DIDAKTIKA

Laksakan AFS Mini Simposium, i3L Ajak Masyarakat Pahami Pentingnya Informasi Seputar Makanan dan Gizi

Pandemi Covid-19 tidak menjadi halangan untuk selalu menggelar acara yang bermanfaat. Salah satunya adalah Agriculture, Food, and Society (AFS) Mini Simposium yang dilaksanakan oleh Prodi Pangan dan Nutrisi dari Fakultas Bio Sains, Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L). (dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Pandemi Covid-19 tidak menjadi halangan untuk selalu menggelar acara yang bermanfaat. Salah satunya adalah Agriculture, Food, and Society (AFS) Mini Simposium yang dilaksanakan oleh Prodi Pangan dan Nutrisi dari Fakultas Bio Sains, Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L).

Mengusuung tema ‘Food in People’s life Beyond Nutrition’, acara simposium tersebut bertujuan untuk mengedepankan sains dalam mencari, mengolah dan menyampaikan informasi seputar pangan dan gizi.

Rico Alexander Pratama, Ketua Panitia Simposium menyatakan bahwa acara yang diselenggarakan ini diharapkan dapat meminimalisir kesimpangsiuran informasi seputar makanan dan nutrisi.

“Awalnya kami melakukan survey berbasis online yang berawal dari ketertarikan kami terhadap isu-isu seputar makanan dan kehidupan masyarakat selain terkait nutrisi, yakni meliputi persepsi terhadap diet, food label, food fraud, dan lain-lain. Kemudian, atas usul dosen kami, Miss Siti Muslimatun, kami menyelenggarakan simposium di mana kami membagikan hasil penemuan ini kepada masyarakat,” ungkap Rico yang juga Mahasiswa Food Science and Nutrition i3L melalui keterangannya di Jakarta (2/7/2021).

Dengan membagikan hasil penemuan ini, tentunya itu diharapkan dapat membawa perubahan bagi pihak-pihak yang bersangkutan.

“Bagi konsumen, mereka dapat lebih berhati-hati terhadap food fraud atau penggunaan antibiotik berlebihan. Atau bagi produsen agar mereka bisa mendapatkan gambaran tentang bagaimana persepsi masyarakat terhadap makanan dan topik tertentu. Namun, karena peserta simposium didominasi oleh pelajar, kami harapkan simposium ini dapat bermanfaat banyak bagi konsumen,” tuturnya.

Simposium ini terdiri dari enam presentasi dalam dua sesi. Sesi pertama lebih mengarah pada persepsi masyarakat terhadap makanan atau diet mereka. Di antaranya adalah diet plans and food indulgence, organic foods, and vegan and vegetarian diet.

Rico menjelaskan bahwa saat ini banyak kekhawatiran keberadaan informasi dari figur publik atau influencer yang tidak sesuai teori dan bukti ilmiah serta regulasi tentang anjuran mengenai pola diet. Hal ini dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap program pemerintah dalam meningkatkan konsumsi makanan ideal bagi masyarakat. Faktanya, memang tidak ada satu cara atau diet yang paling sehat untuk semua orang.

“Menurunkan berat badan dan diet bukanlah urusan yang mudah bagi sebagian besar orang di dunia, termasuk warga Indonesia. Tanpa disadari ada hal-hal kecil di balik gaya hidup dan diet yang menyebabkan kegagalan dalam mengontrol berat badan. Banyak yang mengidamkan tubuh langsing dan sehat namun justru terjebak dengan pilihan program diet dan gaya hidup yang kurang tepat,” jelasnya.

Selain itu, simposium ini juga membahas tentang organic food dan vegetarian and vegan diet yang mana kedua topik itu sedang naik daun dewasa ini. Sebagian besar dari responden penelitian mengaku mengetahui tentang topik tersebut, namun sayangnya tidak sedikit responden yang masih belum paham betul bahkan keliru.

Misalnya dalam menjadi vegetarian dan vegan, banyak yang belum menyadari pentingnya keseimbangan gizi. Tidak ada salahnya memang menjadi vegetarian dan vegan, namun masyarakat perlu menyadari pentingnya untuk memenuhi kebutuhan gizi dengan diet itu, contohnya pemenuhan kebutuhan zat besi karena bioavailabilitas yang rendah di plant-based diet.

Sesi kedua lebih mengarah kepada kegiatan praktis bidang pangan, diantaranya adalah hubungan perilaku diet dan food label, dan pandangan terhadap penggunaan antibiotik berlebihan dan food fraud.

Dalam presentasi mengenai pemahaman mengenai food/nutrition label, kalori dan kadar lemak menjadi hal terpenting. Padahal seharusnya, konsumen perlu memperhatikan nutrition label, tidak hanya kalori, namun semua aspek nutrisi di dalamnya, agar dapat menentukan pemilihan makanan yang lebih bijak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

Kemirisan juga terjadi dalam pembahasan food fraud, karena banyak responden yang masih tidak sadar akan food fraud dan tidak dapat mengidentifikasi jika hal itu terjadi pada mereka. Dalam pembahasan tentang penggunaan antibiotik

“Penugasan survei and mini-simposium telah menumbuhkan kreativitas dan kemandirian mahasiswa dalam mengeksplorasi fenomena pangan dan gizi di masyarakat, mengasah ketrampilan dalam membuat bahan tayang yang efektif, dan meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat ilmiah di depan umum. Para mahasiswa  juga menyampaikan kepuasannya atas hasil yang dicapai dari survei dan mini-simposium,” kata Siti Muslimatun, Dosen  Agriculture, Food and Society i3L.

Back to top button