MEGAPOLITAN

Ombudsman Sebut Badan Karantina Kementan Lalai Cegah PMK

Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika. (dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Ombudsman menilai Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) gagal dalam membendung penyakit mulut dan kuku (PMK) di wilayah Indonesia. Ombudsman berpandangan ada dugaan maladministrasi Badan Karantina dalam bentuk kelalaian dan pengabaian kewajiban.

“Ombudsman berpandangan terdapat dugaan sangat kuat maladministrasi yang dilakukan Badan Karantina dalam bentuk kelalaian dan pengabaian kewajiban dalam melakukan tindakan pencegahan, setelah mengetahui adanya dugaan kuat telah terjadi infeksi PMK di beberapa daerah di Indonesia,” kata Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika dalam konferensi pers secara daring, Kamis (14/7/2022).

PMK sendiri mulai terdeteksi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada 28 April 2022, kemudian menyebar ke wilayah lainnya. Pada 5 Mei 2022, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur kemudian mendeklarasikan adanya wabah PMK di Jawa Timur, yang kemudian ditindaklanjuti dengan penetapan wabah PMK oleh pihak Provinsi Jawa Timur pada 6 Mei 2022. Selanjutnya pada 9 Mei 2022, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menetapkan wabah PMK pada dua daerah provinsi, yaitu Jawa Timur dan Aceh.

Yeka mengungkapkan, merujuk laporan hasil investigasi dugaan kasus PMK di Jawa Timur oleh BB Veteriner Wates Yogyakarta pada 6 Mei 2022 terkait pemeriksaan tanda klinis (symptom) penyakit, derajat keparahan penyakit, pola dan laju penularan antar ternak dan antar farm, serta pengujian laboratorium mengindikasikan bahwa kasus penyakit hewan menular di Kabupaten Gresik, Lamongan, Mojokerto dan Sidoarjo Provinsi Jawa Timur, pada akhir April sampai awal Mei 2022, disebabkan infeksi virus PMK. “Jadi secara resmi, bukti wabah PMK ini terjadi sejak 6 Mei 2022,” kata dia.

Pada 10 Juni 2022, Ombudsman memperoleh informasi bahwa berdasarkan laporan analisis bioinformatika virus PMK oleh BB Veteriner Wates Yogyakarta, virus PMK yang dikoleksi dari penyakit ternak sapi dan kambing pada Mei 2022 di Indonesia tergolong dalam serotype O, topotype ME-SA, galur (lineage) Ind-2021, dan sub-linage ‘e’ atau disebut juga sebagai O/ME-SA/Ind-2001e. Hal ini membuktikan bahwa carrier PMK di Indonesia adalah sapi dan kambing.

“Ombudsman menilai, rentang waktu dari 6 Mei 2022 (laporan investigasi dugaan kasus PMK) ke 10 Juni 2022 (laporan analisis bioinformatika virus PMK), adalah rentang yang sangat lama. Terdapat dugaan kelalaian yang dilakukan oleh otoritas veteriner, mengingat laporan bioinformatika virus PMK semestinya dapat diberikan selambat-lambatnya pada 16 Mei 2022,” ujar Yeka.

Dengan tingginya morbiditas virus PMK, pada 13 Juni 2022 sebaran kasus sudah mencapai 17 provinsi dalam kurun waktu 1 bulan dan per 13 Juli 2022 wabah PMK sudah menyebar di 22 provinsi di Indonesia. Dengan demikian dalam 1 bulan PMK terjangkit di lima provinsi baru yaitu Bali, Sulawesi Selatan, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, dan Bengkulu.

“Ombudsman menilai, dengan adanya penyebaran PMK di lima provinsi baru ini dalam 1 bulan terakhir menandakan Badan Karantina jelas-jelas gagal dan tidak kompeten dalam menahan penyebaran PMK,” tegas Yeka.

Back to top button