JAKREV.COM – Kegagalan Timnas Italia melangkah ke Piala Dunia untuk kali ketiga secara beruntun menjadi tamparan keras bagi publik sepakbola Negeri Pizza.
Mantan pelatih AC Milan, Fabio Capello akhirnya angkat bicara dan memberikan analisis tajam mengenai “penyakit” yang sedang menggerogoti sepak bola Italia saat ini.
Dalam sebuah wawancara mendalam bersama La Gazzetta dello Sport, Capello menyebut bahwa kegagalan Italia bukan sekadar nasib buruk di lapangan. Menurutnya, ada masalah fundamental yang berakar dari sistem pembinaan pemain muda yang salah kaprah.
Penyakit yang Belum Tersembuh
Kekalahan menyakitkan lewat adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina pada pekan lalu memastikan Italia absen lagi di panggung dunia.
Walaupun format Piala Dunia kini telah diperluas, Azzurri tetap tak mampu bersaing. Capello menilai ini adalah tanda adanya masalah sistemik.
“Jika kita tidak bisa lolos bahkan setelah ekspansi Piala Dunia, itu berarti kita punya masalah besar. Kita harus melakukan sesuatu yang berbeda dan mencari jalan lain. Gagal lolos tiga kali berturut-turut berarti ada penyakit yang belum tersembuh,” ujar Capello, yang juga pernah menangani AS Roma dan Real Madrid tersebut.
Hilangnya Semangat Tim dan Intensitas Permainan
Capello menyoroti perbedaan mencolok antara gaya main di kompetisi domestik Italia dengan standar internasional. Menurutnya, pemain Italia terlalu terbiasa dengan ritme lambat yang tidak lagi relevan di sepakbola modern.
-
Intensitas: Di Italia, pemain lebih banyak berjalan dan jogging, sementara di negara lain mereka berlari dan melakukan sprint.
-
Kecepatan Berpikir: Pemain dituntut memiliki teknik tinggi untuk mengantisipasi alur bola dan melakukan kontrol cepat, hal yang kini mulai luntur di Italia.
-
Hilangnya “Blok” Klub: Dulu, Timnas Italia dibangun dari blok-blok pemain klub besar (seperti blok Juventus atau Milan). Sekarang, pemain tersebar di mana-mana sehingga sulit membangun semangat kebersamaan tim.
Kritik Pedas untuk Pelatih Usia Dini
Poin paling krusial dalam analisis Capello adalah mengenai kesalahan di sektor pembinaan pemain muda. Dia merasa miris melihat anak-anak usia 12 tahun sudah dipaksa mengikuti skema taktis yang rumit layaknya pemain profesional.
“Kesalahan paling serius terletak di sektor pemuda. Mereka menerapkan ‘skema’ pada anak usia 12 tahun. Saya sering bertanya kepada pelatih di sana, apakah mereka memberikan latihan yang sama dengan profesional? Mereka menjawab ‘Iya’ dengan bangga. Sejujurnya, saya ingin memecat pelatih-pelatih seperti itu,” cetus Capello.
Menurutnya, sepakbola anak-anak seharusnya fokus pada kesenangan dan penguasaan teknik dasar, bukan diagram taktik.
“Mengajarkan skema taktis jauh lebih mudah daripada mengajarkan teknik individu. Itulah kekurangan kita. Kita tidak memiliki guru yang mumpuni untuk memahami kekurangan pemain, perubahan fisik, hingga detail kecil seperti ukuran kaki,” tuturnya.
Rencana 10 Tahun untuk Bangkit
Menatap masa depan, Capello tidak memberikan janji manis. Dia menegaskan bahwa siapapun pelatih Italia berikutnya tidak akan bisa memberikan perubahan instan jika kualitas pemain yang tersedia memang minim.
Italia membutuhkan rencana jangka panjang, setidaknya 10 tahun, untuk membenahi fundamental sepakbola mereka.
Namun, saat ditanya apakah dia bersedia turun tangan membantu FIGC (Federasi Sepakbola Italia) untuk memperbaiki kekacauan ini, Capello menjawab dengan singkat sambil berseloroh.
“Di usia saya sekarang? Apa Anda gila?” pungkasnya menutup pembicaraan.

