JAKARTA, jakrev.com – Momentum silaturahmi Idul Fitri 1447 H di Balai Kota DKI Jakarta menjadi panggung aspirasi bagi komunitas penyintas.
Perwakilan Kawan Stroke Indonesia (KaSI) hadir menemui Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno untuk menyuarakan urgensi penanganan stroke yang lebih terintegrasi di Jakarta, Sabtu (21/3/2026).
Pendiri sekaligus Pembina KaSI, Phillips Gunawan menegaskan bahwa stroke bukan sekadar isu kesehatan biasa, melainkan penyebab kecacatan nomor satu di Indonesia bahkan dunia. Di hadapan pimpinan Jakarta, dia menyoroti perlunya standar pelayanan rumah sakit yang lebih responsif.
Urgensi Sistem ‘Code Stroke’ Terpadu
Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah penguatan sistem Code Stroke di setiap rumah sakit milik daerah. Menurut Phillips, penanganan stroke adalah balapan dengan waktu (time is brain).
“Rumah sakit harus memiliki penanganan code stroke yang cepat dan melibatkan berbagai lini, mulai dari farmasi hingga radiologi secara berkelanjutan,” ujar Phillips yang telah berjuang dalam proses pemulihan stroke selama lima tahun terakhir, seperti dikutip dari laman resmi Pemprov DKI, Sabtu (21/3/2026).
Dia menambahkan, fasilitas layanan stroke saat ini masih memerlukan peningkatan signifikan agar mampu menekan angka kecacatan permanen pada pasien.
Waspada Tren Stroke Usia Muda
Dalam dialog tersebut, KaSI juga mengingatkan pemerintah mengenai pergeseran demografi penderita. Saat ini, stroke tidak lagi hanya menyerang lansia, tetapi mulai marak ditemukan pada warga usia produktif atau usia muda.
Kondisi ini menuntut Pemprov DKI untuk lebih masif melakukan edukasi kewaspadaan di tengah masyarakat. Terlebih, proses pemulihan pasca-stroke membutuhkan waktu yang sangat panjang dan latihan konsisten.
Perhatian untuk Penyintas Ekonomi Lemah
Selain aspek medis, Phillips membawa misi kemanusiaan terkait aksesibilitas pengobatan. Dia berharap Pemprov DKI memberikan perhatian khusus bagi penyintas stroke dari kalangan ekonomi lemah.
“Banyak penderita yang berasal dari golongan ekonomi rendah sangat membutuhkan bantuan pendampingan jangka panjang. Kami berharap pemerintah lebih peduli dan hadir bagi mereka,” tuturnya.
Kehadiran KaSI di Balai Kota diharapkan menjadi pembuka ruang dialog yang lebih luas antara komunitas penyintas dengan pengambil kebijakan, demi mewujudkan Jakarta yang lebih ramah bagi penderita penyakit katastropik.

