JAKREV.COM – Bek legendaris Italia, Alessandro Nesta memberikan pembelaan terbuka bagi juniornya, Alessandro Bastoni di tengah tekanan hebat jelang laga hidup-mati kualifikasi Piala Dunia 2026.
Mantan kapten Lazio dan AC Milan tersebut menegaskan dukungannya terhadap Bastoni yang belakangan menjadi sasaran kritik publik.
Ketegangan di Bergamo
Langkah Gli Azzurri menuju putaran final Piala Dunia sempat diwarnai kecemasan. Saat menjamu Irlandia Utara di Bergamo pada babak semifinal play-off, tim asuhan Italia butuh waktu hingga 55 menit untuk memecah kebuntuan.
Meski akhirnya menang 2-0 berkat gol Sandro Tonali dan Moise Kean, performa babak pertama Italia diakui Nesta cukup mengkhawatirkan. “Saya pun sempat merasa waswas melihat permainan di babak pertama,” ujar Nesta kepada Sky Sport Italia.
Nesta menilai, beban mental mengenakan jersey timnas Italia jauh lebih berat dibandingkan lawan mereka. “Kualitas individu kita memang unggul jauh, namun tekanan psikologis di babak play-off membuat para pemain terlihat tegang,” kata dia.
Tantangan Neraka di Zenica
Kemenangan atas Irlandia Utara mengantarkan Italia ke laga final melawan Bosnia dan Herzegovina yang akan digelar di Zenica, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Nesta memperingatkan bahwa laga tandang ini akan jauh lebih berat.
“Bosnia memiliki kualitas teknis yang lebih baik dibanding Irlandia Utara. Ditambah lagi, kita akan bermain di bawah tekanan suporter tuan rumah yang sangat fanatik. Kita harus benar-benar siap secara mental,” tegas peraih trofi Piala Dunia 2006 tersebut.
Pembelaan untuk Alessandro Bastoni
Fokus utama Nesta adalah situasi yang menimpa Alessandro Bastoni. Bek Inter Milan tersebut belakangan dihujani kritik dan ejekan karena dianggap melakukan simulasi (diving) yang menyebabkan Pierre Kalulu (Juventus) terkena kartu merah dalam laga liga domestik.
Meski ada desakan agar Bastoni dicoret dari skuat timnas sebagai sanksi moral, Nesta justru memuji profesionalisme sang pemain.
“Saya harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bastoni. Di tengah tekanan mental akibat kritik dan kondisi fisik yang belum 100% karena cedera, dia tetap tampil luar biasa kemarin,” puji Nesta.
Secara mengejutkan, Nesta juga mengakui sisi kelam dalam kariernya demi membela Bastoni.
“Banyak yang menganggap saya pemain yang sangat sportif, namun faktanya saya pun sering melakukan simulasi selama karier saya. Saya tidak akan pernah menggurui Bastoni soal moralitas. Bagi saya, dia pemain yang luar biasa.”
Nesta hanya memberikan satu catatan taktis, Bastoni dianggap kurang maksimal dalam membantu penyerangan jika ditempatkan sebagai bek tengah dalam formasi tiga bek sejajar.
Sebagai informasi, laga final play-off ini menjadi pertaruhan besar bagi Italia untuk mengamankan tiket ke turnamen sepakbola paling bergengsi di dunia, dengan nilai gengsi dan hak siar yang ditaksir mencapai triliunan rupiah (sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp3,4 triliun bagi ekonomi negara yang lolos).

