EKONOMINASIONAL

Rolas Sitinjak Minta Perhatian Pemerintah Perkuat Perlindungan Konsumen

Konsumen Hanya Jadi Objek Transaksi

Jakarta – Hari ini tepatnya UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 tahun 1999 diketuk atau menjadi Hari Konsumen Nasional (Hakornas) ke-20. Namun, dalam dua dekade ternyata konsumen Indonesia hanya menjadi objek transaksi perdagangan. Perlindungan konsumen seharusnya seperti di Amerika Serikat (AS) dengan hadirnya kemauan kuat dari pemerintah.

Wakil Ketua Badan Perlindungan Konsumen (BPKN) Rolas Sitinjak mengungkapkan, saat ini masih banyak pelanggaran terhadap konsumen di Indonesia. Namun dalam penegakan hukum perlindungan konsumen, menurutnya, UU Perlindungan Konsumen masih belum tegas mengatur sanksi pidana dan sanksi perdata.

“Perkembangan perdagangan saat ini telah mencapai perdagangan di era digital, tidak terhalang oleh tempat dan oleh waktu. Semua transaksi dilakukan secara online. Yang pada akhirnya akan menimbulkan banyak pelanggaran terhadap konsumen. Karena itu, perlu memperkuat perlindungan konsumen,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (20/4/2019).

Rolas Sitinjak bersama mantan Jampidum Noor Rachmad/Foto: istimewa

“Sehingga pelanggar tidak ada efek jeranya. Masyarakat Indonesia belum merasa kehadiran Negara dalam memastikan konsumen mendapatkan haknya,” tambah mantan pengacara yang sudah lima kali memenangkan gugatan melawan Lion Air terkait hak konsumen tersebut.

Salah satu tokoh perlindungan konsumen nasional menunjuk banyaknya aduan langsung konsumen ke BPKN. Setidaknya tahun lalu, saja sudah 500 aduan langsung, dan tahun 2019 periode Januari-Maret ada 154 aduan langsung.

Dalam catatannya, pengaduan terbanyak adalah pada sektor perumahan khususnya pada bidang pembiayaan perumahan oleh lembaga pembiayaan (KPR). “Aduan lainya adalah mengenai e-commerce, transportasi, pembiayaan, kesehatan, makanan minuman dan masih banyak hal lainya,” tunjuk lelaki yang juga ahli dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual ini.

Baginya, memperingati usia ke-20 Hakornas, menjadi refleksi terkait kepastian konsumen Indonesia yang belum mendapatkan haknya. Rolas meyakini penguatan perlindungan konsumen bisa dilakukan oleh aturan dan kemauan dari pemerintah.

“Mau dibawa kemana perlindungan konsumen Indonesia? Semua tergantung pada kemauan pemerintah. Sementara di luar negeri sendiri perlindungan konsumen sudah menjadi perhatian penting dari pemerintahnya. Misalnya dulu di AS itu Presiden John F Kennedy yang meminta langsung perlindungan konsumen,” jelasnya.

Dia menjelaskan, Hakornas sendir terhitung sejak keluarnya UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 tahun 1999. Pada 24 April 2012, pemerintah kemudian mengeluarkan Keppres Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Hari Konsumen Nasional yang jatuh setiap tanggal 20 April.

“Pada faktanya, sejak Kepres 12/2013 lahir, acara perayaan Harkonas pertama kali di lakukan oleh BPKN. Dan, selanjutnya dilakukan oleh kementrian Perdagangan. Sampai saat ini, presiden belum pernah hadir dalam acara peringatan ini,” tunjuk lelaki yang sedang menyelesaikan gelar doktor bidang konsumen dari Universitas Trisakti Jakarta ini.

Baca Juga: Kecelakaan Lion Air, Rolas Sitinjak: Pemerintah Perlu Audit Regulasi dan Mekanisme

Demi memperkuat perlindungan konsumen, lanjut Rolas, BPKN pada 10 Desember 2018 telah melakukan penandatanganan dengan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung. Hal tersebut, demi memperkuat perlindungan konsumen sekaligus menyamakan persepsi dan pemahaman atas isu perlindungan konsumen.

Menapaki awal perlindungan konsumen, Rolas yakin seharusnya pemerintah Indonesia juga bisa berkaca kepada pengalaman di AS. Dia bercerita, gerakan perlindungan konsumen dimulai dari kondisi perdagangan di Amerika Serikat (AS), yakni diawali gerakan-gerakan perlindungan konsumen (consumers movement)  pada awal abad ke-19. Pada, 1891 terbentuklah Persatuan Konsumen di New York. Kemudian, tahun 1898 terbentuk Persatuan Konsumen Nasional (The National Costumer’s League) di Amerika Serikat.

Organisasi ini, lanjutnya, berkembang pesat sehingga pada 1903 Persatuan Konsumen Nasional memiliki 64 cabang di 20 negara bagian. “Hasil perjuangan perrsatuan Konsumen Nasional tersebut adalah lahirnya Undang-Undang tentang perlindungan konsumen, yaitu The Meat Inspection Act dan The Food and DrugsActpada tahun 1906,” tunjuknya.

Isu perlindungan konsumen di AS semakin berkembang pada 1914 dengan ditandai dengan terbentuk komisi yang bergerak dalam bidang perlindungan konsumen, yaitu Federal Trade Comission (FTC).

Beberapa tahun kemudian, undang-undangThe Food and DrugsAct mengalami amandemen. Protes keras masyarakat pada tahun 1937 terhadap kasus obat yang mengandung exiler sulfanilamide menjadi penyebabnya. Kasus ini menyebabkan 93 orang meninggal dunia di Amerika Serikat. Tragedi ini pula yang lantas mendorong badan legislatif Amerika Serikat melakukan amandemen terhadap The Food and Drugs Act 1906 yang menghasilkan The Food, Drug, and Cosmetic Act

Akibat gerakan perlindungan konsumen di Amaerika, maka wakil-wakil gerakan konsumen dari Amerika, Inggris, Belanda, Australia, dan Belgia, pada 1 April 1960 berdirilah Internasional Organization Of Consumer Union(IOCU).

Pidato Declaration of Consumer Right oleh presiden John F Kennedy di hadapan kongres Amerika Serikat pada tanggal 15 Maret 1962 yang berjudul “A special Message for the Protection of Consumer Interest” memperkuat soal perlindungan konsumen. Dalam pidatonya, Kennedy meminta hak untuk memperoleh keamanan (the right to safety), hak untuk memilih (the right to choose), hak untuk memperoleh informasi (the right to be informed), dan hak untuk didengarkan (right to be heard).

Menurut Presiden Kennedy, konsumen memiliki hak memperoleh perlindungan atas keamanan produk dan jasa. Hal ini dikarenakan pelaku usaha acap kali tidak berorientasi pada konsumen dan atau membiarkan ketidak tahuan konsumen tentang hak hak konsumen yang sengaja ditutupi tutupi demi memperoleh laba.

Baca Juga: Masyarakat Andalkan Ojek, Rolas Sitinjak Minta Pemerintah Amandemen Aturan

Pasca 1965 lantas dikenal sebagai masa pemantapan gerakan perlindungan konsumen, baik di tingkat masing-masing negara maupun persatuan konsumen internasional. International Organization of ConsumerUnion (IOCU) menambahkan hak-hak konsumen yang telah dikemukakan oleh presiden Kennedy, berupa hak untuk mendapatkan ganti-rugi (the right to redress), dan hak mendapatkan pendidikan konsumen (the right to consumereducation).

Tidak sampai disitu saja, IOCU juga mengemukakan pendapatnya tentang pengaruh berkonsumsiterhadap lingkungan, yang kemudian dikenaldengan istilah the right to a healtyenvironmental (hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang bersih).

Dua dasawarsa kemudian setelah Kennedy menyampaikan pidato, pada tanggal 15 Maret 1983, maka Hari Hak Konsumen dirayakan untuk pertama kali, dan setelah perjalanan panjang gerakan konsumen sejak pidatonya, hak konsumen akhirnya diterima secara prinsip oleh pemerintah seluruh dunia dalam Sidang Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi PBB No 39/248(UN General Assembly) tanggal 9 April 1985. Pengakuan hak konsumen dilakukan melalui adopsi UN guidelines for Consumers Protection.

Sementara sejarah perlindungan konsumen di Indonesia mulai terdengar dan populer era 1970-an, dengan berdirinya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sebagai perintis advokasi konsumen pada 11 Mei 1973.

Rolas mengisahkan, setelah lahirnya YLKI, muncul beberapa organisasi yang berbasis perlindungan konsumen. Pada tahun 1988, berdiri Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) di Semarang dan bergabung sebagai anggota ConsumersInternational (CI) tahun 1990. Hingga akhirnya terbit Undang Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan berdirinya Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). Nah aturan ini seharusnya bisa diperkuat lagi demi keadilan seluruh rakyat Indonesia yang notabene menjadi konsumen.

Tags

Artikel Terkait

Close