JAKARTA, jakrev.com – Pantai Indah Kapuk (PIK) selama ini identik dengan pusat kuliner kekinian dan pemandangan laut yang estetik. Namun, di balik kemegahan modernitasnya, kawasan di Penjaringan, Jakarta Utara ini menyimpan sisi humanis yang kental dengan nilai toleransi dan harmoni antarumat beragama.
Potensi “wisata tersembunyi” inilah yang diangkat dalam agenda Familiarization Trip (Famtrip) 2026 bertajuk “Wisata Keberagaman” pada Rabu (1/4/2026).
Sebanyak 50 peserta yang terdiri dari mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), serta kreator konten dari komunitas Jakut Hub, diajak menyelami wajah religius Jakarta Utara yang plural.
Kepala Suku Dinas Parekraf Jakarta Utara, Restuning Dyah Widyanti mengungkapkan bahwa PIK memiliki kekuatan narasi pariwisata yang lebih dari sekadar hiburan visual.
Menurutnya, berbagai rumah ibadah yang berdiri megah di kawasan ini adalah bukti nyata keberagaman yang hidup berdampingan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa PIK memiliki potensi wisata keberagaman yang sangat kuat. Di sini, nilai-nilai toleransi tumbuh dan dirayakan secara harmonis,” ujar Dyah dikutip dari laman resmi Pemprov DKI, Rabu (1/4/2026).
Perjalanan Spiritual: Dari Tzu Chi hingga Vihara Si Mian Fo
Eksplorasi dimulai dari Tzu Chi Center Jakarta. Bukan sekadar gedung megah, lokasi ini merupakan episentrum kemanusiaan yang mengenalkan peserta pada filosofi cinta kasih universal, mulai dari layanan kesehatan hingga aksi tanggap bencana.
Arsitektur bangunan yang tenang memberikan ruang refleksi tersendiri bagi para pengunjung.
Titik berikutnya adalah Masjid Al-Ikhlas PIK. Masjid yang menjadi oase bagi umat Muslim di tengah kawasan pesisir ini menarik perhatian berkat desain arsitekturnya yang mengadopsi gaya Turki.
Selain sebagai pusat ibadah, masjid ini juga menjadi ruang interaksi sosial yang hangat bagi masyarakat sekitar.
Petualangan religi ditutup dengan kunjungan ke Vihara Si Mian Fo Shen. Keberadaan altar Dewa Empat Wajah (Si Mian Fo) yang melambangkan keseimbangan hidup menjadi magnet bagi peserta.
Ornamen khasnya yang otentik menjadikannya salah satu titik paling ikonik untuk diabadikan melalui lensa kamera.
Mendorong Konten Positif tentang Toleransi
Melalui kegiatan ini, Sudin Parekraf Jakarta Utara berharap para mahasiswa dan kreator konten dapat menyebarkan pesan damai melalui platform digital mereka.
“Semoga lahir lebih banyak konten kreatif yang mengangkat tema harmoni religi sebagai kekuatan pariwisata kita,” ujar Dyah.
Al Fath (24), salah satu peserta, mengaku terkesan dengan pengalaman ini. Dia menilai kegiatan Famtrip memberikan perspektif baru bahwa Jakarta memiliki sisi spiritual yang kaya untuk dijelajahi.
“Sangat seru dan inspiratif. Ini membuka mata bahwa wisata di Jakarta tidak melulu soal mal, tapi juga soal belajar menghargai perbedaan,” pungkasnya.

