MEGAPOLITAN

BPJS Ketenagakerjaan Bidik Peningkatan Kepesertaan di PIBC

Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Rawamangun Deny Yusyulian saat menggelar wisata akuisisi peningkatan kepesertaan jaminan sosial di sebuah lokasi binaan yang ada di Jakarta. (dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – BPJS Ketenagakerjaan Rawamangun terus berupaya meningkatkan kepesertaan di areal Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur. Pasalnya PIBC adalah salah satu dari 7 pasar yang ada di area Jakarta Timur yang menjadi target peningkatan kepesertaan jaminan sosial. Adapun sejumlah pasar lainnya adalah Pasar Jatinegara, Pasar Enjo, Pasar Klender, Pasar Jangkrik, Pasar Kampung Ambon, Pasar Bidadari dan Pasar Sunan Giri.

“Ada 8 pasar yang menjadi tanggung jawab area kami, dan Pasar Induk Beras Cipinang adalah pasar yang potensial selain Pasar Jatinegara dalam hal upaya peningkatan kepesertaan jaminan sosial,” ujar Deny Yusyulian selaku Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Rawamangun.

Deny menjelaskan hingga saat ini ada 453 anggota Koperasi Pekerja Bongkar Muat PIBC yang menjadi peserta jaminan sosial dan 59 diantaranya mengikuti program jaminan hari tua (JHT). Sementara itu baru 16 kios pedagang yang menjadi peserta dengan peserta jaminan sosial sebanyak 71 orang.

“Jadi potensi untuk peningkatan kepesertaan jaminan sosial di lingkungan PIBC masih sangat besar. Pasalnya menurut catatan jumlah pekerja bongkar muat ada 1200 orang sementara ada ratusan kios di PIBC dengan jumlah karyawan yang tidak sedikit,” ungkap Deny.

Deny menambahkan pekerja di pasar tersebut rata-rata mendaftar dua program yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) pada kategori kepesertaan Bukan Penerima Upah BPU. Sementara yang mengikuti program jaminan hari tua (JHT) masih terbatas. Padahal nilai manfaat yang akan diperoleh peserta akan lebih lengkap jika mereka ikut juga dalam program JHT karena selain mendapatkan jaminan saat kecelakaan kerja dan jaminan kematian, mereka juga mendapatkan jaminan hari tua.

Karena hanya mengikuti 2 program jaminan sosial saja. Akibatnya kalau peserta  berhenti mengikuti program jaminan ini, mereka tidak punya uang. Tapi kalau mereka ikut JHT dengan konsep menabung, mereka akan punya tabungan yang bisa dimanfaatkan pada saat dibutuhkan.

“Jangan lupa kita harus menyiapkan diri pada saat fisik yang kita miliki tidak lagi bisa mengakomodir pekerjaan kita. Nah kalau kita telah mengikuti program JHT paling tidak kita punya bekal yang bisa digunakan pada saat yang tidak diinginkan tersebut,” cetus Deny.  (win)

Tags

Artikel Terkait

Close