Jakarta Review – DKI Jakarta pada Maret 2026 mencatat inflasi sebesar 0,51% (mtm), melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,63% (mtm) meskipun sedikit di atas laju inflasi nasional sebesar 0,41% (mtm).
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan tekanan inflasi terutama dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan musiman selama Ramadan–Idulfitri. Namun demikian, sinergi berbagai kebijakan pengendalian harga di tingkat pusat dan daerah turut menahan kenaikan harga.
“Secara tahunan, inflasi Jakarta pada Maret 2026 tercatat 3,37% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya (4,91%; yoy) maupun nasional (3,48%; yoy).” kata Iwan Setiawan, di Jakarta, Selasa, 1 April 2026.
Menurunnya tekanan inflasi tahunan antara lain dipengaruhi oleh berkurangnya faktor base effect diskon tarif listrik pada awal 2025 yang semakin terbatas.
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan sebesar 1,46% (mtm), melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 2,23% (mtm). Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas daging ayam ras, beras, dan cabai merah, seiring meningkatnya permintaan selama periode Ramadan–Idulfitri. Selain itu, terbatasnya distribusi dari sentra produksi selama periode Idulfitri turut mendorong tekanan harga pada komoditas tersebut.
Kenaikan permintaan menjelang Idulfitri mendorong inflasi kelompok Pakaian dan Alas Kaki sebesar 1,15% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,30% (mtm).
Peningkatan berasal dari komoditas celana panjang jeans pria dan celana pendek pria. Sementara itu, kelompok Transportasi mengalami inflasi 0,41% (mtm) setelah sebelumnya deflasi 0,35% (mtm). Kenaikan ini dipicu penyesuaian harga BBM non-subsidi per 1 Maret 2026 dan kenaikan tarif angkutan antarkota seiring tingginya permintaan perjalanan. Tekanan inflasi pada kelompok ini tertahan oleh dukungan insentif diskon transportasi untuk angkutan udara, kereta api, dan tol selama periode Idulfitri.
Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi sebesar 0,56% (mtm), menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,72% (mtm). Kenaikan harga terutama terjadi pada parfum, sampo, dan produk perawatan wajah seiring meningkatnya permintaan musiman.
Sementara itu, komoditas emas perhiasan mengalami inflasi dengan tekanan yang lebih terbatas, sejalan dengan perkembangan harga global yang cenderung melemah.
Selama Ramadan–Idulfitri, TPID DKI Jakarta memperkuat stabilisasi harga melalui pasar murah dan program Pangan Bersubsidi, penguatan pasokan dari panen urban farming, serta kerja sama BUMD pangan dengan produsen. Kelancaran distribusi dijaga melalui truk keliling BUMD dan fasilitasi distribusi pangan dari Bank Indonesia untuk memperluas jangkauan Pasar Murah.
Selain itu, rapat koordinasi teknis TPID dilaksanakan secara rutin, didukung komunikasi efektif melalui podcast dan iklan layanan masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi.
Ke depan, strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) terus diperkuat untuk memitigasi rambatan risiko global yang berpotensi memengaruhi inflasi, seperti (i) dampak lanjutan dari konflik geopolitik di Timur Tengah, (ii) fragmentasi perdagangan, (iii) volatilitas harga komoditas, dan (iv) tekanan nilai tukar. Selain itu, risiko domestik juga perlu diantisipasi, termasuk potensi terjadinya fenomena El Nino kuat (Godzilla El Nino) yang diprediksi berlangsung pada periode Mei hingga November 2026 dan berpotensi menyebabkan kekeringan panjang, khususnya di wilayah Selatan Indonesia, termasuk Pulau Jawa. Dengan sinergi yang diperkuat dalam TPID Provinsi DKI Jakarta, inflasi DKI Jakarta diharapkan akan terkendali dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1% di sepanjang 2026.


