kasus.
Sementara itu, wilayah Kecamatan Koja, Kelapa Gading, dan Kepulauan Seribu Selatan relatif lebih aman dengan masing-masing hanya mencatatkan satu kejadian kebakaran.
Faktor Kesadaran Masyarakat
Budi menilai, tren positif ini tidak lepas dari peran aktif warga. Menurunnya angka kebakaran menjadi indikator bahwa tingkat kewaspadaan dan kesadaran masyarakat dalam mencegah potensi pemicu api mulai meningkat secara kolektif.
Meski demikian, pihak Gulkarmat tidak ingin lengah. Sosialisasi mengenai bahaya kebakaran serta edukasi penanganan dini akan terus digencarkan ke pemukiman penduduk.
“Kami mengapresiasi masyarakat, namun tetap kami imbau untuk selalu waspada. Terlebih saat memasuki musim liburan, pastikan kondisi rumah aman sebelum ditinggalkan,” tegasnya.
Penurunan angka kebakaran ini diharapkan menjadi momentum bagi warga Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu untuk terus mempertahankan budaya tanggap bencana, demi menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman.


