DIDAKTIKA

Unika Atma Jaya Luncurkan Atma Jaya Sustainability Hub

Ilustrasi Sudut Kampus Unika Atma Jaya Jakarta. (dok: Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya melalui Fakutlas Ekonomi dan Bisnis (FEB) hari ini meluncurkan Atma Jaya Sustainability Hub, sebuah wadah inisiatif akademisi lintas ilmu Unika Atma Jaya dalam memberikan partisipasi aktif untuk mendorong upaya pemenuhan agenda pembangunan berkelanjutan terlebih dalam kondisi pasca Pandemi Covid-19.

Dalam merealisasikan visi agenda pembangunan berkelanjutan, institusi pendidikan harus menjadi poros penggerak perubahan dan referensi kajian bagi pembuat kebijakan dan industri. Kampus Semanggi sebagai Center of Nation Development, didedikasikan untuk mengembangkan beragam kajian yang sangat relevan dengan sinergi Bisnis-Pemerintah-Masyarakat, memiliki peran stratergis dalam pengejewantahan visi pembangunan berkelanjutan.

Peluncuran Atma Jaya Sustainability Hub dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Kerjasama Unika Atma Jaya, Dr. Yohanes Eko Adi Prasetyanto, S.Si, dan kemudian diresmikan oleh Rektor Unika Atma Jaya, Dr. A. Prasetyantoko, dengan disaksikan oleh Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Dr. Arifin Rudiyanto, dan Country Program Manager GRI, dr. Lany Harijanti. Inisiatif ini nantinya ada pada tingkat universitas untuk kemudian dapat melibatkan akademisi dan pemikir kunci lintas disiplin ilmu, hingga kemudian implementasinya dapat diterima oleh semua elemen kampus.

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Kerjasama Unika Atma Jaya, Dr. Yohanes Eko Adi Prasetyanto, S.Si., menyebut bahwa peluncurkan Atma Jaya Sustanability Hub ini merupakan lompatan baru bagi Unika Atma Jaya. Hub ini merupakan bukti kepedulian Unika Atma Jaya dalam membangan masa depan peradaban manusia yang lebih baik, secara khusus masyarakat dan negara yang lebih baik.

“Unika Atma Jaya memastikan dirinya dalam mendorong visi menuju transformasi masyarakat dengan perhatian pada agenda bekelanjutan. Dengan Fakulsas Ekonomi dan Binis dan Fakutlas Teknik sebagai penggerak, nantinya Hub ini bertujuan untuk menghasilkan kajian penelitian yang relevan dengan kebutuhan pelaku kebijakan, industri dan organisasi lain. Visi besar ini nantinya akan menjadi bagian penting dalam kurikulum Unika Atma Jaya sehingga mahasiswa dapat menunjukkan peran mereka sebagai agen-agen perubahan.” Jelasnya.

Unika Atma Jaya menyadari bahwa pandemi Covid-19 memberi pelajaran penting bagi pelaku kebijakan, pendidikan, dan pasar. Pertama, pandemi telah menginterupsi secara amat serius seluruh kegiatan ekonomi dan sosial. Sinyal yang ditunjukkannya sangat jelas: krisis dapat datang secara tak terduga dan krisis tak terisolasi pada satu-dua sektor. Namun demikian, pada saat yang bersamaan, kedua, pandemi juga ‘menciptakan’ kreasi dan inovasi. Sinyal yang ditampilkannya juga jelas: kebijakan bereaksi, riset ilmiah bergerak, dan industri bersiasat.

Rektor Unika Atma Jaya, Dr. A. Prasetyantoko, menyebut bahwa kampus sudah seharusnya terlibat dalam perubahan kemaslahatan masyarakat. Terlebih dalam situasi pandemi yang telah mengubah sendi-sendi kehidupan manusia, kampus kini memerankan peran penting sebagai penggerak perubahan, maka kampus perlu lebih fleksibel dalam upaya menghasilkan dunia yang hijau, inklusif dan mengadaptasi teknologi.

“Akademisi sudah seharusnya berada dalam baris paling depan ketika terjadi berbagai perubahan dalam masyarkat. Ini merupakan suatu pekerjaan besar. Kampus tidak hanya membicara soal ide dan konsep namun juga memberikan kontribusi untuk menyiapkan alat untuk reporting atau menerjemahkan agenda pembangunan berkelanjutan. Kita memerlukan upaya yang lebih giat dalam beragam aspek. Terlebih dalam masa pandemi, harus menjadi momen bagi kita untuk mendorong upaya menjadikan dunia yang hijau, inklusif dan mampu mengadaptasi teknologi” jelasnya.

Dalam upaya mendorong agenda pembangunan berkelanjutan, Deputi Menteri PPN/Kepada Bappenas Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Dr. Arifin Rudiyanto, menyebut pemerintah membangun political will dimana semua kalangan perlu memiliki keinginan bersama untuk mensukseskan tujuan-tujuan SDGs serta legal basis yang mumpuni bagi semua kementerian dan lembaga negara. Lebih lanjut Arifin menegaskan pentingnya sinergi antara aktor SDGs non-pemerintah dan pemerintah, salah satunya melalui Rencana Aksi Nasional. Terlebih peran institusi pendidikan sebagai penggerak utama dalam memberikan inovasi-inovasi yang nantinya akan ditelurkan dalam sebuah kebijakan berbasis penelitian bagi industri.

“Sustainability sudah menjadi tuntutan dalam skala nasional dan global. Untuk mencapai hal itu diperlukan kolaborasi semua pihak. Kami mengundang akademisi, filantropi dan lembaga lain untuk bersama bersinergi untuk bersama merumuskan gagasan implementasi SDGs ini. Dalam hal ini kebijakan SGDs yang kita inginkan adalah science based policy, inilah inovasi yang kami harapkan dari teman-teman perguruan tinggi. Untuk itu, kami siap berkolaborasi dengan Unika Atma Jaya dalam menghasilkan inovasi-inovasi ini.”

Country Program Manager Global Reporting Initiative (GRI), dr. Lanny Harijanti, menyebut masyarakat perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya agenda pembangunan berkelanjutan. Kolaborasi dengan kampus, sambung Lanny, menjadi penting untuk dapat menjangkau masyarkat yang lebih luas sekaligus dalam menghasilkan laporan keberhasilan agenda SDGs dari sektor swasta kepada pemerintah.

Unika Atma Jaya percaya bahwa kolaborasi antara Pemerintah, Dunia Bisnis, dan Akademia akan mampu memasukan isu sustainability dalam agenda pembangunan berkelanjutan, merekam inisiatif-insiatif terbaik yang telah dilakukan oleh aktor-aktor permbangunan berkelanjutan (Pemerintah, Dunia Bisnis, dan Akademia, dan masyarakat) untuk dipelajari dan dieskalasi, serta melakukan agenda-agenda jangka dekat dan menengah yang perlu dilakukan untuk bermigrasi dari pandemi menuju sustainability

Related Articles

Back to top button