DIDAKTIKA

Peringati Hari Sumpah Pemuda, Yayasan Bulir Padi Ajak Anak Bina Lebih Peka Kondisi Sosial

Anak-anak marjinal binaan Yayasan Bulir Padi foto bersama didepan kantor Yaysan tersebut. (istimewa)

Jakarta Review – Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-89 tanggal 28 Oktober, Yayasan Bulir Padi turut berperan aktif dalam membentuk karakter pemuda-pemudi Indonesia melalui program bertajuk “Pemuda Peduli” (#PemudaPeduli). Program yang sudah berjalan sejak tanggal 14 Oktober 2017 ini merupakan bagian dari pilar kerja “Belajar Untuk Maju” dengan fokus untuk memberikan akses pendidikan bagi anak marjinal di Jakarta. Bulir Padi percaya bahwa pendidikan tidak hanya diperoleh melalui sekolah melainkan juga dari keluarga, komunitas dan masyarakat, baik formal maupun non-formal. Program “Pemuda Peduli” adalah wujud daripada kepercayaan tersebut, yang akan menumbuhkan karakter serta kepedulian sosial pada anak bina Bulir Padi sehingga mereka dapat tumbuh menjadi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa.

“Kami percaya bahwa kemajuan suatu negara sangat bergantung pada karakter bangsa terutama generasi penerusnya. Sehubungan dengan Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober, Bulir Padi turut berperan aktif dalam mendidik dan mendukung anak bina kami agar mereka tidak hanya mendapatkan akses pendidikan tetapi juga memiliki karakter dan watak yang positif dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan, bangsa dan negara.” Ujar Ketua Yayasan Bulir Padi Tia Sutresna dalam rilis yang dikirim ke Jakarta Review.

Dalam National Youth Social Auction Survey (NYSAS), Ipsos Mori Social Research Institute mengungkapkan bahwa dorongan (encouragement) adalah faktor penting dalam komitmen anak untuk melakukan kegiatan sosial. Dari 2000 remaja yang ditemui oleh NYSAS, terdapat 96% remaja yang berkomitmen untuk melakukan sebuah kegiatan sosial menerima dukungan positif dari pihak ketiga. Survei ini juga menekankan peran penting dunia pendidikan dalam memotivasi anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial sebagai bagian dari pendidikan karakternya. Jika anak diajarkan untuk bekerjasama dengan orang lain, menjaga emosinya dengan baik serta mencari solusi yang berguna maka ia akan lebih siap untuk menangani tantangan hidupnya, termasuk di bidang akademik.

Selama satu bulan Bulir Padi mengajak lebih dari 30 anak bina tingkat SMP-SMU/K di Palmerah, Jakarta Barat dan Bidaracina-Otista, Jakarta Timur untuk berperan aktif dalam program “Pemuda Peduli”. Program “Pemuda Peduli” ini mencakup berbagai kegiatan, dimulai dengan menganalisa dan menelaah permasalahan sosial yang ada di komunitas anak bina sampai memberikan solusi yang tepat untuk mengatasinya. Rangkaian kegiatan “Pemuda Peduli” terdiri dari Sesi I: Tour the Kampung & Pemetaan Masalah Sosial, Sesi II: Diskusi dan Presentasi Grup, dan Sesi III: Presentasi Ide & Penjurian. Anak bina Bulir Padi menerima bantuan arahan dalam menyusun konsep program sosial mereka dari 13 orang relawan yang berpengalaman.

Menurut Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Tim Komunikasi Pemerintah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Juli 2017), tak hanya olah pikir (literasi) namun PPK juga mendorong agar pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik) dan juga olah raga (kinestetik). Keempat dimensi pendidikan ini hendaknya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak.

“Sejalan dengan program pemerintah PPK tersebut, Bulir Padi mencanangkan program Pemuda Peduli dalam rangka turut mendukung upaya pemerintah dalam pendidikan karakter nasional. Kami percaya bahwa pendidikan karakter pada generasi muda memerlukan keterlibatan semua pemangku kepentingan, dimulai dari sekolah formal, nonformal dan informal, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat sampai ke keluarga dimana bersama kita membantu menanamkan dan memperkuat karakter baik di kaum remaja demi masa depan mereka dan Indonesia,“ tandasnya. (win)

 

Tags

Artikel Terkait

Close