BerandaKORPORATMandiri Catatkan Laba Bersih Rp 20,6 Triliun di 2017

Mandiri Catatkan Laba Bersih Rp 20,6 Triliun di 2017

Jajaran Direksi Bank Mandiri foto bersama jelang Konprensi Pers Kinerja Keuangan triwulan Keempat 2017. (Istimewa)

Jakarta Review, Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berhasil membukukan laba bersih Rp 20,6 triliun pada akhir 2017 atau tumbuh 49,5 persen secara year on year (yoy). 11 anak usaha perseroan, memberikan kontribusi 10,8 persen atau Rp 22,4 triliun terhadap laba induk.

Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan, pencapaian tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 0,6 persen menjadi Rp 54,8 triliun dan peningkatan pendapatan atas jasa (fee based income) sebesar 16,4 persen menjadi Rp 23,3 triliun. Lalu, turun drastisnya rasio pencadangan Rp 24 triliun ke Rp 16 triliun.

“Pencadangan peak-nya di 2016, di 2017 2,2 persen sampai 2,3 persen, tahun ini 2 persen. Jadi, ada ruang untuk peningkatan laba di 2018 bisa 10 persen hingga 20 persen. Kenaikan laba juga didukung kenaikan fee based income, efisiensi, NII yang tumbuh 5 persen hingga 6 persen. Selain itu, ada restrukturisasi dan write off dari hutang bermasalah,” ujar Kartika dalam paparan kinerja di Jakarta, Selasa (6/2).

Menurut Kartika, adapun penyaluran kredit sepanjang tahun lalu tercatat sebesar Rp 729,5 triliun atau naik 10,2 persen secara yoy, dimana kontribusi pembiayaan produktif sebesar 74,7 persen dari total portofolio. Kinerja tersebut, berhasil mendongkrak nilai aset perseroan menjadi Rp 1.124,7 triliun pada akhir tahun lalu.

“Kredit tahun ini ditargetkan tumbuh 11 persen hingga 12 persen. Ekonomi tumbuh 5,07 persen di 2017 ada optimisme pertumbuhan ekonomi bisa 5,2 persen dan akan membawa iklim pertumbuhan kredit lebih baik. Tapi rasanya tumbuh double digit, tapi masih kecil. Untuk segmen koprorasi yang jadi andalannya di sektor infrastruktur, perkebunan khususnya sawit, komoditas dan konsumer,” ujar Kartika seraya menambahkan bahwa suku bunga akan lebih bersaing ketat di tahun ini.

Sementara, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) turun dari 4 persen pada 2016 menjadi 3,46 persen. “Dari 2016 kredit bermasalah terus menerus turun, tapi butuh waktu 1-2 tahun di 2019-2020. Pendekatannya bisa dengan restrukturisasi, penjualan aset, kepailitan, dan terakhir ranah hukum. Kalau untuk tahun ini, targetnya turun ke 2,6 persen hingga 2,8 persen,” ucapnya.

Terkait kredit, Kartika menambahkan, peningkatan kredit produktif tercermin dari penyaluran kredit modal kerja yang naik 4 persen menjadi Rp 335,9 triliun dan kredit investasi yang mencapai Rp 208,7 triliun, naik 12,9 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Untuk sektor infrastruktur, Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp 141,0 triliun atau 58,7 persen dari total komitmen yang telah diberikan sebesar Rp 240,1 triliun. Kredit tersebut disalurkan kepada delapan sektor utama yakni Transportasi (Rp 31,3 triliun), Tenaga Listrik (Rp 31,3 triliun), Migas & Energi Terbarukan (Rp 18,4 triliun), Konstruksi (Rp 15,5 triliun), Perumahan Rakyat & Fasilitas Kota (Rp 10,6 triliun), Telematika (Rp 9,3 triliun), Jalan (Rp 7,6 triliun) dan lainnya (Rp 10,8 triliun).

Pertumbuhan laba secara bisnis sambungnya dikontribusikan oleh dua segmen utama, yakni korporat dan ritel, terutama kredit mikro dan konsumer. Pada tahun 2017, pembiayaan segmen korporasi mencapai Rp 264,2 triliun, naik 14,7 persen yoy sedangkan kredit retail tumbuh 13,7 persen yoy menjadi Rp 223,2 triliun. Khusus segmen mikro, perseroan telah memberikan kredit kepada 1.263.666 debitur senilai Rp 61,9triliun, naik 22,2 persen dari tahun sebelumnya.

Sepanjang tahun 2017 Bank Mandiri juga telah memberikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 13,3 triliun, atau mencapai 102,6 persen dari target. Secara kumulatif, hingga Desember 2017 Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp 48,3 triliun kepada 995.352 debitur.

“Hingga akhir tahun lalu, pengumpulan dana murah perseroan tercatat bertambah Rp 50,9 triliun, setara dengan kenaikan 10,4 persen yoy menjadi Rp 540,3 triliun. Pertumbuhan itu ditopang oleh peningkatan tabungan sebesar Rp 34,6 triliun menjadi Rp 337,0 triliun, dan kenaikan giro sebesar Rp 16,3 triliun menjadi Rp 203,4 triliun. Sedangkan cost of fund juga berhasil kami turunkan menjadi 2,73 persen dari posisi akhir tahun lalu 2,93 persen,” tambah Kartika.

Sumber: Suara Pembaruan

BERITA TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan tulis nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

[Jakarta Review

JANGAN LEWATKAN