Bakti BCA Dorong Tenun Sumba Naik Kelas dan Mampu Bersaing di Pasar Modern

Jakarta Review, Tanggerang – Bagi perempuan Sumba, menenun bukan sekadar keterampilan, melainkan identitas. Tradisi ini kini mendapat dukungan dari PT Bank Central Asia Tbk melalui program pelatihan wastra warna alam yang dijalankan Bakti BCA bekerja sama dengan Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI).
Program tersebut melibatkan 50 peserta dari empat komunitas penenun, yakni Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu, yang mayoritas merupakan perempuan berusia 25–45 tahun.
Diana Kalera Lena, penenun asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi penenun pertama dari desanya yang mengikuti pelatihan tersebut. Ia kemudian mengajak 13 penenun lain untuk bergabung.
Menurut dia, pelatihan ini membuka akses terhadap pengetahuan pewarna alami yang sebelumnya sulit diperoleh.
“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resepnya tidak dipublikasikan. Sejak ikut program Bakti BCA, kami diajarkan cara mengolah pewarna alami,” kata Diana dalam keterangan pers, Selasa (17/2/2026).
Sebelumnya, banyak penenun masih bergantung pada pewarna sintetis karena keterbatasan pengetahuan. Melalui pelatihan ini, mereka diperkenalkan pada bahan alami dan teknik pengolahan yang lebih terstruktur, sehingga mampu menghasilkan kain dengan nilai budaya dan ekonomi lebih tinggi sekaligus ramah lingkungan.
Diana mengaku manfaatnya langsung terasa. Penghasilan dari menenun kini membantu menopang kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak. Ia berharap tenun Sumba tidak lagi sekadar perlengkapan adat atau cenderamata, tetapi juga menjadi produk bernilai ekonomi yang dikenal luas.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan, program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya, tetapi juga memperluas akses pasar bagi para pengrajin.
Menurut Hera, para penenun Sumba merupakan penjaga warisan budaya Indonesia yang perlu mendapat dukungan agar mampu bersaing di pasar modern.
“Inisiatif ini diharapkan memperkuat posisi tenun Sumba sebagai simbol budaya yang lestari sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi para pengrajin lokal,” ujarnya.



