DIDAKTIKA

Ada Suasana Hommy di Azucena Islamic School

Siswa-siswi Azucena Islamic School saat merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-74. (dok: AIS)

Jakarta Review, Jakarta – Jika anda tinggal di wilayah Condet, Jakarta Timur dan bimbang untuk memilih sekolah Taman Kanak-Kanak yang cocok dan pas untuk sang buah hati, tidak ada salahnya jika anda kini mulai melirik Azucena Islamic Shool (AIS) yang berlokasi di di Jalan Condet Raya No. 321 A, Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Menempati lahan  yang cukup luas, sekolah ini dilengkapi oleh berbagai fasilitas beberapa ruang kelas, audio visual room, musholla, outdoor playground. Semuanya dilengkapi dengan CCTV untuk mengontrol aktifitas belajar dan mengajar serta menunjang keamanan. Selain itu sekolah ini juga memiliki fasilitas   kendaraan antar jemput untuk siswa-siswi.

Yang menarik semua faslitas tersebut berada di sebuah rumah yang dikemas menjadi sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak. Jauh dari kesan kaku seperti sekolah pada umumnya yang berbentuk gedung.

Ketua Yayasan sekaligus pendiri AIS Vicky Chaira mengatakan bangunan sekolah yang dikelolanya adalah rumah keluarga milik orang tua yang difungsikan menjadi sekolah.

“Ini ada rumah milik orang tua yang kami modifikasi jadi sekolah. Kebetulan saya dan suami punya kenalan tenaga pendidik yang berpengalaman. Karena itu kami bermusyawarah dengan anggota keluarga yang lain untuk mengutarakan keinginan membuat sekolah. Alhamdulillah mereka paham dan akhirnya sekolah ini bisa berdiri dan bisa berjalan seperti saat ini dengan dukungan antusiasme orang tua murid yang luar biasa,” kata Vicky.

Vicky menambahkan pilihan mendirikan sekolah di rumah ini bukan tanpa alasan.

“Kami terpanggil untuk menyediakan tempat pendidikan anak usia dini yang ramah terhadap tumbuh kembangnya anak-anak dan ingin menampilkan kesan dan suasana yang “hommy” bagi siswa-siswi yang belajar disekolah ini. Karena itu pilihannya bukan konsep gedung yang serius seperti sekolah kebanyakan,” ujar Vicky.

Di Azucena anak-anak diarahkan untuk bisa merasakan suasana yang sama seperti di rumah mereka sendiri pada saat belajar. Bedanya disini mereka belajar mengenal tentang aturan. Misalnya tahu kapan waktunya untuk belajar dan kapan waktunya bermain serta tahu bagaimana toleransi dengan teman dan bagaimana hormat dengan guru.

“Jadi konsepnya benar-benar dibuat supaya anak-anak merasa nyaman saat belajar. Dan mereka seperti bertemu dengan ibu nya sendiri disaat mereka bersama dengan tenaga pengajar disini. Singkatnya kami ingin kondisi anak nyaman dan tidak terlalu ditekan untuk menyerap materi pelajaran tertentu,” ungkap Vicky.

Harapannya lanjut Vicky anak-anak nyaman saat berada di sekolah sehingga materi yang dajarkan guru akan lebih mduah diserap. Dan yang terpenting mereka kita arahkan berkembang dengan wajar sesuai umurnya

Konsisten menampilkan kesan yang nyaman untuk anak-anak, waktu belajar-pun dimulai jam 09.00 – 11.30 WIB.

“Ini juga yang membedakan kita dengan sekolah lain. Karena pilihan waktu ini akan memudahkan orang tua saat mengantarkan anaknya dan yang jauh lebih penting anak juga lebih nyaman karena nggak perlu bersiap ke sekolah dengan terburu-buru,” jelas Vicky.

Tonjolkan Penguasaan Nilai Agama dan Bahasa Inggris

Guru-guru yang menjadi pengasuh di Azucena Islamic School (dok: AIS)

Dari sisi materi pelajaran, sekolah ini mengedepankan 2 hal utama. Pertama penguatan nilai-nilai agama dan yang kedua penguasaan asing yakni Bahasa Inggris.

Pemahaman nilai-nilai keagamaan menjadi suatu hal yang tak terbantahkan lagi. Sementara penguasaan akan bahasa asing terutama Bahasa Inggris juga sudah menjadi keniscayaan untuk menghadapi persaingan di masa mendatang.

Untuk menunjang penguasaan 2 materi utama tersebut, tenaga pengajar yang ada di sekolah ini pun disesuaikan agar bisa menunjang tujuan tersebut.

“Ada 6 tenaga pengajar di sekolah ini. Backgroundnya macam-macam. Tetapi syarat awalnya mereka lulusan psikologi dan kependidikan dan tentunya harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik,” ungkap Vicky.

Dengan kualifikasi tenaga pengajar tersebut, tak ayal aktifitas komunikasi yang diterapkan di sekolah ini adalah Bahasa Inggris. Artinya siswa-siswi “dipaksa” untuk terbiasa menggunakan Bahasa Inggris.

“Jangan dibayangkan siswa-siswi sudah langsung mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Tapi minimal sedari awal siswa-siswi disini dikuatkan mentalnya untuk percaya diri menggunakan Bahasa Inggris dalam kesehariannya. Dan tenaga pengajar disini punya kiat untuk membangun rasa percaya diri tersebut,” ujar Vicky.

Seiring waktu, kini semua siswa-siswi di AIS pada semua tingkatan mampu menggunakan Bahasa Inggris dalam aktifitas sehari-hari. Dampaknya para orang tua siswa pun senang melihat perubahan tersebut.

Dari sisi biaya, sekolah ini relatif bersaing jika dibandingkan dengan sekolah sejenis yang ada disekitarnya. Misalnya untuk uang pangkal senilai Rp 4 juta yang berlaku sama pada semua level mulai dari Pre School hingga Kindergarten. Yang berbeda hanya Uang SPP-nya saja. Untuk Pre Scholl senilai Rp 700 ribu sementara untuk Kindergarten (TK A) senilai Rp 750 ribu dan (TK B) senilai Rp 800 ribu.

“Untuk biaya bisa dibandingkan sendiri dengan sekolah yang ada disekitar. Bahkan khusus siswa yang tetap sekolah di AIS pada saat naik tingkat, kami memberikan diskon dan harga prioritas dan berbeda dengan yang baru mendaftar.  Diskonnya sebesar 25 persen dari uang pangkalnya,” ujar Vicky.

Diluar acara rutinitas sekolah, AIS juga menggelar acara keluar. Misalnya cooking project dengan mendatangi sebuah gerai restoran cepat saji. Di tempat ini anak-anak diajarkan untuk membuat pizza. Kemudian tahun lalu anak-anak juga sempat kami ajak untuk berkunjung ke gerai toko buah All Fresh. Di tempat tersebut mereka kita kenalkan tentang berbagai buah-buahan. Selain itu kami juga mengadakan kegiatan dokter visit untuk mengenalkan anak-anak tentang kesehatan gigi dan mulut sejak dini.

Orang tua siswa-siswi Azucena Islamic School berfoto bersama dengan narasumber Hj Anna Farida SPd,MM,Mba,PhD dalam sebuah acara diskusi yang mengundang orang tua siswa-siswi Azucena Islamic School. (dok: AIS)

Sementara itu untuk membangun silaturahmi yang erat antara orang tua murid,  sekolah ini juga rutin menggelar taklim untuk orang tua murid dengan mengundang narasumber yang kompeten dari luar. Adapun materinya kita kedepankan soal merawat anak-anak, relasi suami-isteri dalam perspektif Islam. Semuanya dikemas dengan suasana informal sehingga peserta bisa dengan nyaman menyerap materi yang diberikan oleh narasumber.

Dengan berbagai inovasi yang dilakukan tersebut, AIS kini makin berkembang. Kini jumlah siswa-siswi yang sekolah di AIS sudah berjumlah 30 orang untuk semua level mulai dari Pre School (PAUD) dan Kindergarten (TK). Padahal saat awal berdiri pada Juli 2018 silam, sekolah ini baru menerima 5 orang siswa di tingkatan Pre School.

“Alhamdulillah berkat tekad yang kuat dan dukungan dari banyak pihak mulai dari keluarga, pengajar hingga orang tua siswa perlahan-lahan jumlah anak yang belajar di Azucena terus bertambah. Dan sebentar lagi kami sudah mulai meluluskan anak menuju SD,” tutur Ibu dua anak kelahiran Jakarta 25 September 1980 ini.

Seiring dengan perkembangan tersebut, Vicky dan suami selaku Ketua dan Pembina Yayasan yang menaungi AIS pelan-pelan sudah mulai mengurus kelengkapan administrasi untuk mendaftarkan Azucena Islamic School ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

“Proses izin untuk ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta sedang kita siapkan. Tapi izin untuk pendirian Yayasan sudah beres dari tingkat Kelurahan dan Kecamatan hingga Walikota,” ujar Vicky.

Ke-depannya Vicky berharap AIS bisa berkembang dengan baik, sehingga cita-citanya untuk mengembangkan pendidikan anak usia dini bisa tercapai. Karena itulah lanjut Vicky Chaira SE bersama sang suami Fahreza Indrayani Putranto S.Sos yang sama –sama bekerja di BUMD DKI Jakarta merasa terpanggil untuk mendirikan AIS. Padahal ungkap Vicky awalnya dirinya dan suami sempat terpikir untuk membeli franchise karena sama sekali kurang mengerti tentang syarat untuk mendirikan sekolah. Ini berbeda dengan sekolah yang ada disekitar sini dan sudah punya nama dan modal besar. Sementara kami benar-benar mulai dari awal merintis.

“Jadi benar-benar semuanya kita lakukan sendiri. Konsultan nggak ada karena konsultannya adalah kita sendiri dan rajin tukar pikiran sama orang tua dan saudara,” tandas Vicky.

Lebih dari itu Vicky ingin anak-anak usia dini semuanya bisa mengenyam pendidikan di PAUD dan TK untuk menunjang persiapan sang anak pada saat masuk ke SD.

“Jangan sampai karena persoalan biaya yang mahal orang tua jadi kesulitan menyekolahkan anaknya ke PAUD dan TK. Karena sekolah di PAUD dan TK menjadi penting untuk persiapan masuk SD, karena sekarang saat masuk SD, anak-anak sudah diharapkan bisa membaca dan menulis,” ujar Vicky.

Lebih lanjut Vicky berharap usahanya bersama sang suami yang concern pada pendirian sekolah untuk usia dini bisa berjalan dengan lancar.

“Saya lebih concern pada pendidikan usia dini. Dan ingin punya cabang ditempat lain dengan konsep yang sama. Semoga dimudahkan oleh Allah SWT,” tandasnya. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close