BIROKRASI

Butuh Waktu agar Masyarakat Menyukai Daging Sapi Beku

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Suharini Eliawati. (dok: Istimewa) 

Jakarta Review, Jakarta – Warga DKI Jakarta sejauh ini masih cenderung lebih menyukai daging segar daripada daging beku untuk dikonsumsi. Karena itu masih dibutuhkan waktu agar warga Jakarta bisa menyukai daging beku layaknya daging segar. Kondisi ini berbeda dengan daging ayam, karena warga Jakarta sudah tidak ada masalah dengan daging ayam beku.

Paparan tersebut disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Suharini Eliawati saat diwawancarai Jakarta Review beberapa waktu yang lalu.

“Masyarakat sudah lebih menerima daging ayam beku daripada daging sapi beku. Ini mungkin karena daging ayam beku sudah lebih dulu disosialisasikan kepada masyarakat,” ujar Suharini.

Menurutnya berdasarkan pada pengalaman penerimaan masyarakat terhadap daging ayam beku, setidaknya dibutuhkan waktu 5 tahun.

“Butuh waktu setidaknya 5 tahun agar masyarakat memahami bahwa ayam beku sejatinya adalah ayam yang aman, sehat, utuh dan halal. Setelah itu mereka yakin bahwa ayam beku dan ayam segar itu sama saja dan kini masyarakat sudah terbiasa mengkonsumsi daging ayam beku,” ujar Suharini.

Singkatnya memang dibutuhkan waktu untuk secara bertahap dan tanpa henti untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka menyukai daging beku.

“Jadi masyarakat akan paham bahwa daging beku adalah bukan daging sisa yang tidak laku dijual kemudian dibekukan. Tapi daging yang habis dipotong kemudian diproses atau dikemas dalam bentuk kiloan,” ungkapnya.

Suharini menambahkan, sejatinya DKPKP DKI Jakarta sudah mensosialisasikan konsumsi daging sapi beku melalui Program Pangan Murah KJP dengan melibatkan BUMD Pangan. Nah karena sementara ini programnya berhenti sosialisasi dilakukan dengan membuat flyer-flyer. Selain itu PD Dharma Jaya juga aktif melakukan sosialisasi yang intinya menginformasikan kepada khalayak luas bahwa tidak ada bedanya kandungan gizi antara daging segar dan daging beku.

“Sementara ini kalau dipersetasikan porsinya 60 persen masyarakat masih lebih menyukai daging sapi segar, sisanya 40 persen sudah nggak ada masalah dengan konsumsi daging sapi beku,” jelasnya.

Dengan demikian lanjut Suharini, memang dibutuhkan waktu untuk secara bertahap dan tanpa henti untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Berikutnya bagaimana kita melengkapi kios-kios dan gerai-gerai penjualan daging yang ada dengan mesin freezer atau mesin pendingin yang berguna untuk memperpanjang masa awet produk makanan terutama produk frozen food (makanan beku).

Related Articles

Back to top button