
Jakarta Review, Jakarta – Pengetatan larangan mudik tahun ini untuk mencegah penyebaran covid 19, berpotensi menggairahkan perekenomian di DKI Jakarta dan sekitarnya. Hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi yang mulai membaik dengan pertumbuhan ekonomi kita di kuartal I-2021.
Pandangan tersebut diutarakan oleh Ketua Umum DPD HIPPI DKI Jakarta Sarman Simanjorang kepada sejumlah awak media, Satu 8/5/2021.
Menurutnya walaupun masih terkontraksi -0,74%, namun sudah mengalami peningkatan dibanding dengan kuartal IV-2020 sebesar -2,19%, ‘kemudian adanya peningkatan jumlah perusahaan yang memiliki kemampuan membayar THR serta cairnya THR untuk ASN,TNI-Polri dan pensiunan.
“Biasanya uang ini akan mengalir ke daerah tujuan mudik, namun karena larangan mudik yang sangat ketat maka uang tersebut berpotensi akan beredar di Jakarta dan sekitarnya,” ujar Sarman.
Ia mengatakan warga Jakarta yang tidak pulang kampung akan ramai mengunjungi Mall, hotel, restoran, café, pusat hiburan/wisata seperti Ancol, TMII, KB Ragunan, Monas, kota tua dan Kepulauan Seribu dan lainnya di kawasan Bodetabek dan disana akan terjadi transaksi ekonomi yang signifikan yang akan mengairahkan perekonomian Jakarta dan sekitarnya.
“Setiap tahun biasanya sekitar 7 jutaan atau setara 2,5 juta keluarga warga Jabodetabek mudik ke kampung halaman dan mengalirkan uang ke daerah mencapai 10 triliun, namun tahun ini keluarga di kampung hanya menerima kiriman uang lebaran karena larangan mudik,” ungkap Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin DKI Jakarta ini.
Sarman menambahkan, untuk mengisi liburan Idul Fitri tahun ini, warga Jabodetabek akan mengunjungi berbagai tempat santai bersama keluarga dan diperkirakan akan terjadi perputaran uang sebesar 1,25 triliun dengan asumsi per keluarga membelanjakan paling sedikit 500 ribu rupiah selama liburan Idul Fitri 1442 H.
“Ini perkiraan perputaran uang paling rendah dan ada kemungkinan diatas itu. Dengan adanya perputaran tersebut akan meningkatkan konsumsi rumah tangga dan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta dan nasional,” jelas Sarman.
Data Bank Indonesia menyebutkan peredaran uang dalam bentuk uang tunai selama masa Idul Fitri 1442 diseluruh Indonesia diperkirakan sebesar 152,14 triliun, meningkat sebesar 39,33% (yoy) dibandingkan tahun lalu sebesar Rp109,20 triliun. Jika perputaran uang ini terealiasi selama masa Idul Fitri maka akan sangat efektif untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal II-2021 yang dipatok di angka 7%, naik signifikan dari kuartal I-2021 yang masih minus 0,74%.
Lebih lanjut Sarman menjelaskan, untuk mengantisipasi penyebaran covid 19 selama musim liburan Idul Fitri 2021 di DKI Jakarta dan sekitarnya agar Pemerintah dapat mempersiapkan satgas atau petugas keamanan untuk melakukan sosialiasi, pengawasan dan pemberian sanksi bagi pengunjung yang tidak disiplin melaksanakan protokol kesehatan, terutama tempat-tempat yang berpotensi bakal ramai dikunjungi seperti Mall dan pusat wisata.
“Kita harus pastikan bahwa paska libur Idul Fitri tidak terjadi lonjakan penyebaran covid 19 yang nantinya akan dapat mengganggu berbagai aktivitas bisnis dan perekonomian, larangan mudik tujuannya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid 19, kita mengajak kepada seluruh warga Jakarta dan sekitarnya agar tetap merayakan Idul Fitri dirumah bersama keluarga. Namun jika ada rencana keluar rumah agar tetap disiplin dan taat melaksanakan potokol kesehatan untuk keselamatan Bersama dan percepatan pemulihan ekonomi nasional,” tandasnnya.

