DIDAKTIKA

Dukung Program PPK, Yayasan Bulir Padi Gelar Program “Pemuda Peduli”

Yayasan Bulir Padi kembali meluncurkan program terbarunya yang bertajuk “Pemuda Peduli”. Program ini mencakup kegiatan yang akan menumbuhkan karakter serta kepedulian sosial pada anak bina Bulir Padi sehingga mereka dapat tumbuh menjadi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tampak pada foto, relawan sedang memberikan pemahaman terkait kepedulian sosial kepada anak-anak bina Bulir Padi di Pustaka Bulir Padi 2, Bidaracina, Jakarta. (istimewa)

Jakarta Review -, 14 Oktober 2017 — Yayasan Bulir Padi (Bulir Padi) hari ini meluncurkan program baru bertajuk “Pemuda Peduli” (#PemudaPeduli) yang merupakan bagian dari pilar kerja “Belajar Untuk Maju” dengan fokus untuk memberikan akses pendidikan bagi anak marjinal di Jakarta. Bulir Padi percaya bahwa pendidikan tidak hanya didapat melalui pendidikan di bangku sekolah melainkan juga dari keluarga, komunitas, dan masyarakat melalui pendidikan formal, informal dan nonformal. Program “Pemuda Peduli” adalah wujud daripada kepercayaan tersebut, dimana program ini mencakup kegiatan yang akan menumbuhkan karakter serta kepedulian sosial pada anak bina Bulir Padi sehingga mereka dapat tumbuh menjadi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Ketua Yayasan Bulir Padi Tia Sutresna mengatakan, “Kami percaya bahwa kemajuan suatu negara sangat bergantung pada karakter bangsa, yang merupakan suatu kesatuan dari karakter masyarakat dan generasi penerus bangsa. Sehubungan dengan ini, juga berkenaan dengan Hari Sumpah Pemuda di tanggal 28 Oktober, Bulir Padi turut berperan aktif dalam mendidik dan mendukung anak bina kami agar mereka tidak hanya mendapatkan akses pendidikan tetapi juga memiliki karakter dan watak yang positif dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan, bangsa dan negara.”

Sebuah lembaga ahli jajak pendapat dan kebijakan publik Ipsos Mori Social Research Insitute di Inggris menerbitkan National Youth Social Action Survey (NYSAS) pada bulan Februari 2016 dan mengatakan bahwa dorongan (encouragement) adalah faktor penting dalam komitmen anak untuk melakukan kegiatan sosial. Dari 2000 remaja yang ditemui oleh NYSAS, hampir semua atau 96% remaja yang memiliki komitmen untuk melakukan sebuah kegiatan sosial itu menerima bentuk dorongan atau dukungan positif dari pihak ketiga untuk melakukannya. Survei ini juga menyimpulkan bahwa dunia pendidikan memiliki peran penting dalam memotivasi anak untuk berpartisipasi dalam sebuah kegiatan sosial sebagai bagian dari pendidikan karakternya. Jika anak diajarkan untuk bekerjasama dengan baik dengan orang lain, menjaga emosinya dengan baik serta mencari solusi yang berguna maka ia akan lebih siap untuk menangani tantangan hidupnya, termasuk di bidang akademik.

Seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, Bapak Psikologi Indonesia dan pelopor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, “Pembinaan watak merupakan tujuan utama pendidikan.” Bulir Padi sebagai yayasan yang bergerak di bidang pendidikan juga berupaya dalam membentuk karakter anak bina kami agar mandiri, peduli dan kontributif positif terhadap lingkungan sekitarnya.

Selama satu bulan Bulir Padi mengajak lebih dari 30 anak bina kami tingkat SMP-SMU/K di Palmerah, Jakarta Barat dan Bidaracina-Otista, Jakarta Timur untuk berperan aktif dalam program “Pemuda Peduli” sehingga pada akhirnya menumbuhkan sifat kepedulian sosial dalam dirinya. Pembinaan anak bina dalam program “Pemuda Peduli” mencakup berbagai kegiatan, dimulai dengan menganalisa dan menelaah permasalahan sosial yang ada di komunitas anak bina sampai memberikan solusi yang tepat untuk mengatasinya. Rangkaian kegiatan “Pemuda Peduli” terdiri dari Sesi I: Tour the Kampung & Pemetaan Masalah Sosial, Sesi II: Diskusi dan Presentasi Grup, dan Sesi III: Presentasi Ide & Penjurian. Anak bina Bulir Padi menerima bantuan arahan dalam menyusun konsep program sosial mereka dari 13 orang relawan yang berpengalaman. Juri untuk seleksi pemenang program sosial “Pemuda Peduli” adalah perwakilan RW setempat dan relawan Bulir Padi.

Hadirnya pemerintah dibawah Presiden Republik Indonesia Joko Widodo berkembang konsep “revolusi mental” yang menitikberatkan pentingnya perubahan untuk membangun kembali jati diri bangsa. Presiden Joko Widodo mengatakan, “Jiwa anak-anak Indonesia harus diisi dengan berbagai hal positif. Jiwa yang terisi positif akan menangkal arus perubahan yang tak bisa dibendung. Nantinya akan muncul jiwa-jiwa yang mulia, jiwa-jiwa yang penuh integritas, kejujuran, moralitas, penuh akal budi, budi pekerti yang baik.” (sumber: Liputan6.com, July 2017).

Menurut Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Tim Komunikasi Pemerintah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Juli 2017), tak hanya olah pikir (literasi) namun PPK juga mendorong agar pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik) dan juga olah raga (kinestetik). Keempat dimensi pendidikan ini hendaknya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak.

“Sejalan dengan program pemerintah PPK tersebut, Bulir Padi mencanangkan program Pemuda Peduli dalam rangka turut mendukung upaya pemerintah dalam pendidikan karakter nasional. Kami percaya bahwa pendidikan karakter pada generasi muda memerlukan keterlibatan semua pemangku kepentingan, dimulai dari sekolah formal, nonformal dan informal, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat sampai ke keluarga dimana bersama kita membantu menanamkan dan memperkuat karakter baik di kaum remaja demi masa depan mereka dan Indonesia,“ ujar Ketua Yayasan Bulir Padi Tia Sutresna. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close