JAKREV.COM – Sebuah drama luar biasa terungkap di balik kegagalan Timnas Italia pada babak play-off Piala Dunia 2026.
Gianluigi Donnarumma, yang sempat tertangkap kamera mengamuk hebat setelah kekalahan dramatis dari Bosnia-Herzegovina, ternyata memiliki alasan kuat di balik kemarahannya.
Kiper andalan Azzurri tersebut menjadi korban aksi “pencurian” tak terduga.
Laga yang berlangsung di Zenica tersebut menyisakan luka bagi Italia. Setelah bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu meski bermain dengan 10 orang, nasib jawara Euro 2020 itu harus ditentukan lewat adu penalti.
Biasanya, Donnarumma adalah sosok pahlawan dalam situasi adu penalti, persis seperti saat dia membungkam Inggris di final Euro 2020. Namun, dalam laga krusial kali ini, dia tampak kehilangan arah dan tidak mampu menebak satu pun arah bola pemain Bosnia.
Tuduhan Salah Sasaran di Tengah Lapangan
Sesaat setelah adu penalti berakhir, Donnarumma terlihat meledak dalam amarah dan berteriak ke arah kiper Bosnia, Nikola Vasilj. Saat itu, dia menuduh Vasilj telah mencuri “catatan sontekan” (cheat sheet) yang dia sembunyikan di bawah handuknya sebelum adu penalti dimulai.
Sebagai bentuk balasan, Donnarumma bahkan sempat mencoba merobek daftar indikasi penendang lawan milik Vasilj.
Namun, fakta mengejutkan baru saja terungkap bahwa pelakunya bukanlah kiper lawan, melainkan seorang remaja berusia 14 tahun yang bertugas sebagai pemungut bola (ball boy).
Pengakuan Afan Cizmic sang Pencuri Rahasia
Remaja tersebut diketahui bernama Afan Cizmic, pemain tim muda Celik. Dalam wawancaranya dengan stasiun televisi lokal pada Senin (6/4/2026) malam WIB, Cizmic mengakui semua perbuatannya dengan polos.
“Saya melihat ada sesuatu di dekat handuk (Donnarumma) dan langsung menyadari apa itu. Saya mengambilnya dan menyembunyikannya,” ujar Cizmic dikutip Football Italia.
Cizmic menjelaskan bahwa kertas tersebut berisi daftar lengkap arah tendangan para pemain Bosnia. “Tanpa daftar itu, Donnarumma terpaksa hanya mengandalkan insting, dan itu menguntungkan kami,” ungkapnya.
Antara Sportivitas dan Gelar Maskot Nasional
Meski aksi ini dianggap sebagai perilaku yang tidak sportif oleh sebagian pengamat sepakbola internasional, publik Bosnia justru melihatnya sebagai aksi heroik yang membantu negara mereka menyingkirkan raksasa sepakbola dunia.
Banyak pendukung Bosnia kini menyuarakan agar Cizmic diberikan penghargaan khusus. Mereka bahkan mendesak Federasi Sepakbola Bosnia untuk membawa remaja ini ke putaran final Piala Dunia sebagai maskot resmi tim, sebagai imbalan atas “kecerdikannya” melumpuhkan konsentrasi Donnarumma.
Sejauh ini, pihak Timnas Italia belum memberikan komentar resmi terkait pengakuan mengejutkan dari sang anak gawang. Namun yang pasti, hilangnya catatan kecil tersebut telah mengubah sejarah perjalanan Azzurri menuju panggung dunia.

