NASIONAL

Komisi V Desak PT Timah Optimalkan dan Komersialkan Logam Tanah Jarang

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Mohamad Hekal (Dok: Istimewa)

Jakarta Review, Pangkal Pinang – Komisi VI DPR-RI  mendesak PT Timah Tbk memproduksi dan mengkomersialisasi logam tanah jarang yang bernilai tinggi, guna meningkatkan kontribusi perusahaan kepada pemerintah serta masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

“Sampai hari ini tanah jarang ini belum diproduksi secara komersial untuk kebutuhan industri elektronik dunia,” kata Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Mohamad Hekal di Pangkal Pinang, Sabtu, 8/2.

Ia mengatakan perkembangan kemajuan teknologi dan industri elektronik yang begitu pesat, seharusnya PT Timah dapat memproduksi tanah jarang  untuk bisa menjadi bagian penting dari perkembangan industri kekinian.

Kegunaan logam tanah jarang sangat beragam, mulai dari kebutuhan industri keramik, pupuk, bahan bakar, baterai, elektronik, komputer, komunikasi, otomotif, hingga teknologi nuklir.

Logam tanah jarang sangat berperan dalam program pengurangan ketergantungan energi fosil bagi alat transportasi karena merupakan bahan penting dalam pengembangan mobil hibrid.

“Apabila mineral ikutan timah ini dikomersialkan, maka PT Timah tidak lagi rentan terhadap fluktuasif harga timah dunia yang selalu naik turun. Kalau kondisi harga timah dunia naik, PT Timah untung. Sebaliknya jika turun maka perusahaan berplat merah itu merugi,” ujarnya.

Menurut dia, sistem pengelolaan tanah jarang yang sudah dicoba PT Timah sudah ketinggalan zaman dan kurang efektif, sehingga perlu kerja sama dengan pembeli langsung, agar proses produksi tanah jarang ini benar-benar tepat sasaran dan ada pembelinya.

“Tanah jarang ini bukan komoditas yang umum diperjualbelikan dengan mudah. Oleh karena itu, PT Timah langsung melakukan kerja sama dengan perusahaan pengelolaan mineral ikutan timah tersebut,” katanya.

Direktur Utama PT Timah Tbk Mochtar Riza Pahlevi Tabrani mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Batan telah melakukan kajian mengelola tanah jarang.

“Saat ini kita belum memproduksi secara komersil, karena pengelolaan mineral ikutan ini membutuhkan teknologi dan peralatan canggih yang membutuhkan biaya yang cukup besar,” katanya.

Sumber: Antara

Tags
Close