NASIONAL

Kementerian BUMN Dorong Revitalisasi Lahan Dukung Swasembada Garam Nasional

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarno meninjau proyek revitalisasi lahan penggaraman Manyar milik PT Garam (Persero) di Gresik, Jawa Timur. Sebelumnya, lahan seluas 260 hektare tersebut tidak produktif sejak 1994. (Dok: Istimewa)

Jakarta Review, Gresik – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarno meninjau proyek revitalisasi lahan penggaraman Manyar milik PT Garam (Persero) di Gresik, Jawa Timur. Sebelumnya, lahan seluas 260 hektare tersebut tidak produktif sejak 1994.

Menteri Rini mengatakan, revitalisasi lahan ini bertujuan untuk mengurangi defisit neraca garam nasional dan pemenuhan garam industri di Tanah Air. Selain itu, revitalisasj ini untuk meningkatkan produksi PT Garam (Persero) dalam upaya swasembada garam menuju kedaulatan garam nasional.

“Saya yakin revitalisasi ini sebagai upaya BUMN mendukung swasembada garam nasional. Apalagi, saat ini kebutuhan garam masih ditutupi dari impor. Dengan adanya revitalisasi lahan-lahan garam ini akan mampu meningkatkan produksi garam nasional,” ujar Menteri Rini.

Lahan milik PT Garam (Persero) di Manyar Gresik beroperasi tahun 1964 hingga 1994 dengan kapasitas produksi rata-rata 25.000 ton. Pegaraman manyar merupakan pegaraman ke-5 milik PT Garam (Persero) yang berada di wilayah Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.

Lahan garam Manyar ditata sebagai etalase proses produksi yang bervariatif yaitu proses produksi garam sistim konvensional, proses produksi garam dengan teknologi GEKI (Korea) dan proses produksi garam dengan teknologi Bestekin (pemurnian air laut).

Pekerjaan konstruksi pegaraman Manyar dimulai pada Juli 2019 dan direncanakan awal musim produksi 2020 dilakukan trial proses produksi konvensional dan dilakukan pembangunan pabrik garam GEKI.

“Untuk mencapai kapasitas produksi 100% sebesar 26.000 ton per tahun diperlukan waktu 3 tahun. Secara bertahap sejak September 2019 diproyeksikan tercapai 20% kapasitas atau 5.200 ton, tahun ke-2 mencapai 60% atau 15.600 ton dan tahun ke-3 tercapai optimal 26.000 ton,” kata Menteri Rini.

Strategi untuk memperkuat bisnis hilir (hilirisasi) garam adalah dengan senantiasa meningkatkan kualitas produk dan layanan garam olahan untuk industri dan konsumsi. Penataan fasilitas produksi dimulai sejak proses produksi, sistem penyimpanan hasil produksi, SOP pengelolaan barang konsumsi dan yang sesuai ketentuan Balai POM serta sistem pelaporan menggunakan program ERP yang terintegrasi.

Memperkuat produksi garam olahan menjadi keniscayaan untuk mampu bertahan dalam persaingan di bisnis garam yang nyaris sempurna saat ini sebab tumpuan usaha pada produksi dan penjualan garam bahan baku terbukti tidak mampu menahan persaingan harga yang sangat fluktuatif dan rentan jatuh, di era terbuka nya pasar bebas dengan masuknya garam import.

“Untuk itulah, PT Garam (Persero) terus memperkuat atau menambah kemampuan untuk menghasilkan garam olahan. Saat ini PT Garam (Persero) telah mempunyai 4 pabrik olahan dengan kapasitas produksi sebesar 106.300 ton per tahun,” tegas Menteri Rini. (win)

Tags

Artikel Terkait

Close