Randy Blythe Hapus Media Sosial, Vokalis Lamb of God Pilih Nikmati Hidup Nyata
Randy Blythe hapus media sosial, sebut hater tak ada lagi. Vokalis Lamb of God ini pilih nikmati hidup nyata dibanding kejar likes.

JAKREV.COM – Vokalis band heavy metal Lamb of God, Randy Blythe mengambil langkah tegas dengan menutup seluruh akun media sosial pribadinya. Keputusan ini dia ambil karena tidak ingin lagi pusing memikirkan komentar negatif maupun ulah para perundung (troll) di dunia maya.
Saat hadir dalam wawancara di acara podcast Australia The Break Down With Nath & Johnny, baru-baru ini, Randy sempat ditanya mengenai tanggapannya terhadap kritik pedas netizen di platform digital.
Jawaban sang musisi cukup santai namun menohok. Dia menegaskan bahwa komentar-komentar buruk itu sudah tidak lagi tersampaikan kepadanya.
“Merek tak bisa lagi berkomentar, karena saya sudah menghapus media sosial saya. Para troll internet itu sudah tidak ada bagi saya,” ujar Randy.
Hanya Tersisa Substack Berbayar
Meskipun sudah angkat kaki dari platform jejaring sosial populer, Randy mengaku masih mengelola platform Substack. Namun, kolom komentar di akun miliknya tersebut dipagari secara khusus dan hanya bisa diakses oleh pelanggan berbayar.
Langkah ini dia lakukan bukan tanpa alasan. Menurutnya, jika ada orang yang tetap berkeras ingin melontarkan cacian atau hinaan, setidaknya mereka harus mengeluarkan uang terlebih dahulu.
“Kalau kamu mau menghina saya, kamu harus bayar saya dulu. Setelah itu tetap akan saya blokir, tapi setidaknya kamu sudah bayar. Ini bisnis,” ucap Randy bernada kelakar.
Kritik Pertemanan Semu di Dunia Maya
Pandangan Randy soal dampak negatif teknologi sejatinya bukan hal baru. Dalam kesempatan wawancara terpisah di The Midlife Makeover Show, dia sempat menyoroti tingkat kecanduan masyarakat terhadap gawai pintar yang kian memprihatinkan.
Randy menegaskan bahwa dirinya bukanlah sosok yang anti-teknologi atau Luddite. Dia tetap memanfaatkan kemajuan teknologi untuk berkomunikasi dengan kerabatnya di berbagai belahan dunia. Hanya saja, dia menilai interaksi digital tidak akan pernah bisa menggantikan kontak fisik secara langsung antarmanusia.
Lewat tatap muka, ada empati, bahasa tubuh, serta ekspresi emosional yang bisa dirasakan secara langsung. Hal-hal mendasar seperti itu sirna begitu saja ketika interaksi hanya dijembatani oleh layar kaca.
Dia juga mempertanyakan nilai dari ribuan pengikut di media sosial jika tidak bisa diandalkan dalam kehidupan nyata. Randy memberi perumpamaan sederhana, ketika seseorang mengalami kendala seperti ban mobil meletus di tengah jalan, belum tentu ratusan teman di dunia maya mau datang membantu secara langsung.
Memilih Hadir Secara Utuh di Kehidupan Nyata
Bagi Randy, ponsel pintar sudah menjadi semacam barang wajib yang diandalkan untuk segala urusan. Padahal, obsesi mengejar likes dan popularitas di dunia maya justru berisiko menyita waktu serta perhatian dari hal-hal yang jauh lebih bermakna.
Musisi yang gemar berselancar dan fotografi ini menyebut bahwa gambar di layar ponsel tidak akan pernah bisa menyamai pengalaman nyata. Melihat pemandangan alam secara langsung di lokasi tentu memberikan sensasi yang jauh berbeda dibanding sekadar menyimaknya lewat layar gawai.
Randy pun mengajak masyarakat untuk menjadikan teknologi sebagai alat bantu menjelajahi dunia nyata, bukan malah menjadi tujuan utama.
Ketika sedang melakukan tur konser ke berbagai negara, dia biasa memanfaatkan mesin pencari untuk menemukan museum menarik atau kuliner lokal, lalu kembali mengantongi ponselnya untuk benar-benar menikmati momen tersebut.
Dia berharap, kelak saat berada di penghujung usianya, dia tidak menyesali masa hidupnya hanya karena terlalu banyak menatap layar ponsel dan berburu popularitas semu di media sosial.



