DIDAKTIKA

Unika Atma Jaya Hadirkan Lab Covid-19 dan Lab Kolaborasi Farmakogenomik

 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unika Atma Jaya Jakarta meresmikan penggunaan laboratorium Covid-19 dengan klasifikasi Bio Safety Level 2+ di Kampus 2 Pluit, Jumat (7/8/2020) secara virtual. (dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unika Atma Jaya Jakarta meresmikan penggunaan laboratorium Covid-19 dengan klasifikasi Bio Safety Level 2+ di Kampus 2 Pluit, Jumat (7/8/2020) secara virtual.

Di kesempatan yang sama, FKIK UAJ juga meresmikan lab kolaborasi dengan Nalagenetics untuk pemeriksaan farmakogenomik. Lab Bio Safety Level 2+ disebut melengkapi fasilitas FKIK UAJ kampus 2 Pluit yang didedikasikan sebagai Center for Health Development. Laboratorium tersebut nantinya akan digunakan untuk pemeriksaan RT-PCR Covid-19 yang sangat dibutuhkan di tengah pandemi.

“Lab Biosafety Level 2+ memiliki fasilitas keamanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Lab Biosafety Level 2 biasa, yaitu adanya tekanan negatif serta protokol yang mendekati Biosafety Level 3. Dengan demikian pengerjaan patogen berbahaya di laboratorium ini aman untuk lingkungan,” kata Unika Atma Jaya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (7/8/2020).

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan di laboratorium ini antara lain mendukung program pemerintah dalam mengatasi pandemik dengan melakukan pemeriksaan RT-PCR untuk diagnosis Covid-19.

“Selain itu di dalam lab BSL2+ ini juga dimungkinkan melakukan penelitian beberapa jenis agen infeksi yang tidak mungkin dilaksanakan di lab dengan level yang lebih rendah,” jelas keterangan tersebut.

Rektor Unika Atma Jaya, Dr.A.Prasetyanto mengucapkan selamat atas diresmikannya lab ini.

“Pandemi telah membuka pemahaman publik dan pemerintah mengenai pentingnya hasil riset dan para ahli dilibatkan dalam penyusunan kebijakan publik.  Lab ini adalah sumbangsih kami agar hasil-hasil risetnya dapat menjadi rujukan penyusunan strategi kesehatan nasional,” ujarnya.

Dekan FKIK Unika Atma Jaya, Dr. Yuda Turana mengatakan, Lab ini sudah mendapat kepercayaan dan dukungan Dinas Kesehatan DKI untuk menjadi lab rujukan Covid. Artinya, laboratorium ini sudah terdaftar dalam jejaring pemeriksaan RT-PCR dari lab-lab yang ada di DKI Jakarta.

Kepala Prodi Magister Biomedik Unika Atma Jaya Dr. dr. Soegianto Ali mengatakan lebih lanjut, pemeriksaan RT-PCR Covid-19 sudah dimulai dilakukan di lab milik Unika Atma Jaya sejak beberapa hari lalu.

“Untuk bagian ekstrasi RNA misalnya, memang kami masih lakukan secara manual sehingga kapasitas pemeriksaannya masih belum terlalu banyak, sekitar 100 sampel per hari,” kata Soegianto Ali dalam acara peluncuran laboratorium Covid-19 dan laboratorium farmakogenomik yang dilakukan secara daring, Jumat (7/8/2020).

Dia menjelaskan, karena laboratorium yang baru saja diresmikan ini konsepnya untuk penelitian dengan alur satu pintu. Di mana, semua sampel yang akan diperiksa hanya melalui rumah sakit Atma Jaya.

“Dengan demikian bisa lebih terkontrol dan hasilnya nanti akan melalui rumah sakit (Atma Jaya) juga. Namun kami tengah mengusahakan untuk optimalisasi beberapa proses sehingga diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kapasitas bisa ditingkatkan,” jelasnya.

Sementara laboratorium Farmakogenomik dilakukan dengan kolaborasi riset melalui kerja sama dengan Nalagenetics, perusahaan teknologi medis berbasis di Singapura. Lab farmakogenomik dikembangkan untuk menilai risiko pemberian obat-obatan, terutama untuk obat-obat yang memiliki margin keamanan yang sempit, serta obat-obatan yang harus diminum untuk jangka panjang seperti obat kanker, obat anti-epilepsi, obat pengencer darah, dll.

Farmakogenomik (PGx) sendiri merupakan sebuah bidang ilmu pengetahuan yang menelusuri bagaimana susunan genetik seseorang dapat mempengaruhi respon individu tersebut terhadap pengobatan.

Farmakogenomik dapat membantu klinisi memprediksi respon obat pasien berdasarkan varian gen. Tes seperti ini dapat membantu mengurangi risiko kesalahan peresepan obat, memprediksi risiko efek samping pengobatan, sehingga membantu pasien menghemat biaya, meningkatkan keamanan pengobatan dan mempercepat mencapai dosis optimum pemberian obat yang sering membutuhkan fase “trial-and-error”. (win)

Tags
Close