BerandaREHATLIFESTYLE & HIBURANSisi Lain Art Cruz di Album 'Into Oblivion' Lamb of God, Karya...

Sisi Lain Art Cruz di Album ‘Into Oblivion’ Lamb of God, Karya Perdana Pasca Berhenti Mabuk

JAKREV.COM – Drummer Lamb of God, Art Cruz membuka tabir emosional di balik proses kreatif album terbaru mereka bertajuk “Into Oblivion”.

Album ke-10 unit groove metal asal Virginia ini bukan sekadar pencapaian diskografi bagi Art, melainkan sebuah tonggak sejarah personal: ini adalah album pertamanya yang direkam dalam kondisi sepenuhnya sadar (sober).

Dalam wawancara terbaru bersama Loyal To The Craft, Art Cruz mengungkapkan bahwa “Into Oblivion” yang dirilis 13 Maret lalu melalui Epic Records dan Century Media, merupakan refleksi identitas dirinya yang paling murni.

Kejernihan Mental dan Sensorik

Setelah merayakan tiga tahun masa kedaulatan dirinya dari alkohol pada Januari lalu, Art mengaku merasakan sensasi yang jauh berbeda saat berada di studio. Baginya, terbebas dari ketergantungan alkohol membuat panca inderanya bekerja jauh lebih tajam.

“Emosi terasa sangat keras, saya merasakan segalanya lebih dalam. Bau di studio terasa lebih kuat, lampu terasa lebih terang. Saya senang bisa benar-benar ‘hadir’ kali ini karena itu mengubah seluruh pendekatan kreatif dan performa saya,” tutur Art, seperti dikutip Blabber Mouth.

Dia mengakui bahwa di masa lalu, prioritasnya kerap berantakan karena pengaruh alkohol. Namun, untuk “Into Oblivion”, Art melakukan persiapan fisik dan mental yang ekstrem, termasuk menjalani rejimen olahraga ketat selama enam bulan dan melakukan “detoks” media sosial untuk menjaga kemurnian ide.

Evolusi Identitas di Lamb of God

Bergabung dengan band sebesar Lamb of God bukanlah perkara mudah. Art mengenang perjalanannya melalui tiga album bersama Mark Morton dkk:

  1. Self-Titled (2020): Disebutnya sebagai “album aman”, di mana dia masih beradaptasi dengan metode kerja band setelah menggantikan Chris Adler.

  2. Omens (2022): Sebuah produksi besar di Hollywood yang menjadi ajang pembelajaran teknis baginya.

  3. Into Oblivion (2026): Puncak pencapaian personalnya. “Album ini adalah saya. Ini Art. Ini identitas saya,” tegasnya.

Art juga belajar untuk menurunkan ego. Dia memilih untuk lebih banyak mendengar daripada mendominasi. Filosofi “less is more” dia terapkan sepenuhnya dalam departemen drum di album ini, yang justru memberikan ruang bagi musik Lamb of God untuk bernapas lebih garang.

Produksi dan Respons Kritikus

Diproduseri oleh kolaborator setia Josh Wilbur, “Into Oblivion” direkam di beberapa lokasi ikonik, termasuk studio rumah gitaris Mark Morton dan studio legendaris Total Access di California.

Album ini langsung disambut pujian selangit. Metal Hammer dan Kerrang! memberikan apresiasi tinggi, sementara Associated Press menyebutnya sebagai “10 trek penuh kegarangan”. Kritikus menilai Lamb of God berhasil menyalurkan kegelisahan zaman ke dalam komposisi metal yang relevan dan intens.

Bagi Art Cruz, terlepas dari semua angka penjualan dan ulasan, album ini tetap menjadi karya favoritnya sepanjang masa. “Apa pun yang ada di album ini adalah apa yang seharusnya ada di sana. Tanpa pengaruh (alkohol), murni dari dalam diri saya,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan tulis nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

JANGAN LEWATKAN