MEGAPOLITAN

Juli 2023, Inflasi di Jakarta Masih Terkendali

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Arlyana Abubakar. (dok: BI Jakarta)

Jakarta Review, Jakarta – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Juli 2023, Jakarta yang share inflasinya 26,90% terhadap nasional, mencatatkan inflasi sebesar 0,19% mtm dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,01% mtm. Inflasi Juli 2023 terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi; makanan, minuman, dan tembakau; serta penyediaan makanan dan minuman/restoran.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Arlyana Abubakar mengatakan, dengan perkembangan tersebut, inflasi Jakarta secara kumulatif (Januari s.d Juli 2023) tercatat sebesar 1,14% (ytd). Namun demikian, secara tahunan inflasi Jakarta masih terkendali yaitu sebesar 2,81% yoy, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (3,20% yoy) dan inflasi nasional (3,08% yoy).

“Kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,71% mtm, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mengalami deflasi -0,41% mtm sehingga menyumbang 0,09% terhadap inflasi Jakarta” ujarnya dalam keterangan resmimnya, (2/8).

Menurutnya, inflasi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara dan angkutan antar kota sebagai dampak dari tingginya permintaan pada periode libur anak sekolah.

Selanjutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,29% mtm, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya (0,20% mtm) sehingga memberikan andil sebesar 0,06%. Kenaikan inflasi pada komoditas tersebut terutama bersumber dari peningkatan harga pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras sejalan dengan meningkatnya harga pakan dan meningkatnya permintaan masyarakat pasca kepulangan haji.

Selain itu, harga cabai merah juga meningkat didorong oleh menurunnya pasokan akibat telah berlalunya periode panen di daerah sentra produksi. Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mengalami inflasi sebesar 0,17% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan lalu (0,06% mtm) dan memberikan andil sebesar 0,02%. Kenaikan inflasi pada kelompok tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada ketoprak, sate, dan ayam bakar sejalan dengan kenaikan harga bahan baku pangan (daging ayam ras dan telur ayam ras).

Menurutnya, realisasi inflasi DKI Jakarta yang masih terkendali tersebut tentunya tidak terlepas dari hasil sinergi, kolaborasi serta koordinasi yang baik dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta, termasuk dalam rangka implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Selama Juli 2023, TPID Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pengendalian inflasi, antara lain:

  1. Coaching clinic bumbu pangan olahan UMKM binaan/mitra KPw BI Provinsi DKI Jakarta dalam rangka penguatan hilirisasi pangan;
  2. Kunjungan bersama Perumda Pasar Jaya ke Pasar Tanah Tinggi Tangerang Banten dan PT Berdikari dalam rangka sinergi ketahanan pangan dan pengelolaan pasar serta kolaborasi dalam pemenuhan pasokan daging sapi dan daging ayam ras di DKI Jakarta;
  3. Visitasi dan monitoring pasokan pangan oleh Food Station ke mitra kerjasama on farm dan stand by buyer;
  4. Gerakan Pangan Murah berkolaborasi dengan Perumda Dharma Jaya dalam rangka pemenuhan permintaan daging ayam ras; serta
  5. Rapat koordinasi TPID mingguan dalam rangka pemantauan stok dan harga.

Ke depan, sinergi dan kolaborasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan Bank Indonesia serta seluruh stakeholder terkait yang tergabung dalam TPID Jakarta akan terus diperkuat untuk memastikan strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif) dalam pengendalian inflasi dapat berjalan baik dan efektif, serta terus mendorong Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sehingga inflasi Jakarta diharapkan dapat tetap terkendali dalam sasaran 3,0±1% pada sisa tahun 2023.

Related Articles

Back to top button