DIDAKTIKA

Gandeng BPOM, i3L Gelar Workshop Serialisasi

Kasubdit Inspeksi dan Serifikasi Produksi PT dan PKRT BPOM Bayu Wibisono, S.Si., Apt saat tampil memberikan paparan dalam acara Workshop Serialisasi dengan judul “Smart Supply Chains for the Biopharmaceutical Industry” pada tanggal 5 November 2019 di auditorium i3L yang berlokasi di Pulomas, Jakarta Timur. (dok: win/jakrev)

Jakarta Review, Jakarta – Dalam rangka mencegah pemalsuan obat di Indonesia, Indonesia Internasional Institute for Life Sciences (i3L) bekerjasama dengan Badan Pengawasan dan Obat dan Makanan (BPOM), HGP Asia Pte Ltd., TraceLink, dan Hisfarin menggelar Workshop Serialisasi dengan judul “Smart Supply Chains for the Biopharmaceutical Industry” pada tanggal 5 November 2019 di auditorium i3L yang berlokasi di Pulomas, Jakarta Timur.

Sekedar mengingatkan data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa 10 % obat yang beredar di seluruh dunia adalah palsu, dan di beberapa negara berkembang jumlahnya mencapai 50%. Oleh karena itu, dibuatlah suatu sistem untuk menjamin keaslian obat-obatan di masyarakat yang dikenal dengan serialisasi. Adapun serialisasi memungkinkan identifikasi produk yang unik yang nantinya dapat diverifikasi pada kemasan individu produk obat. Kepada setiap batch produk yang dikemas dan dijual, kode unik global berupa 2D barcode diberikan dan ditandai secara fisik pada setiap kemasan individunya.

Di Indonesia, peraturan mengenai 2D barcode diatur berdasarkan Peraturan Badan Pengawasan dan Obat dan Makanan (BPOM) No. 33 Tahun 2018 tentang Penerapan 2D Barcode dalam pengawasan obat dan makanan.

Pada kegiatan workshop ini hadir sebagai pembicara Kasubdit Inspeksi dan Serifikasi Produksi PT dan PKRT BPOM Bayu Wibisono, S.Si., Apt. yang menyampaikan mengenai Sosialisasi Penerapan 2D Barcode tersebut. Kemudian hadir pula sejumlah pembicara lain yakni Dr. Bokun Cho, konsultan dari HGP Asia Pte Ltd.; Graham Clark, Vice President, Strategic Alliance dari TraceLink; Ir. Novian Zein, M.M., S.E, Plant Director dari PT. Merck Sharp Dohme Pharma, Tbk.

Dalam paparannya Bayu mengatakan melalui pencantuman identitas 2D barcode pada kemasan, memudahkan pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan pengawasan obat dan makanan. selain itu serialisasi juga memudahkan verifikasi dan penelusuran (track and trace) produk.

Bayu menambahkan untuk memantau keaslian obat, masyarakat nantinya dapat menggunakan aplikasi yang dapat diunduh dari BPOM mobile. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat memindai barcode yang tercantum pada produk dan mengajukan pengaduan apabila ada produk yang tidak terdaftar pada database aplikasi. (win)

Tags
Close