OLAHRAGA

Curhat Fabio Cannavaro, dari Sensasi Kopi Napoli hingga Mimpinya Tukangi Gli Azzurri

Fabio Cannavaro buka suara soal impian latih Timnas Italia dan rasa penasarannya usai didepak Udinese walau sukses selamatkan tim.

JAKREV.COM – Kapten Timnas Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006, Fabio Cannavaro secara terbuka mengungkapkan impian utamanya dalam karier kepelatihan. Dia menegaskan target besarnya adalah kembali berkarier di negeri sendiri dan suatu saat nanti mengarsiteki Timnas Italia.

Pria 53 tahun itu kini menangani Timnas Uzbekistan, skuat yang dia pimpin selama putaran final Piala Dunia 2026. Meski menikmati petualangannya di Asia, Cannavaro tak memungkiri bahwa tempat terbaiknya berada di Italia.

“Target dan mimpi saya, hal yang wajar sebenarnya, adalah melatih di Italia dan menangani tim nasional,” kata Cannavaro dalam wawancaranya di program Calcio Unplugged milik Sky Sport Italia, seperti dikutip dari TuttoMercatoWeb.

Cannavaro menambahkan, kiprahnya melanglang buana ke Asia bukan semata-mata mencari pengalaman bertualang, melainkan bagian dari proses menempa diri agar siap memikul tanggung jawab besar di masa depan.

Ganjalan di Udinese dan Rindu Adrenalin Klub

Satu-satunya pengalaman Cannavaro memimpin tim Serie A sejauh ini terjadi di Udinese. Saat itu, dia ditunjuk pada lima laga tersisa musim 2023-2024 dan sukses menyelamatkan klub dari jurang degradasi di pekan terakhir. Namun, manajemen Udinese secara mengejutkan memilih tidak memperpanjang kontraknya.

“Saya sempat merasakan atmosfer Serie A dalam lima pertandingan dan menyelamatkan Udinese. Biasanya, 99 persen klub akan mempertahankan Anda. Tapi bersama saya, mereka mengambil keputusan berbeda dan saya menerimanya,” tuturnya.

Meski tidak pernah mendapat penjelasan pasti soal alasan pemberhentiannya, Cannavaro memilih mengambil sisi positif. Menurutnya, pengalaman singkat di Udinese memberi pelajaran berharga tentang bagaimana bekerja di klub papan atas Italia.

Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah Udinese memecat Kosta Runjaic dan menunjuk Paolo Zanetti sebagai pelatih anyar.

Sebelum berlabuh di Uzbekistan, Cannavaro sudah mengantongi rekam jejak internasional dengan melatih Al-Nassr di Arab Saudi, Guangzhou Evergrande, serta Timnas China.

Dia tidak menyesali pilihan tersebut karena jangkauan karier internasional justru membentuk kedewasaannya sebagai juru taktik.

Meski begitu, Cannavaro tidak memungkiri ada kerinduan mendalam pada rutinitas harian di level klub yang memberikan tensi tinggi setiap harinya.

Sensasi Kopi Napoli di Level Tim Nasional

Mengenai kelanjutan masa depannya di Uzbekistan yang kini mengambang menyusul penundaan Piala Asia 2027, Cannavaro mengaku sudah bertemu dengan pihak federasi.

Dia memuji komitmen Uzbekistan yang berinvestasi besar pada pembinaan usia muda, bahkan dia tak ragu memberikan debut kepada pemain berusia 17 tahun di pemusatan latihan terakhir.

Namun, dia memberikan tamsil unik untuk menggambarkan perbedaan peran antara melatih klub dan tim nasional.

“Bekerja sebagai pelatih tim nasional itu ibarat menyeruput kopi Napoli. Singkat, Anda cuma punya waktu sekitar 10 hari tanpa boleh buat kesalahan sedikit pun, dan harus segera menemukan solusi. Itu sangat menantang,” jelasnya.

Kerinduan akan adrenalin harian di klub, berinteraksi langsung setiap hari dengan pemain untuk membantu perkembangan mereka, menjadi alasan utama mengapa dia sangat berambisi kembali ke Italia dalam waktu dekat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button