DIDAKTIKANASIONAL

Theo L Sambuaga : Sosok Mantan Paskibraka Beruntung Dari Minahasa

Theo L Sambuaga Presiden Lippo Group, Mantan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional tahun 1968 dan 1969. (sigit artpro)

Jakarta Review – Pelatihan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), tampaknya menjadi bekal penting bagi para para anggotanya dalam meniti kehidupan. Tak hanya mampu baris berbaris dengan rapi, namun mental, wawasan kebangsaan dan sejumlah nilai-nilai positif lainnya sangat membekas dan terus terasah dalam sanubari mantan anggota paskibraka tersebut.

Ini misalnya dialami oleh Theo L Sambuaga Mantan Paskibraka Nasional tahun 1968 dan 1969. Lelaki kelahiran Manado 6 Juni 1949 ini telah malang melintang sebagai anggota DPR dan sempat dua kali menjadi menteri masing-masing Menteri Tenaga Kerja pada Kabinet Pembangunan VII (1998) dan Menteri Negara Perumahan dan Permukiman pada Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999).

“Coba dicek, kelihatannya hingga kini baru saya mantan Paskibraka yang pernah menjabat sebagai menteri,” ujar Suami dari Dra.Erna Soedaryati Soekardi ini kepada Derap Paskibraka.

Tak hanya dalam karir politik, dalam kiprahnya sebagai Paskibraka Nasional, sosok Theo juga memiliki prestasi yang unik. Politisi senior Partai Golkar ini adalah Paskibraka angkatan pertama yang bertugas di Istana Merdeka pada tahun 1968. Selain itu Presiden Lippo Group ini Mantan Paskibraka Nasional tahun 1969. Tahun 1968 saya mewakili Sulawesi Utara sementara tahun 1969 saya mewaliki DKI Jakarta.

“Saya beruntung bisa menjadi anggota Paskibraka hingga dua kali mewakili dua daerah yang berbeda. Barangkali hanya saya seorang yang sempat menjadi anggota Paskibraka Nasional hingga dua kali,” tuturnya.

Ayah dari Eddy Khrisna Patria Sambuaga dan Jerry Adithya Ksatria Sambuaga ini menuturkan saat itu mekanismenya belum ada seleksi seperti sekarang. Pada tahun 1968, saya direkrut langsung oleh Pemprov Sulut, saat itu saya sudah tamat SMA dan sudah kuliah tingkat pertama di sebuah perguruan tinggi di Jakarta.

“Saat itu belum ada ketentuan anggota paskibraka harus kelas 1 atau 2 SMA. Yang penting masih muda dan usianya belum 21 tahun. Saat itu umur saya 19 tahun dan sudah menjadi aktivis dan pimpinan pemuda pelajar dan mahasiswa Minahasa yang ada di Jakarta. Mungkin karena itu saya terpilih menjadi anggota Paskibraka,” cetusnya.

Yang menarik Theo juga beruntung saat bertugas menjadi Paskibraka dalam 2 tahun yang berbeda, dirinya masih sempat merasakan mengibarkan bendera pusaka.

“Lagi-lagi saya beruntung masih merasakan mengibarkan bendera pusaka, karena 1-2 tahun kemudian hanya bendera duplikat yang dikibarkan di setiap Upacara Peringatan HUT RI di Istana Negara,” jelasnya.

Soal format pelatihan lanjut Theo, sejak awal tahun 1968 format latihan paskibraka sudah seperti yang sekarang. Yang jelas kita diasramakan sekitar 14 hari di di Pusdiklat Kejaksaan Agung yang ada di Pasar Minggu. Sementara latihannya di Pusdiklat Hansip Salemba dekat Gedung Arsip dan Perpustakaan Nasional. Adapun latihannya pun sama yakni pemberian meteri peraturan baris-berbaris dan materi non PBB atau civic education seperti wawasan kebangsaan, disiplin, mental dan seterusnya.

Kini Theo dipercaya menjadi Presiden Lippo Group sebuah group usaha besar yang ada di Indonesia. CEO Lippo Group James Riady menilai pengalaman Theo yang sudah lama berkecimpung di DPR, dan juga di kabinet pemerintahan sebagai menteri penting untuk bisa mendukung rencana Lippo mengembangkan bisnisnya ke Indonesia bagian Timur. (win/derap paskibraka)

Tags

Artikel Terkait

Close