DIDAKTIKA

Untar Kembangkan Sistem Pembelajaran Berbasis Digital

Rektor Universitas Tarumanagara Agustinus Purna Irawan (tengah depan) bersama jajaran tinggi UNTAR dalam acara Die Natalis ke-60 UNTAR di Jakarta, Kamis (3/10/2019). (ANTARA/Katriana)

Jakarta Review, Jakarta – Universitas Tarumanagara (Untar) mengembangkan sistem pembelajaran berbasis digital berupa Layanan Informasi Terpadu Untar (Lintar) untuk menyambut tantangan revolusi industri 4.0.

“Jadi semua akses pembelajaran mahasiswa dan dosen kita dapat diakses di dalam sistem itu,” kata Rektor Untar Agustinus Purna Irawan usai mengisi acara Dies Natalis ke-60 Untar di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan pelaksanaan sistem pembelajaran tersebut diupayakan salah satunya untuk memenuhi harapan pemerintah dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 yang berbasis digital.

Dalam sistem pembelajaran tersebut, mahasiswa dapat mengakses semua dokumen pembelajaran baik materi ajar ataupun absensi dan semua hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran di perguruan tinggi tersebut.

“Materi ajar bisa diakses di manapun oleh mahasiswa. Sehingga kalau ada acara yang tidak dapat dihadiri oleh mahasiswa, dia bisa mengakses materi ajar tersebut,” katanya.

Meski semua dokumen pembelajaran dan absensi dapat diakses secara daring (online), namun universitas tetap memiliki metode yang ditujukan untuk memantau kegiatan belajar secara daring tersebut.

Selain sistem pembelajaran yang sepenuhnya daring, Untar juga menawarkan solusi pembelajaran atau sistem pembelajaran gabungan (blended learning) antara proses belajar tatap muka dan proses belajar berbasis digital.

“Karena tidak semua mahasiswa menginginkan online secara penuh, makanya kami membagi mahasiswa mana yang memilih pembelajaran online, mana yang blended learning dan mana yang memang maunya tatap muka. Jadi bleanded learning sudah dijalankan di Untar,” katanya.

Sistem tersebut, menurut Agustinus, untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang tidak bisa sepenuhnya mengikuti proses belajar mengajar secara langsung karena satu acara, tetapi dia bisa tetap mengakses materi ajar yang sudah disampaikan dosen.

Sistem blended learning tersebut berlaku untuk semua mata kuliah dengan proporsi waktu sebanyak 40 persen untuk kuliah daring dan 60 persen lainnya untuk sistem tatap muka.

“Jadi jika ada mahasiswa yang memilih blended learning, maka yang online 40 persen dan sisanya tetap harus tatap muka di kelas,” ujar dia.

Untuk absensi dalam sistem Lintar ataupun blended learning, baik mahasiswa dan dosen dapat mengaksesnya secara daring.

“Jadi kita memang betul-betul maunya paperless. Jadi kehadiran mahasiswa, kemudian materi perkuliahan, bahan ajar, semuanya online dan bisa diakses di mana saja,” katanya.

Sementara itu, Agustinus mengatakan dalam pengawasan sistem pembelajaran berbasis daring dan blended learning, perguruan tinggi tersebut memiliki metode yang dapat memastikan aktivitas mahasiswa selama belajar secara daring.

“Begitu mahasiswa akses, akan terlihat pembelajaran yang sedang dia kerjakan, ada tugas yang diserahkan, ada interaksi dengan dosen. Dengan melalui semua itu, itu sudah dianggap sebagai kehadiran. Mahasiswa bisa diatur, dosen juga bisa diatur,” katanya menjelaskan akses absensi.

Bagi dosen yang harus berada di luar kampus karena seminar di luar negeri misalnya, dia tidak perlu mencari dosen pengganti karena dia bisa memanfaatkan sistem blended daring sehingga tetap bisa memberikan instruksi kepada mahasiswa bahkan saat berada di luar negeri.

“Jadi proses pembelajaran bisa terus berlanjut,” katanya.

Sumber: Antara

Tags
Close