DIDAKTIKA

Raysha dan Sunrise Art Gallery Gelar Penggalangan Dana untuk Individu Autistik dari Keluarga Prasejahtera

Raysha Dinar Kemal Gani berfoto bersama Ibundanya Ibu Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR (Founder & CEO LSPR Communication and Business Institute). (dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Keterbatasan tak menjadi halangan. Meski didiagnosa severe autism pada usia 2,5 tahun dengan indikasi adanya keterlambatan bicara dan berkembang, namun hal tersebut tidak menghentikan Raysha mewujudkan mimpi-mimpinya. Melalui lukisan yang ia ciptakan sebagai salah satu bentuk terapi motoriknya, membuahkan hasil seni dengan nilai karya yang tinggi. Hebatnya, lukisan Raysha tidak hanya berdampak bagi dirinya, namun memberi kontribusi positif juga bagi teman-teman individu autistik lainnya dari keluarga pra-sejahtera.

Raysha Management Team dan Sunrise Art Gallery menghadirkan A Charity Art Exhibition, bertajuk Dare to Dream, Dare to Shine & Dare to Share di Sunrise Art Gallery yang berlokasi di Fairmont Hotel Jakarta. Mengawali pameran lukisan ini, digelar Virtual Launching sebagai karya seni yang resmi tampil dalam showcase Sunrise Art Gallery, pada hari Kamis, 4 Maret 2021. Acara ini dihadiri oleh beberapa tamu undangan dengan menerapkan protokol kesehatan, dan disiarkan secara daring melalui kanal youtube Autism World Raysha. Usai Virtual Launching, A Charity Art Exhibition ini akan dibuka untuk publik, mulai tanggal 5 Maret hingga 4 April 2021, dengan melakukan reservasi melalui email sunriseartgallery.id@gmail.com atau telp. +622129039496.

Kesuksesan pameran lukisan ini, seolah mengulang keberhasilan jalinan kerjasama dengan Alleira Batik Grand Indonesia untuk product launching yang diselenggarakan sebelumnya, dan berhasil merangkul beberapa Yayasan penerima bantuan, seperti Rumah Autis dan Sahabat Anak. Banyak yang tak menyangka bahwa karya-karya tersebut merupakan guratan kreativitas dari seorang Raysha, yang juga merupakan individu autistik dengan diagnosa severe autism.

Melalui lukisan, Raysha membagikan perspektif yang tak biasa untuk dapat dinikmati oleh orang banyak. Tujuannya adalah mengampanyekan keberadaan seorang individu autistik yang berkomunikasi melalui beragam terapi, salah satunya melalui karya lukis.

Pelukis remaja yang kerap disapa Raysha ini, memiliki nama lengkap Raysha Dinar Kemal Gani. Putri bungsu dari Ibu Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR (Founder & CEO LSPR Communication and Business Institute) dan Bapak Kemal Effendi Gani (Pemimpin Redaksi SWA Magazine). Prita mengakui bahwa hobi melukis Raysha baru tampak setahun belakangan.

“Raysha sebenarnya lebih menyukai aktivitas di luar ruangan. Namun karena pandemi, ia mendapat pelatihan melukis yang ternyata sangat dinikmati oleh Raysha,” ujarnya.

Kegemaran Raysha melukis terbilang aktif, dalam seminggu ia bisa menghasilkan karya lukisan yang baru.

Bersyukur dengan banjirnya perhatian dan dukungan dari keluarga, Raysha mendapatkan kebutuhan terapi yang layak sehingga dapat mewujudkan virtual painting exhibition pada saat perayaan ulang tahun ke-17 tahun pada bulan Januari lalu. Dengan dukungan keluarga dan Raysha Foundation, acara tersebut sukses dan beberapa lukisan Raysha dikemas pula dalam bentuk merchandise yang dapat dibeli bebas oleh publik melalui platform e-commerce.

Melalui Raysha Foundation, hasil dari penjualan merchandise tersebut, disalurkan untuk membantu kebutuhan terapi anak-anak dengan autism dari keluarga pra-sejahtera.

A Charity Art Exhibition di Sunrise Art Gallery, Fairmont Hotel Jakarta, terbuka untuk publik mulai 5 Maret hingga 4 April 2021 dengan melakukan reservasi terlebih dahulu. Bertajuk Dare to Dream, Dare to Shine & Dare to Share, kegiatan ini menurut Prita, merupakan rangkuman dari keinginan Raysha.

“Dare to dream, maknanya, seperti remaja pada umumnya, ia memiliki banyak mimpi. Dare to shine, ingin mendapat perhatian, senang mendapat pujian dan apresiasi. Dare to share, seperti halnya kita, Raysha juga ingin bisa berbagi,” jelasnya.

Prita mengatakan bahwa individu dengan gangguan sindrom autisma (autistik) mampu menanggulangi autistiknya apabila ia mampu mandiri, menolong diri sendiri, dan orang lain.

“Raysha belum bisa melakukan sepenuhnya poin pertama dan kedua. Namun, melalui pameran ini, dia sudah bisa melakukan poin yang ketiga, yaitu menolong orang lain,” ujarnya.

Acara ini ditujukan untuk membantu dan mendukung anak-anak autisme dari keluarga pra-sejahtera, agar mendapatkan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya. Sekaligus mengajak masyarakat bersama-sama menerima dan membantu keberlangsungan hidup anak-anak autisme di sekitar kita.

“Let Us Become The Agent of Voice for Voiceless”, tutup Prita Kemal Gani.

Back to top button